Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
DAMPAK perubahan iklim telah menjadi ancaman serius bagi kehidupan anak-anak dan pemuda. Studi yang dilakukan oleh Save the Children pada tahun 2020 menemukan bahwa anak-anak yang lahir pada tahun 2020 mengalami bencana sebanyak 3,4 kali lebih sering daripada kakek-nenek mereka yang lahir pada tahun 1960.
Bencana tersebut melibatkan perubahan iklim seperti gelombang panas, kekeringan, kebakaran hutan, banjir, dan kegagalan panen, memberikan tekanan tambahan pada lingkungan yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perlindungan anak-anak. Studi lain yang dilakukan oleh UNICEF menyoroti bahwa perubahan iklim merupakan ancaman terbesar terhadap kesehatan, nutrisi, pendidikan, dan masa depan anak-anak.
Dalam hal ini, banyak kemudian anak-anak muda yang bergerak sesuai dengan kapasitasnya untuk bersama-sama menyelamatkan bumi dari krisis iklim dan dampaknya yang terus memburuk. Salah satunya Pendiri Papua Trada Sampah Dina Danomira. Lewat organisasi yang didirikannya sejak 2018, Dina bersama dengan anak-anak muda lainnya bergerak untuk mengatasi permasalahan sampah yang ada di tanah Papua.
Baca juga : Generasi Z Harus Ambil Bagian dalam Upaya Mitigasi Perubahan Iklim
“Papua Trada sampah merupakan wadah agar pemuda Papua bisa mengeluarkan keresahan tentang permasalahan lingkungan yang ada di tanah Papua. Kita menggunakan cara yang lebih positif untuk meluapkan keresahan tersebut, yakni dengan mengumpulkan sampah-sampah yang berserakan di lingkungan,” kata Dina dalam acara webinar Road to Youth Climate Conference: Anak-anak, Pemuda dan Perubahan Iklim, Jumat (3/5).
Sebagai anak muda, Dina pun melihat banyak perubahan alam yang terjadi di tanah kelahirannya. Hal itu yang menjadi keresahannya dan membuat dirinya bergerak untuk membentuk sebuah komunitas. Kegiatan mulanya ialah melakukan bersih-bersih sampah pantai. Hingga kini, Papua Trada Sampah rutin melakukan kegiatan bersih-bersih minimal seminggu sekali di berbagai titik, mulai dari Jayapura, Nabire dan Wamena. “Sebagai akar rumput kami mengakui keterbatasan. Dan kami sadar power of collective action itu penting. Karenanya, kami banyak melakukan kolaborasi dan aksi bersama dengan kominitas lain,” imbuh dia.
Pada kesempatan tersebut, Ketua Seasoldier Sulawesi Utara Reskiwati juga melakukan hal serupa. Selain kegiatan bersih-bersih pantai dan menumbuhkan rasa peduli terhadap lingkungan ke masyarakat sekitar, Seasoldier Sulawesi Utara juga rutin melakukan aksi transplantasi terumbu karang hingga penanaman mangrove. Hal itu dilakukan karena wilayah tersebut memiliki banyak ekosistem laut yang perlu dilestarikan.
“Dan diharapkan dengan adanya transplantasi karang di daerah tersebut akan pulih dan memperbaiki ekosistem meningkatkan jumlah ikan. Sehingga mereka boleh mencari makan, berlindung di ekosistem terumbu karang itu,” ucapnya. (Z-8)
Pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia menuntut keterlibatan nyata lintas generasi, khususnya generasi muda.
Di tengah padatnya dunia digital, tantangan terbesar adalah menjaga agar suara tidak mengalahkan pemahaman, dan teknologi tidak mengikis empati.
WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, mengatakan peran generasi muda sangat dibutuhkan dalam upaya membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.
Di era Presiden Prabowo Subianto, perang melawan narkotika kini tidak lagi hanya bertumpu pada penindakan hukum, melainkan menempatkan penyelamatan generasi muda.
Penutup tahun di Braga pun menjadi simbol transisi: menoleh ke belakang untuk menghargai proses, lalu melangkah ke depan dengan optimisme menyambut 2026 dan meraih mimpi.
Kemenpora bersama FAO mendorong keterlibatan generasi muda Indonesia dalam sektor pertanian, perikanan, dan peternakan sebagai bagian dari upaya mewujudkan swasembada pangan nasional
Studi terbaru mengungkap sisi emosional hilangnya gletser dunia. Dari tujuan wisata "kesempatan terakhir" hingga ritual pemakaman es, bagaimana manusia merespons kepunahan gletser?
Perubahan iklim global kini menjadi realitas ilmiah yang tidak terbantahkan dan berdampak langsung pada meningkatnya risiko bencana di berbagai wilayah, termasuk Sumatra.
Analisis global terhadap 31.000 spesies pohon mengungkap tren mengkhawatirkan: spesies pohon yang tumbuh lambat mulai punah, digantikan pohon cepat tumbuh yang rapuh.
Fenomena Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi dijelaskan secara ilmiah oleh pakar IPB University.
Di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim dan pemanasan laut, diskusi tentang energi dan kelautan kini tidak lagi berdiri sendiri.
Peneliti mengungkap mekanisme seluler yang membantu tanaman tetap tumbuh meski cuaca ekstrem. Temuan ini menjadi kunci masa depan ketahanan pangan global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved