Headline

YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.

Satu Lagi Kabar Buruk buat IHSG, FTSE Russell Tunda Review Indeks

Andhika Prasetyo
10/2/2026 09:14
Satu Lagi Kabar Buruk buat IHSG, FTSE Russell Tunda Review Indeks
Ilustrasi(Antara)

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi bakal mengalami koreksi pada perdagangan Selasa, 10 Februari 2026. Salah satu sentimen utama yang membebani pasar adalah keputusan FTSE Russell menunda review indeks Indonesia untuk periode Maret 2026.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, mengungkapkan penundaan tersebut bisa memberi dampak signifikan secara psikologis, khususnya bagi investor institusi global. Kondisi ini mendorong pelaku pasar cenderung menahan diri sambil menunggu kejelasan arah kebijakan dan minimnya katalis positif baru dari global.

“Tekanan psikologis dari penundaan review FTSE dapat membuat pasar menguji ulang area support terdekat sebagai upaya mencari keseimbangan baru,” ujar Hendra kepada Antara di Jakarta, Selasa.

Secara teknikal, Hendra memproyeksikan IHSG hari ini berpeluang kembali menguji level terendah sebelumnya di area 7.863. Area ini dinilai sebagai support penting jangka sangat pendek karena menjadi titik awal munculnya minat beli.

“Selama level tersebut mampu dipertahankan, koreksi masih dapat dikategorikan sebagai pullback wajar dalam fase konsolidasi, bukan sinyal pembalikan tren,” ujarnya.

Di sisi lain, area 8.100 dinilai menjadi resistance psikologis yang cukup kuat. Selain merupakan angka bulat yang sensitif, level tersebut juga pernah menjadi area distribusi sehingga tekanan jual berpotensi kembali meningkat.

“Tanpa katalis kuat, baik dari global maupun domestik, peluang IHSG menembus 8.100 dalam waktu dekat relatif terbatas,” kata Hendra.

Ke depan, perhatian pelaku pasar diperkirakan tertuju pada perkembangan reformasi pasar modal Indonesia menjelang review kuartalan FTSE berikutnya pada Juni 2026, dengan pengumuman dijadwalkan pada 22 Mei 2026. Kejelasan kebijakan free float dan konsistensi implementasinya dinilai krusial untuk memulihkan kepercayaan penyedia indeks global. Dalam kondisi pasar yang masih volatil, Hendra menyarankan investor tetap selektif dengan memanfaatkan koreksi di area support untuk akumulasi saham berfundamental kuat, sembari menjaga disiplin manajemen risiko.

Ia menegaskan, penundaan review FTSE tidak mencerminkan penurunan kualitas fundamental pasar modal Indonesia, melainkan menunjukkan adanya ketidakpastian teknis dalam proses reformasi, khususnya terkait penetapan free float minimum dan potensi gangguan mekanisme pasar selama masa transisi kebijakan.

Dampak langsung dari keputusan tersebut adalah dibekukannya seluruh perubahan indeks FTSE Indonesia dalam jangka pendek. Tidak akan ada penambahan atau penghapusan saham akibat review berkala, perubahan klasifikasi emiten, maupun penyesuaian bobot akibat perubahan jumlah saham beredar. Bahkan, aksi korporasi seperti rights issue diasumsikan tidak terjadi dalam perhitungan indeks.

Meski demikian, FTSE tetap akan mengeluarkan saham dari indeks jika terjadi merger, akuisisi, suspensi berkepanjangan, kebangkrutan, atau delisting. Sementara aksi korporasi non-penambahan modal seperti stock split, saham bonus, konsolidasi saham, spin-off wajib, serta pembagian dividen tetap diproses.

“FTSE hanya menahan perubahan yang bersifat diskresioner, bukan yang wajib dan fundamental,” ujar Hendra.

Dari sisi pasar, kebijakan ini menahan katalis teknikal dari rebalancing indeks. Aliran dana pasif asing cenderung stabil, namun potensi inflow baru ke saham-saham yang berpeluang masuk indeks ikut tertunda, sehingga volatilitas lebih didorong oleh sentimen.

Hendra juga menekankan keputusan ini tidak terkait dengan penilaian klasifikasi negara Indonesia dalam Equity Country Classification FTSE, yang tetap akan diumumkan sesuai jadwal pada 7 April 2026. Karena itu, sentimen negatif dinilai bersifat teknis dan sementara.

Sebagai catatan, pada penutupan perdagangan Senin (9/2), IHSG ditutup menguat 96,61 poin atau 1,22% ke level 8.031,87. Indeks LQ45 naik 5,36 poin atau 0,66% ke posisi 820,94, dengan nilai transaksi mencapai Rp17,86 triliun.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya