Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa kondisi cuaca ekstrem berupa curah hujan sangat tinggi akan terus bertahan hingga Maret-April 2025. Situasi ini disebabkan oleh fenomena La Nina yang tertunda dan berlangsung lebih panjang. Konsekuensinya, masyarakat Indonesia diimbau untuk tetap waspada terhadap dampak dari cuaca ekstrem seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang yang akan merusak permukiman atau bahkan memakan korban.
Tren semakin banyak kondisi cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir merupakan konsekuensi dari perubahan iklim. Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan seluruh belahan dunia dengan dampak yang bervariasi seperti kemarau berkepanjangan, gelombang panas, curah hujan sangat tinggi, dan badai siklon. Menurut World Meteorological Organization (WMO), perubahan iklim yang memburuk memicu cuaca ekstrem serta meningkatkan risiko bencana bagi kelompok rentan.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan anak muda. Studi The Lancet menunjukkan bahwa tiga perempat dari mereka yang berusia 16–25 tahun di 10 negara takut terkait masa depan bumi. Lebih dari setengahnya percaya bahwa umat manusia akan hancur. Namun, sebagian anak muda memilih menghadapi tantangan ini dengan aktif menghadapi perubahan iklim melalui pendekatan khas generasi ini, glokalisasi.
Ethan Goffman dalam artikelnya pada jurnal ilmiah Sustainability: Science, Practice, & Policy mengajukan konsep glokalisasi sebagai jawaban untuk kompleksitas jalinan isu lingkungan yang bersifat lokal dan global di saat yang bersamaan, serta diakselerasi oleh perilaku manusia. Secara singkat, glokalisasi berarti hidup secara lokal dan berpikir secara global dalam menghadapi suatu isu.
Di Indonesia, hal ini berarti menggabungkan kearifan lokal yang sudah mengakar serta diwariskan secara turun-temurun dan solusi global yang dapat memperkaya perspektif serta cara bertindak berkat era informasi. Dalam praktiknya, hal ini berbentuk perilaku yang berfokus pada komunitas sekitar, baik urban atau rural, tetapi tetap memiliki wawasan yang mendunia di tengah meningkatnya keterkaitan antara tindakan lokal dan dampak global. Anak muda didorong untuk hidup jauh lebih lokal, tetapi berpikir jauh lebih global dalam menghadapi masalah lingkungan.

Para anak muda secara aktif berupaya mengadvokasikan darurat iklim agar memiliki urgensi yang sama dengan masalah darurat lainnya. Salah satu bentuk paling umum dalam upaya tersebut adalah dengan berpartisipasi dalam dengar pendapat, konsultasi, atau lokakarya bersama institusi berwenang dalam isu ini.
Selanjutnya, jika tidak mendapatkan pengakuan dari pembuat kebijakan, mereka biasanya menggunakan media untuk kampanye publik, baik secara tradisional maupun digital. Tujuannya menyoroti kekhawatiran mereka dan meningkatkan kesadaran masyarakat.
Strategi yang dilakukan adalah menyorot isu-isu lokal yang memiliki implikasi global. Advokasi dipersempit dengan mengangkat isu-isu lokal, seperti pembangunan kota berkelanjutan atau sustainable cities serta pola konsumsi dan produksi sehari-hari yang ramah lingkungan.
Hal tersebut dicontohkan oleh gerakan Fridays for the Future (FFF) di Jerman yang mayoritas anggotanya perempuan, peserta aksi pemula, dan berbasis pada media sosial. Setelah puncak aksinya pada 2018, mereka mempertahankan momentumnya pada 2024 dengan berpartisipasi pada aksi mogok serikat pekerja transportasi publik ver.di.
Aliansi yang bertema Kita berkendara bersama ini dipilih karena ada keterkaitan antara upaya pengurangan emisi dan urgensi dukungan pemerintah untuk manajemen transportasi publik yang lebih baik.
Tanggung jawab kita sebagai anak muda adalah memulai upaya advokasi ini dari komunitas sekitar terlebih dahulu. Di Indonesia, pendekatan glokalisasi dapat diterapkan dengan mendokumentasikan tradisi masyarakat dalam pelestarian lingkungan dan pengetahuan tradisional dalam merespons cuaca ekstrem.
Cara lain yang dapat dilakukan adalah menggabungkan kearifan lokal dan data ilmiah untuk memetakan kerentanan, zona aman, dan sumber daya komunitas dalam kejadian cuaca ekstrem. Selain itu, kita dapat meneliti struktur bangunan tradisional warisan turun-temurun yang terbukti tahan terhadap kondisi cuaca lokal.
Glokalisasi berperan memanfaatkan keahlian dan data global untuk memberdayakan komunitas sekitar kita. Jika pemerintah bergerak lambat, ambil inisiatif dengan berorganisasi, mengedukasi, dan berinovasi, sambil menuntut akuntabilitas dari pihak berwenang.
Gandeng BMKG, PT KAI Pantau Cuaca Demi Keselamatan Perjalanan Kereta Api Masa Angkutan Lebaran 2026
Berdasarkan analisis BBMKG Denpasar, monsun Asia diprakirakan masih akan memberikan pengaruh kuat disertai dengan terbentuknya pola pertemuan angin
Hasil analisis BMKG memperlihatkan kemunculan gelombang frekuensi rendah dan gelombang ekuatorial Rossby yang aktif di sekitar wilayah NTB
Potensi cuaca ekstrem di Jawa Tengah, cukup merata di kawasan pegunungan, dataran tinggi, Jawa Tengah bagian timur, Pantura, dan Solo Raya.
New York City berduka setelah 18 orang tewas akibat suhu beku ekstrem yang melanda selama 13 hari.
BMKG memperingatkan potensi hujan lebat disertai angin kencang dan petir di sejumlah wilayah Sulawesi Utara hingga 15 Februari 2025.
Ilmuwan temukan fakta mengejutkan dari fosil telinga ikan: rantai makanan terumbu karang menyusut drastis akibat aktivitas manusia. Simak dampaknya!
Yosep meneliti pengetahuan, sikap, dan praktik anak muda terkait perubahan iklim. Temuannya menunjukkan bahwa tingkat pemahaman masyarakat Indonesia masih sekitar 50 persen.
Studi terbaru Smithsonian mengungkap ekosistem terumbu karang modern kehilangan kompleksitas ekologi dibandingkan 7.000 tahun lalu. Rantai makanan kini memendek drastis.
Peneliti menemukan penurunan kadar garam di Samudra Hindia bagian selatan. Fenomena ini mengancam sistem sirkulasi laut global dan iklim dunia.
Ilmuwan temukan jutaan bakteri dan jamur "pelindung" di dalam pohon ek yang tetap stabil meski dilanda kekeringan ekstrem.
Ilmuwan temukan deposit granit raksasa terkubur di bawah Gletser Pine Island, Antartika. Penemuan ini memecahkan misteri batuan purba sekaligus kunci prediksi kenaikan permukaan laut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved