Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
ESKALASI ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela secara langsung memicu kewaspadaan pengusaha Indonesia terhadap kinerja ekspor nasional. Ini mengingat pertumbuhan ekspor Indonesia ke Venezuela dalam dua tahun terakhir tergolong tinggi dan sangat bergantung pada stabilitas ekonomi serta daya beli di negara tersebut.
“Ketegangan geopolitik berpotensi menahan laju ekspor Indonesia ke Venezuela," ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani kepada Media Indonesia, Senin (5/1).
Berdasarkan data perdagangan, total nilai perdagangan Indonesia–Venezuela pada 2024 tercatat sekitar US$69,2 juta atau sekitar Rp1,16 triliun (asumsi kurs Rp16.744). Kinerja tersebut menunjukkan tren pertumbuhan positif selama periode 2020–2024 dengan mencapai 25,4%. Memasuki periode Januari–Oktober 2025, nilai perdagangan meningkat menjadi US$82,7 juta atau sekitar Rp1,38 triliun, tumbuh 44,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh lonjakan ekspor Indonesia ke Venezuela, yang meningkat dari US$27,7 juta pada 2023 atau sebesar Rp463,81 miliar, menjadi US$48,8 juta atau Rp817,11 miliar pada 2024, atau tumbuh sekitar 76%. Ekspor kembali melonjak pada periode Januari–Oktober 2025 menjadi US$68,7 juta atau senilai Rp1,15 triliun, naik 80,25% secara tahunan.
Shinta menjelaskan, komoditas ekspor utama Indonesia ke Venezuela didominasi oleh produk manufaktur dan barang konsumsi, antara lain sabun dan preparat pembersih, kendaraan dan bagiannya, serat stapel buatan, pakaian jadi non-rajutan, serta kertas dan karton.
Dari sisi impor, terdapat risiko sektoral tertentu, khususnya pada komoditas kakao. Meski nilainya relatif kecil secara agregat, risiko tersebut tetap perlu dimitigasi oleh pelaku usaha melalui diversifikasi sumber pasokan. Secara keseluruhan, nilai impor Indonesia dari Venezuela tergolong terbatas, yakni sekitar US$20,3 juta atau Rp339,90 miliar pada 2024, dan menurun menjadi US$14,0 juta atau Rp234,42 miliar pada periode Januari–Oktober 2025.
Impor tersebut terutama berupa kakao atau cokelat serta sayuran, dengan kontribusi yang sangat kecil terhadap kebutuhan nasional. Dengan struktur perdagangan seperti ini, neraca perdagangan Indonesia–Venezuela justru mencatat surplus yang terus meningkat, dari US$7,3 juta atau sekitar Rp122,23 miliar,pada 2023, naik menjadi US$28,5 juta atau Rp477,20 miliar pada 2024, dan melonjak menjadi US$54,7 juta,atau setara Rp915,90 miliar pada periode Januari–Oktober 2025.
“Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela memang perlu dicermati secara serius, namun juga harus ditempatkan secara proporsional,” tegas Shinta.
Kendati demikian, pihaknya menerangkan, posisi Venezuela dalam peta ekspor Indonesia masih tergolong minor. Pada 2024, Venezuela berada di peringkat ke-108 dari 201 negara tujuan ekspor Indonesia, dengan pangsa sekitar 0,02% dari total ekspor nasional. Di kawasan Amerika Latin dan Karibia, Venezuela menempati peringkat ke-17 dari sekitar 33 negara, atau hanya mewakili sekitar 1,6% dari total ekspor Indonesia ke kawasan tersebut.
“Data ini menunjukkan bahwa meskipun pertumbuhan ekspor ke Venezuela cukup tinggi, kontribusinya terhadap kinerja ekspor nasional secara keseluruhan masih sangat terbatas,” imbuhnya.
Selain dampak langsung terhadap perdagangan bilateral, dunia usaha juga mencermati potensi risiko tidak langsung melalui sentimen global. Eskalasi geopolitik dinilai berpotensi memperburuk ketidakpastian global, meningkatkan volatilitas harga energi dan komoditas, serta memengaruhi biaya logistik, pembiayaan, dan transaksi internasional.
Dalam konteks energi, dunia usaha juga mewaspadai potensi dampak lanjutan terhadap harga energi dan biaya produksi. Apabila kondisi tersebut berlangsung berkepanjangan, hal ini dapat memengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat.
“Ini dapat memengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat, sehingga stabilitas makroekonomi dan koordinasi kebijakan menjadi kunci,” kata Shinta.
Dalam menghadapi situasi tersebut, dunia usaha terus mendorong langkah-langkah antisipatif, antara lain melalui diversifikasi pasar ekspor dan sumber impor, penguatan manajemen risiko rantai pasok, serta peningkatan efisiensi dan daya saing industri domestik.
Apindo juga berharap pemerintah terus menjaga stabilitas makroekonomi, kelancaran sistem pembayaran internasional, serta memperkuat diplomasi ekonomi agar kepentingan perdagangan dan investasi Indonesia tetap terlindungi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Secara keseluruhan, Shinta menilai meskipun ketegangan AS–Venezuela perlu diwaspadai, eksposur langsung Indonesia saat ini masih relatif terbatas.
"Risiko yang ada dinilai masih dapat dikelola melalui koordinasi kebijakan yang baik serta kesiapan dunia usaha," tegasnya.
Ke depan, dunia usaha akan terus mencermati dan memonitor perkembangan serta eskalasi geopolitik global, dengan harapan dinamika yang terjadi tidak semakin menambah ketidakpastian dan volatilitas perekonomian global yang pada akhirnya dapat berdampak pada kinerja dunia usaha di Indonesia. (Ins/I-1)
Donald Trump mengeklaim Venezuela akan menyerahkan antara 30 hingga 50 juta barel minyak kepada AS menyusul operasi militer Washington dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Cadangan minyak Venezuela bahkan melebihi milik Arab Saudi, Iran, dan Irak, menjadikan Venezuela sebagai negara dengan sumber daya minyak yang sangat strategis di pasar energi global.
Cadangan minyak Venezuela bahkan melebihi milik Arab Saudi, Iran, dan Irak, menjadikan Venezuela sebagai negara dengan sumber daya minyak yang sangat strategis di pasar energi global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved