Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
BANK Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 berada di kisaran 4,9%–5,7%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan proyeksi 2025 yang berada pada rentang 4,7%–5,5%.
“Artinya, ruang pertumbuhan ekonomi pada 2026 akan lebih luas,” jelasnya Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti dalam acara Starting Year Forum 2026, Kamis (22/1).
Destry juga menilai perekonomian Indonesia saat ini masih bergerak di bawah tingkat potensialnya. Oleh karena itu, dorongan pertumbuhan ke depan diperkirakan tidak akan memicu tekanan inflasi yang berlebihan. BI memperkirakan inflasi tetap terkendali dalam rentang sasaran, yakni 2,5%±1.
"Kami masih memperkirakan inflasi itu masih dalam ruang yang manageable," ucapnya.
Di sisi kebijakan moneter, BI telah melakukan siklus penurunan suku bunga. Sejak September 2024 hingga saat ini, BI telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 150 basis poin. Penurunan tersebut mulai tertransmisi ke pasar keuangan, khususnya pasar obligasi.
Namun demikian, Destry mengakui masih terdapat tantangan dalam transmisi suku bunga ke sektor perbankan. Suku bunga dana perbankan tercatat turun sekitar 59 basis poin atau 0,59% dibandingkan tahun lalu, sementara suku bunga kredit baru turun sekitar 38 basis poin.
“Ini memang masih menjadi pekerjaan rumah karena ada jeda waktu dalam transmisi ke kredit,” ujarnya.
Meski begitu, BI menilai kondisi saat ini sudah mengarah pada lingkungan suku bunga yang lebih rendah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Kebijakan moneter ini juga didukung oleh ekspansi fiskal, seiring dengan perkiraan bahwa berbagai program pemerintah akan lebih banyak terealisasi pada 2026.
Dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan, BI mengandalkan lima bauran kebijakan, yakni kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar uang, serta ekonomi dan keuangan hijau.
Salah satu fokus utama bauran kebijakan tersebut adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Destry menyebut, arah penguatan rupiah mulai terlihat, ditopang oleh fundamental ekonomi yang relatif baik dibandingkan negara lain.
"Rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) tetap terkendali, cadangan devisa mencapai sekitar US$156 miliar, serta defisit anggaran dijaga di bawah 3% PDB," kata Destry.
Selain itu, BI juga menjalankan kebijakan ekspansi likuiditas moneter. Hingga saat ini, BI telah menyalurkan Kredit Likuiditas Makroprudensial (KLM) sekitar Rp388 triliun kepada perbankan untuk disalurkan ke sektor-sektor prioritas. BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar primer dan sekunder sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
“Dengan berbagai instrumen yang kami miliki, Bank Indonesia terus berupaya menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” pungkas Destry. (H-3)
Memasuki awal 2026, lanskap ekonomi global menunjukkan tanda-tanda stabilisasi yang lebih nyata dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Pemprov DKI mengalokasikan Rp6,4 triliun untuk subsidi transportasi, air, dan pangan pada 2025 demi menjaga daya beli warga.
Lonjakan harga emas dunia yang menembus level psikologis USD 4.700 per troy ons dipicu oleh pernyataan kontroversial Presiden AS Donald Trump.
Pemprov Jateng juga mengandalkan sistem pemantauan harga harian di pasar-pasar tradisional untuk mendeteksi potensi kenaikan harga sejak dini.
Beberapa komoditas pangan seperti cabai dan sayur justru mengalami penurunan harga dalam beberapa waktu terakhir.
Sejumlah program yang digulirkan pada akhir tahun ini juga diharapkan mampu mengoptimalisasi dan mendung kinerja positif sejumlah indikator ekonomi tersebut.
Pertumbuhan kuartal I 2026 berpotensi mengerek pertumbuhan karena didorong faktor musiman adanya perayaan Tahun Baru, Imlek, dan Ramadan–Idul Fitri.
CORE Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 akan berada di kisaran 4,9% hingga 5,1%.
PEMERINTAH menyampaikan optimisme bahwa perekonomian Indonesia pada 2026 akan tumbuh solid seiring penguatan fundamental domestik.
Ekonomi di kuartal IV 2025 didorong oleh meningkatnya aktivitas ekonomi, terutama dari sisi konsumsi masyarakat, yang mulai pulih.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved