Headline

Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.

Pidato Kenegaraan Trump, Upaya Terakhir "Hentikan Pendarahan" Popularitas Jelang Pemilu

Thalatie K Yani
25/2/2026 04:06
Pidato Kenegaraan Trump, Upaya Terakhir
Presiden Donald Trump akan menyampaikan pidato State of the Union di tengah anjloknya tingkat kepuasan publik dan ancaman kekalahan di pemilu sela November mendatang.(White House)

PRESIDEN Donald Trump dijadwalkan menyampaikan pidato kenegaraan (State of the Union) pada Selasa malam waktu setempat. Pidato ini dianggap sebagai momen paling krusial dalam masa jabatan keduanya, di tengah upaya keras sang Presiden untuk "menghentikan pendarahan" dukungan publik sebelum pemilu sela November mendatang.

Sepanjang tahun lalu, Trump telah meluncurkan agenda masa jabatan kedua dengan kecepatan tinggi. Mulai dari pengetatan perbatasan yang drastis, perombakan aliansi luar negeri, hingga tantangan terhadap sistem checks and balances Amerika. Namun, langkah-langkah agresif ini harus dibayar mahal dengan merosotnya tingkat kepuasan publik.

Krisis Kepercayaan Publik

Jajak pendapat terbaru dari CNN menunjukkan tingkat persetujuan kerja (approval rating) Trump hanya berada di angka 36%, sementara survei Washington Post mencatat angka serupa di 39%. Penurunan ini dipicu  kebijakan imigrasi dan perdagangan yang dianggap terlalu ekstrem oleh sebagian besar warga Amerika.

Hanya dalam waktu delapan bulan, pemilih akan menentukan nasib sisa masa jabatan Trump. Jika Partai Republik kehilangan kendali di Kongres, Trump diprediksi akan menghadapi kebuntuan legislatif hingga potensi pemakzulan kembali.

Retorika vs Realitas Ekonomi

Meski Trump membanggakan pertumbuhan ekonomi, realitas di lapangan menunjukkan tantangan besar. "Kita memiliki negara yang sekarang berjalan baik, kita memiliki ekonomi terbesar yang pernah kita miliki," klaim Trump pada Senin kemarin.

Namun, pengamat menilai klaim tersebut belum menyentuh akar masalah. Robert Rowland, profesor dari University of Kansas, mencatat bahwa Trump jarang melakukan apa yang biasanya dilakukan presiden dalam pidato kenegaraan: memperluas daya tarik agenda mereka.

"Pidato State of the Union biasanya merupakan saat di mana presiden melakukan dua hal yang pada dasarnya tidak pernah dilakukan Presiden Trump," kata Rowland. "Presiden membangun argumen untuk agenda mereka, dan mereka mencoba memperluas daya tarik agenda pemerintahan tersebut."

Hambatan Kebijakan dan Isu Luar Negeri

Di sektor domestik, kebijakan tarif tinggi Trump justru memicu ketidakpastian harga konsumen. Bahkan, Mahkamah Agung AS baru-baru ini memutuskan beberapa kebijakan tarif tersebut ilegal. Di perbatasan, insiden tewasnya dua warga AS oleh petugas imigrasi telah memicu protes massa dan memaksa pemerintah melunakkan pendekatan mereka.

Selain masalah ekonomi dan imigrasi, pidato Selasa malam nanti kemungkinan akan menyentuh isu panas di Timur Tengah. Trump diprediksi akan menjelaskan alasan penumpukan kekuatan militer AS untuk kemungkinan serangan terhadap Iran, sebuah langkah luar negeri yang berisiko mengubah peta politik Amerika secara tak terduga.

Malam ini akan menjadi pembuktian: apakah Trump akan menunjukkan sisi kerendahan hati untuk merangkul pemilih moderat, atau justru tetap pada gaya konfrontatifnya.

"Biasanya, ketika presiden menyadari bahwa mereka membuat publik marah, mereka akan menarik diri dan melakukan semacam permohonan maaf," ujar Rowland. "Itu bukanlah sesuatu yang pernah dilakukan Presiden Trump. Saya memperkirakan dia akan melipatgandakan pesan-pesannya." (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya