Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Inflasi NTT Naik di Akhir Tahun, Bawang Merah dan Tomat Dominasi Tekanan Harga

Palce Amalo
05/1/2026 21:09
Inflasi NTT Naik di Akhir Tahun, Bawang Merah dan Tomat Dominasi Tekanan Harga
Ilustrasi(MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE)

LAJU inflasi Nusa Tenggara Timur pada Desember 2025 menunjukkan peningkatan seiring menguatnya tekanan harga pangan segar menjelang akhir tahun. 

Badan Pusat Statistik mencatat inflasi sebesar 0,81 persen, yang mendorong inflasi tahun kalender dan inflasi tahunan masing-masing mencapai 2,39 persen, dengan Indeks Harga Konsumen 108,94. Meski meningkat, inflasi tersebut masih berada dalam batas terkendali.

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi NTT, Matamira B Kale, menyebut lonjakan harga komoditas pangan strategis menjadi faktor utama inflasi Desember.

“Kenaikan harga bawang merah dan tomat menjadi pemicu utama inflasi akhir tahun, seiring meningkatnya permintaan masyarakat,” ujarnya, Senin (5/1).

Dari sisi kelompok pengeluaran, makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi 1,74 persen dan andil 0,65 persen. Tekanan ini mencerminkan masih tingginya sensitivitas inflasi NTT terhadap fluktuasi harga pangan. Perawatan pribadi dan jasa lainnya turut memberi tekanan dengan inflasi 1,62 persen dan andil 0,11 persen, sementara transportasi mencatat inflasi 0,42 persen dengan andil 0,06 persen akibat meningkatnya mobilitas masyarakat.

Namun, inflasi tidak melonjak lebih tinggi karena adanya penurunan harga pada sejumlah kelompok. Pakaian dan alas kaki mengalami deflasi 0,37 persen, sedangkan informasi, komunikasi, dan jasa keuangan turun 0,01 persen, sehingga berperan sebagai penahan laju inflasi.

Analisis berbasis Sensus Ekonomi 2026 menunjukkan bawang merah sebagai komoditas pendorong inflasi paling konsisten dengan andil 0,16 persen, disusul tomat 0,14 persen, daging ayam ras 0,09 persen, angkutan udara 0,07 persen, dan emas perhiasan 0,07 persen. Dominasi pangan segar mengindikasikan masih rentannya inflasi NTT terhadap gangguan pasokan dan distribusi.

Tekanan inflasi juga menunjukkan variasi antardaerah. Waingapu mengalami dorongan kuat dari ikan tongkol dengan andil 0,70 persen, diikuti bawang merah 0,33 persen dan cabai rawit 0,24 persen. 

Kabupaten Timor Tengah Selatan terdorong oleh bawang merah 0,35 persen dan tomat 0,25 persen. Di Maumere, inflasi dipicu tomat serta ikan selar atau ikan tude yang masing-masing berkontribusi 0,15 persen. 

Kabupaten Ngada terdorong bawang merah 0,17 persen dan ikan tembang 0,13 persen, sedangkan Kota Kupang dipengaruhi kenaikan harga emas perhiasan dan angkutan udara yang masing-masing menyumbang 0,12 persen.

Di sisi lain, peran komoditas penghambat inflasi menjadi penyeimbang penting. Secara provinsi, ikan tembang dan daun singkong masing-masing menahan inflasi sebesar minus 0,07 persen. Tekanan penurunan harga juga berasal dari jeruk nipis atau limau, angkutan laut, dan ikan kakap merah yang masing-masing berkontribusi minus 0,02 persen. 

Pada tingkat wilayah, Waingapu terbantu oleh turunnya harga ikan tembang minus 0,30 persen dan ikan kakap merah minus 0,28 persen, sementara Kota Kupang tertahan oleh ikan tembang minus 0,14 persen dan daun singkong minus 0,06 persen.

Matamira menilai perbedaan komoditas pendorong dan penekan inflasi antardaerah mencerminkan tantangan struktural pada sistem pasokan dan distribusi pangan.

“Penguatan distribusi dan ketersediaan pasokan pangan di daerah menjadi kunci menjaga stabilitas inflasi,” katanya.

Ke depan, sinergi pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah menjadi krusial untuk menjaga pasokan pangan strategis dan kelancaran distribusi antarwilayah. 

Dengan inflasi tahunan yang masih berada pada level moderat, stabilitas harga di NTT relatif terjaga, namun kewaspadaan terhadap tekanan pangan musiman tetap perlu ditingkatkan. (H-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya