Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Ancaman Berbasis AI kian Marak, Keamanan Identitas Digital harus Diperkuat

Ihfa Firdausya
17/11/2025 21:01
Ancaman Berbasis AI kian Marak, Keamanan Identitas Digital harus Diperkuat
Ilustrasi(Antara)

Meningkatnya adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di berbagai sektor, termasuk layanan publik dan kesehatan, turut membuka risiko baru terhadap keamanan siber dan identitas digital. Di tengah ancaman generative fraud dan deepfake yang kian canggih, penyedia identitas digital Vida menegaskan perlunya kolaborasi lintas industri untuk membangun sistem kepercayaan digital nasional yang adaptif dan aman. Isu tersebut menjadi sorotan dalam forum National Cybersecurity Connect 2025, di mana perusahaan menekankan bahwa teknologi keamanan saat ini harus mampu menghadapi modus penipuan berbasis AI.

"AI bisa menciptakan realitas palsu yang semakin sulit dibedakan. Identitas digital tervalidasi kini menjadi fondasi kepercayaan baru," ujar Founder dan Group CEO Vida, Niki Luhur, dalam paparannya.

Ia menegaskan bahwa verifikasi identitas bukan lagi sekadar kepatuhan administratif, melainkan bagian penting dari arsitektur keamanan di era AI-powered fraud. Digitalisasi kesehatan sedang berlangsung di seluruh dunia. WHO mencatat lebih dari 60% negara telah memasukkan strategi digital kesehatan dalam kebijakan nasional. Indonesia juga tengah mengintegrasikan data pasien secara real-time dalam sistem layanan publik.

Namun, digitalisasi membuka celah baru kejahatan. Fraud Intelligence Report VIDA 2025 mencatat 97% organisasi di Indonesia pernah menjadi target social engineering, sementara kerugian akibat penipuan OTP mencapai Rp2,5 triliun (OJK, 2024). Deepfake di Asia Pasifik melonjak 1.550% dalam dua tahun terakhir, dan kini mulai meniru suara maupun wajah tenaga medis untuk membobol sistem kesehatan. Fenomena tersebut melahirkan bentuk kejahatan baru, yaitu generative fraud atau penggunaan AI untuk membangun identitas, dokumen, atau percakapan palsu secara meyakinkan.

Chief Operating Officer Vida, Victor Indajang, menegaskan bahwa identitas digital aman dan tanda tangan elektronik tersertifikasi harus dilihat sebagai infrastruktur kepercayaan, bukan sekadar alat legalitas.

“Mulai dari pendaftaran pasien hingga persetujuan tindakan medis dan klaim asuransi, semua bergantung pada verifikasi identitas dan rekam jejak digital yang bisa diaudit,” ujarnya.

Melalui solusi seperti Deepfake Shield dan Fraud Scanner, ia mengeklaim dapat mendeteksi manipulasi visual, suara, dan dokumen digital secara otomatis berbasis AI.

Vida menyatakan aktif berkolaborasi dengan Kominfo, OJK, Bank Indonesia, industri perbankan, fintech, hingga sektor kesehatan untuk membangun Digital Trust Layer, kerangka kerja yang menjamin semua pertukaran data berlangsung aman, terverifikasi, dan antimanipulasi.

“Identitas digital yang aman adalah dasar bagi ekonomi digital Indonesia. Tanpa trust, transformasi digital tidak akan berhasil,” tandasnya. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik