Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
ESKALASI perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai memukul perekonomian AS. Konflik tersebut memicu lonjakan harga energi yang berisiko mendorong inflasi, menekan daya beli, dan menyulitkan langkah bank sentral menjaga stabilitas.
Serangan Washington dan Tel Aviv ke Teheran yang kemudian dibalas Iran telah mengguncang pasar minyak dunia. Gangguan terhadap pasokan energi, termasuk penutupan efektif Selat Hormuz mendorong harga minyak mentah melonjak tajam. Harga Brent bahkan sempat menyentuh level tertinggi sejak Juli 2024.
Kenaikan harga minyak itu diperkirakan segera berdampak pada harga bahan bakar di Amerika Serikat, isu yang sensitif secara politik.
Analis utama Oxford Economics, John Canavan, memperkirakan dampaknya akan terasa dalam waktu dekat.
"Harga di SPBU kemungkinan akan naik dalam beberapa hari," katanya.
Ia menambahkan bahwa tren kenaikan harga bensin sebenarnya sudah terlihat sejak awal Januari. Menurutnya, para pengecer bahan bakar biasanya cepat merespons perkembangan geopolitik yang berpotensi mendorong harga lebih tinggi.
Lonjakan biaya energi diperkirakan akan membebani rumah tangga Amerika, sekaligus menekan konsumsi yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi.
Belanja konsumen menyumbang sekitar dua pertiga produk domestik bruto (PDB) AS, sehingga tekanan pada sektor ini berisiko merambat ke berbagai lini, termasuk transportasi dan logistik.
Ekonom ING, James Knightley, menilai harga energi yang meningkat dapat memicu kenaikan tarif penerbangan serta biaya distribusi barang. Meski Amerika relatif mandiri dalam pasokan gas alam, ia menegaskan harga domestik tetap dipengaruhi dinamika global, sehingga lonjakan harga internasional dapat berdampak pada tarif listrik.
"Ini tidak diragukan lagi akan menjadi titik kritis bagi perekonomian AS," kata Knightley.
Ia memperingatkan, jika masyarakat harus mengalokasikan lebih banyak dana untuk bensin dan utilitas, tekanan terhadap keuangan konsumen akan semakin berat dan berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi, terutama bila konflik berlangsung lebih dari beberapa pekan.
Situasi ini juga menghadirkan tantangan politik bagi Presiden AS, Donald Trump. Pemerintah diperkirakan berupaya menahan lonjakan harga energi karena dampaknya langsung terhadap sentimen publik menjelang pemilihan.
Kepala Ekonom Nationwide, Kathy Bostjancic, menyebut pemerintah memahami betul isu keterjangkauan harga menjadi perhatian utama masyarakat.
"Harga bensin yang lebih tinggi akan berdampak negatif pada kepercayaan dan sentimen konsumen. Itu bisa terlihat di bilik suara pada bulan November," ujarnya.
Di sisi lain, konflik ini turut menempatkan Federal Reserve dalam posisi dilematis. Risiko inflasi yang kembali meningkat mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi, sementara perlambatan ekonomi dan potensi pelemahan pasar tenaga kerja justru membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter.
Presiden Federal Reserve New York, John Williams, mengatakan otoritas moneter masih perlu mengamati seberapa lama dampak konflik terhadap harga akan berlangsung.
"Kita harus menunggu dan melihat," sebutnya.
Knightley menambahkan bahwa risiko inflasi jangka pendek membuat peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat menjadi kecil, meskipun tekanan terhadap ekonomi semakin terasa.
Menurutnya, bank sentral harus menyeimbangkan dua mandat utama yang saling bertolak belakang, menjaga inflasi tetap terkendali dan memastikan tingkat lapangan kerja tetap optimal. (AFP/E-4)
Presiden AS Donald Trump resmi umumkan jadwal kunjungan ke Tiongkok untuk bertemu Xi Jinping. Kunjungan pertama dalam 10 tahun ini sempat tertunda akibat krisis Selat Hormuz.
Penasihat kebijakan luar negeri Trump menyebut AS tidak berkepentingan memperpanjang konflik dengan Iran lebih dari tiga bulan.
Pemerintah Inggris investasi £100 juta buka kembali pabrik CO2 di Teesside. Langkah darurat ini diambil guna menjaga pasokan pangan di tengah konflik Iran.
Panglima militer Uganda Muhoozi Kainerugaba ancam akan terjun ke perang Iran demi membela Israel jika terdesak. Hubungan kedua negara semakin erat pasca-insiden Entebbe.
Approval rating Donald Trump anjlok ke 36% menurut survei Reuters/Ipsos. Publik kecewa atas lonjakan harga BBM dan serangan militer AS ke Iran yang dinilai tak aman.
IHSG ditutup menguat tajam 2,75% ke level 7.302 pada Rabu (25/3/2026). Penguatan dipicu optimisme damai AS-Iran lewat proposal 15 poin yang mendorong koreksi harga minyak
Survei SSRS untuk CNN menunjukkan mayoritas responden puas terhadap pidato kenegaraan Presiden AS Donald Trump di Kongres, namun masih meragukan kemampuannya menekan biaya hidup.
Presiden Donald Trump akan menyampaikan pidato State of the Union di tengah anjloknya tingkat kepuasan publik dan ancaman kekalahan di pemilu sela November mendatang.
Tiga mantan ketua The Fed, termasuk Janet Yellen, mengecam investigasi kriminal terhadap Jerome Powell. Mereka menyebut aksi pemerintahan Trump ini mengancam fondasi ekonomi AS.
LAPORAN ekonomi utama untuk Oktober kemungkinan besar tidak akan dirilis sama sekali karena penutupan pemerintah. Ini disampaikan seorang pejabat senior Gedung Putih, Rabu (12/11).
Hingga pukul 20.30 pada Senin (10/11) waktu setempat, lebih dari 2.300 penerbangan dibatalkan pada hari itu.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved