Headline
Kemantapan jalan nasional sudah mencapai 93,5%
Kumpulan Berita DPR RI
SAHAM IHSG anjlok tajam pada perdagangan Kamis pagi setelah pasar merespons keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menunda proses rebalancing indeks saham Indonesia.
Ekonom keuangan sekaligus praktisi pasar modal Hans Kwee menilai penurunan IHSG kali ini lebih disebabkan aksi jual emosional atau panic selling, bukan karena pelemahan fundamental ekonomi secara langsung.
“Pasar masih panik karena isu MSCI,” ujar Hans di Jakarta, Kamis.
Ia menjelaskan bahwa tekanan terhadap pasar saham juga diperburuk oleh proyeksi Goldman Sachs terkait potensi arus dana keluar (capital outflow) dari Indonesia.
Goldman Sachs memperkirakan dana pasif yang keluar dari pasar saham domestik dapat mencapai 2,2 hingga US$7,8 miliar pasca evaluasi MSCI.
Meski demikian, Hans menilai kondisi ketika saham IHSG anjlok ini hanya bersifat sementara dan akan mereda dalam waktu dekat.
“Kami perkirakan akhir pekan atau minggu depan pasar mulai kembali normal, walaupun pergerakannya tidak akan langsung agresif,” ujarnya.
Hans memperkirakan IHSG akan bergerak terbatas atau sideways sambil menunggu keputusan final MSCI.
Di tengah koreksi tajam tersebut, ia justru melihat peluang bagi investor jangka menengah dan panjang untuk mulai mengoleksi saham berfundamental kuat secara bertahap, khususnya saham berkapitalisasi besar.
“Investor bisa akumulasi perlahan saat pasar terkoreksi karena kepanikan,” kata Hans.
Pada perdagangan hari ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat menghentikan sementara perdagangan (trading halt) pada pukul 09.26 WIB setelah IHSG turun 8%.
IHSG tercatat masih tertekan 492,09 poin atau 5% ke posisi 7.828,47 pada penutupan sesi 1 perdagangan bursa saham hari ini. (Ant/Z-10)
BEI bersama OJK dan SRO merespons pembekuan review indeks MSCI dengan memperketat transparansi data free float rutin mulai Januari 2026 demi pulihkan kepercayaan investor.
BEI siap mengerahkan seluruh upaya menindaklanjuti keputusan MSCI yang membekukan review indeks saham Indonesia demi menjaga kepercayaan investor global.
BEI memastikan terus berdiskusi dengan MSCI setelah lembaga indeks global itu membekukan sementara proses rebalancing saham Indonesia.
Ketidaksinkronan antara data administratif dan realitas pasar ini menjadi salah satu alasan mengapa lembaga internasional mulai mempertanyakan kredibilitas tata kelola ekonomi nasional.
Direktur Utama PT Mandiri Sekuritas Oki Ramadhana menyatakan optimismenya terkait proposal yang diajukan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kepada penyedia indeks global MSCI.
BEI kebut proposal ke MSCI & FTSE. Aturan free float 15% masuk tahap final OJK, sementara daftar konsentrasi pemegang saham segera dirilis.
BUMI awal 2026 krusial, CIC tinggal 2,81% usai divestasi, free float 41,31% dongkrak likuiditas. Target 330-344, stop loss 250; volume kunci. Waspadai koreksi MSCI!!
Ekonom LPPI Ryan Kiryanto memperkirakan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate 4,75% di tengah inflasi di atas 3% dan pelemahan rupiah ke Rp16.884 per dolar AS.
MENTERI Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengeklaim kondisi pasar keuangan nasional berangsur stabil setelah sempat mengalami tekanan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved