Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
LAJU inflasi Nusa Tenggara Timur pada Desember 2025 menunjukkan peningkatan seiring menguatnya tekanan harga pangan segar menjelang akhir tahun.
Badan Pusat Statistik mencatat inflasi sebesar 0,81 persen, yang mendorong inflasi tahun kalender dan inflasi tahunan masing-masing mencapai 2,39 persen, dengan Indeks Harga Konsumen 108,94. Meski meningkat, inflasi tersebut masih berada dalam batas terkendali.
Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi NTT, Matamira B Kale, menyebut lonjakan harga komoditas pangan strategis menjadi faktor utama inflasi Desember.
“Kenaikan harga bawang merah dan tomat menjadi pemicu utama inflasi akhir tahun, seiring meningkatnya permintaan masyarakat,” ujarnya, Senin (5/1).
Dari sisi kelompok pengeluaran, makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi 1,74 persen dan andil 0,65 persen. Tekanan ini mencerminkan masih tingginya sensitivitas inflasi NTT terhadap fluktuasi harga pangan. Perawatan pribadi dan jasa lainnya turut memberi tekanan dengan inflasi 1,62 persen dan andil 0,11 persen, sementara transportasi mencatat inflasi 0,42 persen dengan andil 0,06 persen akibat meningkatnya mobilitas masyarakat.
Namun, inflasi tidak melonjak lebih tinggi karena adanya penurunan harga pada sejumlah kelompok. Pakaian dan alas kaki mengalami deflasi 0,37 persen, sedangkan informasi, komunikasi, dan jasa keuangan turun 0,01 persen, sehingga berperan sebagai penahan laju inflasi.
Analisis berbasis Sensus Ekonomi 2026 menunjukkan bawang merah sebagai komoditas pendorong inflasi paling konsisten dengan andil 0,16 persen, disusul tomat 0,14 persen, daging ayam ras 0,09 persen, angkutan udara 0,07 persen, dan emas perhiasan 0,07 persen. Dominasi pangan segar mengindikasikan masih rentannya inflasi NTT terhadap gangguan pasokan dan distribusi.
Tekanan inflasi juga menunjukkan variasi antardaerah. Waingapu mengalami dorongan kuat dari ikan tongkol dengan andil 0,70 persen, diikuti bawang merah 0,33 persen dan cabai rawit 0,24 persen.
Kabupaten Timor Tengah Selatan terdorong oleh bawang merah 0,35 persen dan tomat 0,25 persen. Di Maumere, inflasi dipicu tomat serta ikan selar atau ikan tude yang masing-masing berkontribusi 0,15 persen.
Kabupaten Ngada terdorong bawang merah 0,17 persen dan ikan tembang 0,13 persen, sedangkan Kota Kupang dipengaruhi kenaikan harga emas perhiasan dan angkutan udara yang masing-masing menyumbang 0,12 persen.
Di sisi lain, peran komoditas penghambat inflasi menjadi penyeimbang penting. Secara provinsi, ikan tembang dan daun singkong masing-masing menahan inflasi sebesar minus 0,07 persen. Tekanan penurunan harga juga berasal dari jeruk nipis atau limau, angkutan laut, dan ikan kakap merah yang masing-masing berkontribusi minus 0,02 persen.
Pada tingkat wilayah, Waingapu terbantu oleh turunnya harga ikan tembang minus 0,30 persen dan ikan kakap merah minus 0,28 persen, sementara Kota Kupang tertahan oleh ikan tembang minus 0,14 persen dan daun singkong minus 0,06 persen.
Matamira menilai perbedaan komoditas pendorong dan penekan inflasi antardaerah mencerminkan tantangan struktural pada sistem pasokan dan distribusi pangan.
“Penguatan distribusi dan ketersediaan pasokan pangan di daerah menjadi kunci menjaga stabilitas inflasi,” katanya.
Ke depan, sinergi pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah menjadi krusial untuk menjaga pasokan pangan strategis dan kelancaran distribusi antarwilayah.
Dengan inflasi tahunan yang masih berada pada level moderat, stabilitas harga di NTT relatif terjaga, namun kewaspadaan terhadap tekanan pangan musiman tetap perlu ditingkatkan. (H-2)
Cabai rawit saat ini mencapai Rp100 ribu per kilogram, dari sebelumnya hanya Rp60 ribu per kilogram, atau naik sekitar 25 persen.
Komoditas seperti bawang merah dan bawang putih tercatat naik di kisaran 5 hingga 10 persen, harga cabai merah dan cabai besar juga naik.
Pantauan di Pasar Gedhe Klaten, Senin (9/3), harga beras lokal medium IR-64 stabil Rp14.000 per kilogram, dan beras Bulog SPHP tetap Rp12.500 per kilogram.
Beras premium kelas I yang sebelumnya Rp14.400 per kg menjadi Rp15.200 per kg dan beras premium kelas II naik dari Rp 14 ribu kg menjadi Rp14.800 per kg
Daging sapi dijual Rp 140 perkg, daging ayam Rp 39 ribu perkg, telur telur ayam Rp 29 ribu hingga Rp 31.500 per kg.
Harga cabai rawit merah sempat di angka Rp100 ribu per kilogram, kemudian turu. 80 ribu per kilogram, dan saat ini kembali hampir Rp100 ribu per kilogram.
Cabai rawit saat ini mencapai Rp100 ribu per kilogram, dari sebelumnya hanya Rp60 ribu per kilogram, atau naik sekitar 25 persen.
Salah satu produk yang paling diminati adalah daging sapi yang dijual dengan harga Rp100 ribu per kg jauh lebih murah dibanding harga pasar.
Komoditas seperti bawang merah dan bawang putih tercatat naik di kisaran 5 hingga 10 persen, harga cabai merah dan cabai besar juga naik.
MENJELANG Hari Raya Idulfitri, sejumlah harga bahan pokok di pasar tradisional Kota Makassar mulai merangkak naik.
Beras premium kelas I yang sebelumnya Rp14.400 per kg menjadi Rp15.200 per kg dan beras premium kelas II naik dari Rp 14 ribu kg menjadi Rp14.800 per kg
Daging sapi dijual Rp 140 perkg, daging ayam Rp 39 ribu perkg, telur telur ayam Rp 29 ribu hingga Rp 31.500 per kg.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved