Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Ketegangan Geopolitik Iran vs Israel-AS, Legislator Minta Pemerintah Percepat Diversifikasi Impor dan Ketahanan Energi

Naufal Zuhdi
04/3/2026 16:07
Ketegangan Geopolitik Iran vs Israel-AS, Legislator Minta Pemerintah Percepat Diversifikasi Impor dan Ketahanan Energi
Anggota DPR RI Komisi VI, Firnando Ganinduto.(Dok istimewa )

ESKALASI ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel-Amerika Serikat yang berdampak pada ancaman penutupan Selat Hormuz menjadi perhatian serius terhadap stabilitas energi nasional. Jalur tersebut dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dan LNG dunia, sehingga gangguan di kawasan ini memicu lonjakan harga minyak global dan meningkatkan tekanan terhadap negara-negara pengimpor, termasuk Indonesia.

Anggota DPR RI Komisi VI, Firnando Ganinduto, menegaskan bahwa pemerintah Indonesia perlu merespons situasi ini secara cepat dan strategis. Ia mengacu pada pernyataan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, yang menyebut sekitar 20–25% impor minyak mentah Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah dan melewati Selat Hormuz. 

“Kondisi tersebut membuat Indonesia rentan terhadap gangguan distribusi dan fluktuasi harga global yang dapat berdampak langsung pada APBN,” ucapnya dikutip dari siaran pers yang diterima, Rabu (4/3).

Meski demikian, Firnando juga mengapresiasi langkah pemerintah yang telah mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari Timur Tengah ke Amerika Serikat sebagai bagian dari strategi diversifikasi pasokan.

Menurutnya, kebijakan ini penting untuk menjaga kepastian suplai energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik. Selain itu, ia juga menyoroti bahwa sekitar 30% impor LPG Indonesia masih bergantung pada kawasan Timur Tengah, sehingga perlu segera dicari alternatif pemasok dari wilayah lain.

Meski pemerintah memastikan bahwa pasokan energi domestik masih aman untuk beberapa minggu ke depan, Firnando menilai mitigasi jangka pendek harus dibarengi dengan langkah struktural jangka panjang. Ia mendorong Pertamina untuk memperkuat strategi pengamanan pasokan sekaligus memperluas jaringan perdagangan energi yang lebih beragam guna mengurangi risiko ketergantungan pada satu kawasan.

Di sisi lain, Firnando menegaskan bahwa situasi ini harus menjadi momentum untuk mempercepat penguatan produksi migas dalam negeri dan mendorong transisi energi baru terbarukan. “Diversifikasi impor hanyalah solusi taktis, sementara kemandirian dan ketahanan energi nasional adalah strategi jangka panjang yang akan menentukan stabilitas ekonomi Indonesia ke depan,” pungkas dia. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya