Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Danantara Janji Jaga Independensi di Tengah Rencana Masuk ke Saham BEI

Insi Nantika Jelita
01/2/2026 17:32
Danantara Janji Jaga Independensi di Tengah Rencana Masuk ke Saham BEI
Chief Executive Officer (CEO) Danantara Rosan Perkasa Roeslani (kedua dari kanan)(MI/Insi Nantika Jelita)

CHIEF Executive Officer (CEO) Danantara Rosan Perkasa Roeslani menegaskan lembaganya akan tetap menjaga independensi di tengah rencana badan pengelola investasi tersebut menjadi pemegang saham PT Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah proses demutualisasi rampung.

Rosan menjelaskan Danantara memiliki kewenangan untuk berinvestasi secara langsung maupun tidak langsung, sesuai dengan kebijakan internal, di berbagai kelas aset, baik aset publik maupun non-publik. 

“Tentunya kita tetap akan independen,” ujarnya di sela acara Dialog Pelaku Pasar Modal di Kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Minggu (1/2).

Ia menambahkan, Danantara juga akan melakukan evaluasi secara menyeluruh sebelum masuk ke pasar modal, termasuk menilai aspek valuasi atau pricing. Jika dinilai menarik dan sesuai kriteria investasi, Danantara terbuka untuk berpartisipasi.

"Jika dari segi pricingnya ini bagus, ya tentunya Danantara akan masuk ke pasar modal," ucap Rosan.

Mengenai rencana demutualisasi bursa, Danantara menegaskan akan mempelajari terlebih dahulu porsi kepemilikan saham yang akan diambil. Penentuan besaran kepemilikan tersebut, menurut Danantara, akan didasarkan pada kriteria investasi yang jelas dan terukur, sebagaimana praktik yang lazim diterapkan dalam setiap keputusan penanaman modal.

"Tentunya ada kriteria-kriteria yang harus dipenuhi pada saat kita berinvestasi," kata Rosan. 

Danantara mencontohkan di berbagai lembaga investasi atau sovereign wealth fund (SWF) lainnya,  umumnya terlibat sebagai pemegang saham, dengan porsi kepemilikan yang bervariasi. Rentangnya berkisar antara 15% hingga 30%. "Bahkan di beberapa negara bisa lebih besar dari itu," lanjutnya. 

Namun demikian, Danantara menekankan keterlibatan pemegang saham pasca-demutualisasi tidak hanya akan berasal dari Danantara semata, melainkan juga terbuka bagi sovereign wealth fund lainnya.

Keterlibatan asing

Rosan mengungkapkan saham Bursa Efek Indonesia (BEI) juga dapat dimiliki oleh institusi asing setelah otoritas pasar modal menyelesaikan proses demutualisasi bursa. Menurutnya, skema tersebut merupakan praktik lazim di banyak negara, di mana kepemilikan bursa dipisahkan dari keanggotaan.

“Di banyak tempat memang seperti itu. Kepemilikan dan keanggotaan dipisahkan. Saat ini kan anggota dan pemilik masih tergabung, dan sebagian besar dimiliki oleh sekuritas. Karena itu dibuka agar tata kelolanya menjadi lebih baik dan lebih transparan,” ujarnya.

Rosan meyakini langkah tersebut akan mendapat respons positif dari pasar. Ia mengaku telah berdiskusi dengan sejumlah investor asing dalam beberapa hari terakhir, dan mayoritas memahami arah reformasi yang tengah dilakukan pemerintah serta otoritas pasar modal. Menurutnya, para investor memberikan sinyal positif, terutama terhadap rencana peningkatan free float saham menjadi 15%.

Namun demikian, Rosan menyampaikan adanya masukan lanjutan dari investor asing terkait aspek keterbukaan data kepemilikan saham. Saat ini, kewajiban keterbukaan investor berlaku untuk kepemilikan di atas 5%. Investor asing, kata Rosan, menilai ambang batas tersebut masih terlalu tinggi dan sebaiknya diturunkan.

“Mereka mengusulkan agar threshold keterbukaan diturunkan. Di beberapa negara seperti India, batasnya 1%, di negara lain 2% atau 1%. Mereka ingin level keterbukaan kita setara dengan negara-negara tersebut,” jelasnya.

Menurut Rosan, selama ini fokus kebijakan lebih banyak pada peningkatan free float ke pasar hingga 15%, sementara aspek keterbukaan kepemilikan belum cukup kuat. Ia menyebut telah menyampaikan masukan tersebut kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI agar ambang keterbukaan kepemilikan dapat diturunkan ke kisaran 1–2%.

Dengan tingkat keterbukaan yang lebih rendah, Rosan menilai praktik penciptaan harga yang tidak sehat akan semakin sulit dilakukan. “Karena investornya terbuka, kalau ada tindakan tertentu pasti akan terdeteksi,” pungkasnya. (Ins/P-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya