Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Belanja Impulsif dan Jerat Pinjaman Online Mengintai Pelajar Indonesia

Despian Nurhidayat
27/11/2025 10:43
Belanja Impulsif dan Jerat Pinjaman Online Mengintai Pelajar Indonesia
Ilustrasi(PJI)

Meningkatnya akses layanan keuangan digital di kalangan remaja Indonesia membawa konsekuensi baru: paparan terhadap perilaku finansial yang tidak sehat. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan inklusi keuangan pelajar telah mencapai 69%, namun tingkat literasinya masih berada di 56,42%. Ketidakseimbangan tersebut membuat generasi muda lebih rentan terhadap belanja impulsif, jerat pinjaman online ilegal, hingga judi daring. Tekanan sosial dan ekonomi turut memperburuk situasi. Sebanyak 64% Gen Z mengaku mengalami stres finansial, sementara 39% menggunakan skema paylater untuk kebutuhan yang bukan prioritas.

Menanggapi kondisi tersebut, PT Bank HSBC Indonesia bersama Prestasi Junior Indonesia (PJI) menjalankan program JA More than Money. Itu merupakan sebuah inisiatif edukasi finansial dan kewirausahaan untuk siswa SMP yang menekankan praktik langsung, kemampuan mengambil keputusan, serta pemahaman risiko dalam kehidupan sehari-hari. Sejak September 2025, program ini telah melibatkan 1.440 pelajar dari lima sekolah di Jakarta dan Bandung melalui pengajaran di kelas, mentoring daring, hingga kunjungan edukatif ke kantor cabang HSBC Indonesia untuk mengenal operasional perbankan dan prinsip pengelolaan uang yang aman.

Direktur Edukasi dan Literasi Keuangan OJK, Cecep Setiawan, menilai pendidikan finansial adalah fondasi penting bagi pelajar di tengah budaya digital yang cepat dan tren konsumsi yang dipengaruhi gaya hidup. Ia menegaskan bahwa literasi finansial bukan sekadar kemampuan menghitung uang, tetapi juga memahami risiko, memprioritaskan kebutuhan, serta merencanakan masa depan. Menurutnya, program seperti JA More than Money dapat membentuk siswa menjadi agen perubahan yang mampu menularkan kebiasaan finansial sehat di lingkungan mereka.

President Director PT Bank HSBC Indonesia, Stuart Rogers, menambahkan bahwa peningkatan literasi keuangan merupakan komitmen jangka panjang perusahaan. Selama lebih dari 10 tahun bermitra dengan PJI, HSBC berupaya membantu pelajar membangun keterampilan mengelola keuangan sejak dini. Hal ini sejalan dengan temuan HSBC Affluent Investor Snapshot 2025, yang menunjukkan semakin besarnya perhatian generasi muda Asia terhadap investasi dan perencanaan finansial masa depan. Rogers menilai kecakapan finansial yang kuat diperlukan untuk menghindari risiko, mulai dari konsumsi impulsif hingga kejahatan finansial daring, sekaligus memastikan tercapainya tujuan keuangan jangka panjang yang berkelanjutan.

Sebagai rangkaian puncak, sebanyak 50 siswa berpartisipasi dalam Financial Literacy Innovation Challenge, kompetisi yang mendorong mereka merancang solusi kreatif dan relevan terhadap persoalan literasi finansial di lingkungan sekitarnya. Peserta diminta menghasilkan ide yang memadukan kreativitas, teknologi, dan kepedulian sosial, mulai dari pengelolaan uang pribadi, kontrol perilaku konsumtif, hingga penerapan gaya hidup finansial yang lebih bijak.

Menurut Natalia Soebagjo, Dewan Nasional Prestasi Junior Indonesia, pola keuangan remaja saat ini menunjukkan perubahan: uang tidak hanya digunakan untuk kebutuhan masa depan, tetapi juga sebagai bentuk ekspresi diri dan pemenuhan emosional. Hal ini dapat menjadi perkembangan positif, tetapi berpotensi berubah menjadi konsumsi impulsif jika tidak diimbangi pemahaman yang memadai. Melalui kompetisi ini, siswa diajak mengenali pola perilaku mereka sendiri, memahami risiko, dan merancang solusi yang dekat dengan kehidupan mereka agar literasi keuangan menjadi keterampilan hidup yang meningkatkan ketahanan finansial.

Beragam ide inovatif muncul dari para peserta, mulai dari aplikasi pengelolaan keuangan berbasis kecerdasan artifisial dan gamifikasi, platform e-money dengan fitur pencatatan keuangan harian, hingga permainan edukatif yang mengajarkan kebiasaan menabung dan pengambilan keputusan finansial. Ada pula solusi berbasis komunitas seperti platform belanja produk lokal dengan edukasi finansial terintegrasi, serta model pembelajaran interaktif untuk membangun kebiasaan mengelola uang secara digital. Ide-ide tersebut menunjukkan bahwa literasi finansial dapat dikemas secara menarik, relevan, dan dekat dengan kehidupan remaja.

Selama 17 tahun, kolaborasi strategis HSBC Indonesia dan PJI dalam penguatan literasi finansial telah menjangkau lebih dari 49.000 pelajar melalui berbagai program seperti JA More than Money, Anak Cerdas, JA Building a Financially Capable Generation, dan JA Bank in Action. Kemitraan ini menegaskan komitmen kedua pihak untuk membekali generasi muda dengan kemampuan finansial yang relevan dengan risiko masa kini melalui pendekatan praktis, kreatif, dan berkelanjutan. Ke depan, HSBC Indonesia dan PJI bertekad terus memberdayakan anak muda Indonesia agar semakin siap membangun masa depan finansial yang aman, tangguh, dan berkelanjutan. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya