Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Rupiah Terkapar di Tengah Eskalasi AS–Venezuela

Insi Nantika Jelita
05/1/2026 15:44
Rupiah Terkapar di Tengah Eskalasi AS–Venezuela
Ilustrasi(Antara/Muhammad Adimaja)

NILAI tukar rupiah melemah seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela yang memicu kehati-hatian pelaku pasar global. 

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengungkapkan, pada perdagangan sore ini, Senin (5/1), mata uang rupiah ditutup melemah 15 poin dilevel Rp16.740 per dolar Amerika Serikat (AS) dari penutupan sebelumnya di level Rp16.725. 

"Sedangkan, untuk perdagangan besok, Selasa (6/1), mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang  Rp16.740- Rp.16.770 per dolar AS," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (5/1).

Tekanan terhadap rupiah turut dipicu perkembangan geopolitik di Amerika Latin.
Pejabat AS mengonfirmasi Presiden Venezuela Nicolás Maduro telah ditahan selama penggerebekan akhir pekan di Caracas dan diterbangkan ke Amerika Serikat untuk menghadapi tuduhan kriminal yang telah lama ada.

Operasi tersebut menandai intervensi AS paling langsung di Venezuela dalam beberapa dekade dan memicu kecaman dari beberapa negara, sementara investor menilai implikasinya terhadap pasar energi dan stabilitas regional.

Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa penangkapan Maduro adalah langkah menentukan terhadap apa yang ia gambarkan sebagai rezim kriminal, menambahkan bahwa AS akan memastikan transisi yang aman dan tertib di Venezuela.

Trump mengancam akan mengambil tindakan terhadap negara-negara lain yang bertentangan dengan kebijakan AS, termasuk Kolombia dan Iran. Ia juga mengulangi seruannya untuk pengambilalihan Greenland oleh AS.

Aksi militer, ditambah dengan komentar Trump, meningkatkan ketidakpastian atas geopolitik global. Para analis juga memperingatkan bahwa tindakan Washington dapat menjadi preseden bagi negara-negara adidaya global lainnya, khususnya Tiongkok dan Rusia.

Ibrahim menuturkan, dari faktor internal, pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh rilis data ekonomi domestik. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 mengalami surplus sebesar US$2,66 miliar. Dengan capaian tersebut, Indonesia telah membukukan surplus neraca perdagangan selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Kendati demikian, para analis memperkirakan surplus dagang RI di 2026 terancam menyempit. 

Kinerja perdagangan masih dibayangi pelemahan ekspor. BPS mencatat nilai ekspor Indonesia pada November 2025 mencapai US$22,52 miliar atau turun 6,6% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan November 2024. Penurunan ekspor terutama disebabkan oleh melemahnya ekspor nonmigas, khususnya pada komoditas bahan bakar mineral, lemak nabati, serta besi dan baja. Sementara itu, nilai impor pada November 2025 tercatat sebesar US$19,86 miliar atau menurun 0,46% secara tahunan (yoy).  (Ins/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik