Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Inklusi Tinggi, Literasi Rendah: Masalah Keuangan bagi Generasi Z

Despian Nurhidayat
29/11/2025 14:19
Inklusi Tinggi, Literasi Rendah: Masalah Keuangan bagi Generasi Z
Ilustrasi(Freepik)

Di tengah perekonomian yang makin kompleks dan layanan keuangan digital yang berkembang pesat, literasi keuangan menjadi keterampilan penting bagi generasi muda Indonesia. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan OJK menunjukkan adanya kesenjangan signifikan: meski inklusi keuangan telah mencapai 80,51%, tingkat literasi baru berada di angka 66,46%. Artinya, kemudahan akses terhadap layanan finansial belum diimbangi kemampuan memahami dan mengelola produk tersebut secara bijak.

Tantangan serupa ditunjukkan oleh riset Katadata Insight Center. Sebanyak 49,5% generasi Y dan 59,4% generasi Z mengaku pengeluaran mereka lebih besar dibanding pendapatan. Temuan ini mempertegas pentingnya pemahaman mendasar mengenai pengelolaan keuangan personal, mulai pengaturan pendapatan, belanja, tabungan, dana darurat, hingga investasi.

Merespons kebutuhan tersebut, AIESEC di Universitas Prasetiya Mulya menggelar Impact Circle (IC) 2025 pada 14 November 2025, sebuah forum kolaboratif tahunan yang mempertemukan mahasiswa, profesional, dan penggerak perubahan untuk membahas isu sosial-ekonomi. Mengusung tema Money Talks: Mastering Your Personal Finance Strategy, IC 2025 memberikan wawasan dan strategi pengelolaan keuangan yang relevan bagi generasi muda.

Acara yang berlangsung di Auditorium Harry Jusuf, Universitas Prasetiya Mulya ini menghadirkan Hany Gungoro, CFA, Business & Financial Mentor dengan pengalaman lebih dari 30 tahun. Hany menekankan bahwa kunci literasi keuangan bukan pada kemampuan menghitung semata, melainkan perilaku individu terhadap uang.

“Literasi keuangan bukan soal matematika, tetapi soal perilaku. Anak muda harus konsisten mencatat pengeluaran dan membangun disiplin menabung. Nominalnya tidak menjadi soal, yang penting konsisten. Dengan disiplin berinvestasi dan menabung, kita membentuk mindset untuk mengelola uang demi masa depan,” jelasnya.

Usai seminar, peserta mengikuti workshop berbasis studi kasus yang mensimulasikan situasi keuangan seorang fresh graduate. Mereka diajak menganalisis masalah, menyusun strategi anggaran, dan merancang rencana finansial yang realistis sesuai kebutuhan mereka.

Ketua Impact Circle 2025, Daffa Abrian Saleh, menegaskan bahwa literasi keuangan sangat relevan dengan kebiasaan generasi muda saat ini.

“Kemampuan mengelola keuangan adalah fondasi yang membentuk perilaku dan keputusan jangka panjang. Melalui program ini, kami ingin meningkatkan kesadaran sekaligus memberikan alat praktis agar peserta dapat mengelola uang mereka secara bijak,” ujarnya.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang rangkaian kegiatan. Devina Priyanka, mahasiswa S1 Bisnis Universitas Prasetiya Mulya, mengaku mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam.

“Biasanya saya hanya mendengar teori tentang investasi atau budgeting. Lewat acara ini saya memahami bagaimana uang bergerak dalam situasi nyata. Saya jadi lebih percaya diri untuk mulai mengatur keuangan pribadi,” katanya.

Dengan ratusan peserta dari kalangan mahasiswa maupun masyarakat umum, Impact Circle 2025 menegaskan komitmen AIESEC untuk terus menghadirkan program yang memperkuat literasi finansial, mendorong kolaborasi lintas sektor, dan mempersiapkan generasi muda Indonesia untuk berkontribusi pada pembangunan ekonomi nasional. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik