Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
DI era keuangan digital, risiko terbesar bagi masyarakat tidak lagi semata berasal dari fluktuasi pasar. Melainkan dari uang yang tidak bekerja dan sistem penyimpanan dana yang tidak benar-benar aman. Maraknya kasus phishing, pembobolan akun keuangan, dan penyalahgunaan identitas digital menunjukkan bahwa risiko finansial kini lebih banyak datang dari sisi keamanan akses, bukan hanya dari pergerakan harga.
Selama ini, banyak platform keuangan berlomba menawarkan kemudahan transaksi dan fitur cepat, namun sering kali menempatkan keamanan sebagai lapisan tambahan.
Ketika terjadi gangguan sistem atau manipulasi akses akun, nasabah justru menjadi pihak paling rentan. PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) melihat bahwa di lanskap keuangan digital saat ini, keamanan tidak boleh menjadi fitur opsional keamanan harus menjadi fondasi sistem. Berangkat dari prinsip tersebut, IPOT meluncurkan xRDN, sebuah cara menabung digital berbasis pasar modal yang dirancang untuk menjawab dua tantangan utama sekaligus: dana yang tidak produktif dan risiko keamanan digital yang rapuh.
Dalam industri sekuritas, sebagian besar Rekening Dana Nasabah (RDN) maupun tabungan bank hanya memberikan imbal hasil sekitar 0,02%–0,2% per tahun.
"xRDN hadir sebagai alternatif yang lebih produktif bagi dana parkir investor, tanpa mengorbankan aspek perlindungan sistem dan akses akun," ujar President Director & CEO PT. Indo Premier Sekuritas Moleonoto dalam keterangan resmi, Rabu (18/2).
Menurutnya, kepercayaan terhadap pendekatan ini terlihat jelas saat gejolak pasar pada akhir Januari lalu.
Di tengah meningkatnya volatilitas dan sikap defensif investor, IPOT mengaku justru mencatat masuknya dana investor dalam skala triliunan rupiah ke dalam ekosistem xRDN, menunjukkan kepercayaan pasar terhadap kombinasi produktivitas dana dan kekuatan fondasi keamanan IPOT.
Dari sisi keamanan, xRDN dirancang dalam ekosistem yang tidak bergantung pada satu lapisan sistem semata. Jika terjadi gangguan pada sistem eksternal seperti perbankan, dana nasabah tetap berada dalam struktur yang terisolasi dan aman. Lebih jauh, IPOT menerapkan sistem keamanan 3-lapis yang memastikan bahwa sekalipun pengguna menjadi korban phishing, akun saham tetap terkunci dan tidak dapat disalahgunakan secara sepihak. Pendekatan ini menempatkan perlindungan akun sebagai prioritas utama, bukan sekadar kecepatan transaksi.
Moleonoto menuturkan, bagi investor pasar modal, xRDN berfungsi sebagai cash asset strategis, yakni likuid, lebih produktif, dan disiapkan dengan asumsi terburuk bahwa risiko phishing dan hacking adalah ancaman nyata.
"Sementara bagi penabung bank dan masyarakat digital, xRDN menawarkan cara menabung Gen Z yang lebih relevan dengan tantangan zaman, imbal hasil lebih tinggi, likuiditas terjaga, dan sistem keamanan yang dibangun sejak awal," tegasnya.
IPOT menegaskan xRDN bukan instrumen spekulatif dan tidak menjanjikan imbal hasil tetap. xRDN dikelola sesuai regulasi pasar modal Indonesia dengan prinsip transparansi dan perlindungan investor. Namun satu hal ditegaskan: di era keuangan digital, platform yang tidak menempatkan keamanan sebagai fondasi akan semakin ditinggalkan, terlepas dari seberapa cepat atau populernya mereka.
“Di saat banyak pihak fokus pada fitur dan pertumbuhan, kami memilih fokus pada fondasi. Dana nasabah harus produktif, tetapi sistemnya harus jauh lebih kuat. Security bukan tambahan, security adalah fondasi IPOT,” ujar Moleonoto. (E-4)
Di tengah ekspansi ekonomi digital yang kian cepat, industri financial technology (fintech) Indonesia memasuki fase baru: dari mengejar pertumbuhan.
Meningkatnya penggunaan aplikasi keuangan digital di Indonesia diikuti oleh risiko kejahatan siber yang semakin kompleks.
Kehadiran layanan ini tidak hanya memperpendek jarak akses transaksi nontunai di wilayah pelosok, tetapi juga menjadi katalisator dalam menyerap tenaga kerja lokal.
Inovasi berkelanjutan menjadi kunci bagi industri keuangan digital untuk tetap relevan dan dipercaya masyarakat.
Masyarakat semakin cepat mengakses layanan keuangan digital, namun pemahaman mereka belum sepenuhnya sejalan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved