Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Kemiskinan yang tidak Fotogenik

Arista Aulia, mahasiswa Jurnalistik, UIN Jakarta
08/1/2026 18:43
Kemiskinan yang tidak Fotogenik
Arista Aulia(DOK PRIBADI)

KEMISKINAN kerap hadir di ruang publik bukan sebagai realitas sosial yang kompleks, melainkan sebagai citra. Ia muncul dalam potongan gambar anak kecil dengan pakaian lusuh, rumah reyot berlatar senja, atau wajah lelah yang dibingkai narasi haru. 

Representasi semacam itu terasa akrab, bahkan dianggap wajar. Namun, justru di sanalah persoalannya bermula. Ketika kemiskinan dipersempit menjadi visual yang menyentuh, ia berisiko kehilangan konteks, suara, dan martabat.

Dalam ekosistem media digital hari ini, penderitaan sering kali harus tampil fotogenik agar dianggap layak diperhatikan. Konten tentang kemiskinan yang mendapat atensi luas umumnya adalah yang memenuhi selera emosi penonton, yakni mengharukan, mengundang iba, atau berujung pada rasa syukur karena “hidup kita masih lebih baik”. Praktik ini kerap disebut sebagai poverty porn, yakni eksploitasi visual kemiskinan untuk konsumsi emosional publik.

Masalahnya bukan semata pada niat individu yang membuat atau membagikan konten tersebut. Banyak yang mengeklaim ingin membantu, menyadarkan, atau berbagi realita. 

Namun, dalam logika media berbasis atensi, kemiskinan sering direduksi menjadi komoditas emosional. Ia dinilai bukan dari urgensi strukturalnya, melainkan dari sejauh mana ia mampu memancing simpati, klik, dan keterlibatan.

Susan Sontag, dalam Regarding the Pain of Others, mengingatkan bahwa representasi penderitaan tidak pernah netral. Gambar orang menderita tidak otomatis menghasilkan empati yang kritis, ia justru dapat menciptakan jarak, bahkan rasa superior moral pada penonton. Dalam konteks ini, kemiskinan menjadi tontonan, sementara relasi kuasa antara yang melihat dan yang dilihat tetap tidak disentuh.

Isu Kompleks Kalah dengan yang Estetis

Yang jarang dibicarakan adalah bahwa tidak semua kemiskinan layak tayang. Kemiskinan yang tidak dramatis, tidak visual, dan tidak mudah disederhanakan sering kali terpinggirkan. 

Pekerja informal yang kelelahan, keluarga yang terus bertahan tanpa kisah heroik, atau individu yang menolak diekspos demi harga diri, mereka jarang mendapat ruang. Akibatnya, publik mengenal kemiskinan bukan sebagai kondisi struktural, melainkan sebagai fragmen emosional yang terkurasi.

Di sinilah persoalan etis muncul. Ketika kemiskinan hanya dipahami melalui citra-citra tertentu, respons yang lahir pun menjadi dangkal. 
Bantuan dipersonalisasi, solusi disederhanakan, dan akar persoalan seperti ketimpangan akses, relasi kuasa ekonomi, kebijakan yang timpang malah menghilang dari percakapan. Kemiskinan seolah menjadi masalah individu, bukan hasil dari struktur sosial yang lebih luas.

Pierre Bourdieu pernah menekankan bahwa bahasa dan representasi adalah bentuk kekuasaan simbolik. Siapa yang berhak berbicara tentang kemiskinan, dan bagaimana kemiskinan diceritakan, sangat menentukan cara publik memaknainya. Ketika suara orang miskin digantikan oleh narasi pihak luar seperti media, kreator konten, atau bahkan institusi, mereka kehilangan agensi atas kisahnya sendiri.

Fenomena ini juga berkaitan erat dengan logika platform digital. Algoritma tidak bekerja atas dasar keadilan sosial, melainkan keterlibatan. Konten yang memicu emosi kuat lebih mudah disebarkan, sedangkan analisis struktural dianggap 'tidak menarik'. Dalam situasi ini, kemiskinan yang kompleks kalah oleh kemiskinan yang estetis.

Tuntut Representasi Adil

Sebagai mahasiswa, kelompok yang sering diposisikan sebagai agen perubahan, refleksi atas praktik ini menjadi penting. Bukan untuk menghakimi niat baik, melainkan untuk mempertanyakan posisi kita. 

Apakah kita sedang membangun kesadaran, atau justru mereproduksi relasi kuasa yang sama dengan kemasan baru? Apakah empati yang kita rasakan mendorong perubahan struktural, atau sekadar membuat kita merasa lebih bermoral?

Kritik terhadap poverty porn bukan berarti menolak representasi kemiskinan sama sekali. Justru sebaliknya, ia menuntut representasi yang lebih adil, kontekstual, dan manusiawi. Representasi yang memberi ruang bagi subjek untuk berbicara, bukan sekadar ditampilkan. Representasi yang tidak hanya bertanya “seberapa menyedihkan”, tetapi juga “mengapa kondisi ini dibiarkan”.

Pada akhirnya, kemiskinan bukan soal kurangnya keharuan, melainkan kurangnya keadilan. Selama kemiskinan terus diperlakukan sebagai objek visual dan emosional, upaya untuk memahaminya secara utuh akan selalu terhambat. Mungkin yang perlu kita tanyakan bukan lagi bagaimana menampilkan kemiskinan agar menyentuh, melainkan bagaimana berhenti mengonsumsinya sebagai tontonan.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya