Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Penguatan Ekonomi Domestik Dorong Laju Impor

Insi Nantika Jelita
09/11/2025 13:16
Penguatan Ekonomi Domestik Dorong Laju Impor
Petugas mengawasi proses bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Ahmad Yani Ternate, Maluku Utara.(Antara/Andri Saputra)

KEPALA Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyampaikan permintaan domestik menunjukkan penguatan seiring dengan meningkatnya kinerja impor

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai impor pada September 2025 tercatat sebesar US$20,34 miliar atau senilai Rp339,47 triliun (asumsi kurs Rp16.690). Angka ini naik 7,17% secara tahunan (yoy), pulih dari kontraksi 6,56% (yoy) pada Agustus 2025. Secara bulanan, impor meningkat 4,42% (mom). 

Pertumbuhan impor terjadi di seluruh kelompok barang, yaitu barang konsumsi, bahan baku, dan barang modal. Peningkatan terutama berasal dari pemulihan impor barang konsumsi dan bahan baku yang sebelumnya sempat tertekan.

"Tren ini menunjukkan permintaan domestik yang semakin kuat di tengah agenda kebijakan pro-pertumbuhan pemerintah," kata Josua kepada Media Indonesia, Minggu (9/11).

Penguatan ini juga tecermin dari meningkatnya Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang naik dari 50,4 pada September menjadi 51,2 pada Oktober 2025, menandakan ekspansi sektor manufaktur.

Ke depan, penghapusan tarif atas produk dari Amerika Serikat (AS), serta komitmen Indonesia memperluas impor dari AS diperkirakan turut memperkuat impor. 

Di sisi lain, pergeseran orientasi ekspor Tiongkok ke pasar Afrika dan ASEAN meningkatkan pasokan global dan memberi tekanan tambahan pada impor Indonesia. Turunnya harga minyak akibat meredanya ketegangan geopolitik berpotensi turut menurunkan nilai impor. 

Namun, kata Josua, seiring dengan langkah pemerintah mendorong agenda pro-pertumbuhan melalui inisiatif berbasis investasi, aktivitas impor diperkirakan akan secara bertahap menguat seiring perjalanan waktu.

Sementara itu, ekspor Indonesia pada September 2025 tumbuh 11,41% menjadi US$24,68 miliar atau sebesar Rp411,91 triliun, lebih tinggi dari 5,78% (yoy) pada Agustus 2025. Meskipun demikian, secara bulanan ekspor turun 1,14% (mom), menandakan proses normalisasi setelah periode percepatan ekspor akibat antisipasi penerapan tarif resiprokal AS. Ekspor nonmigas ke AS terutama mengalami penurunan sebesar 10,72% (mom).

Menurut BPS, harga batu bara menurun secara tahunan, sementara harga CPO meningkat baik secara bulanan maupun tahunan. Kinerja ekspor juga didukung oleh meningkatnya permintaan dan harga logam mulia, termasuk emas. Sektor besi dan baja tetap menjadi kontributor utama pertumbuhan ekspor. Selain itu, PMI manufaktur negara-negara mitra dagang utama membaik pada September 2025, menjaga permintaan global.

Pertumbuhan ekspor yang tinggi pada paruh pertama 2025 sebagian besar dipicu percepatan pesanan sebelum tarif resiprokal berlaku. "Sehingga, kinerja ekspor berpotensi menormal pada paruh kedua tahun ini," terang Josua. 

Surplus perdagangan Indonesia terpantau menurun dari US$5,49 miliar atau sekitar  Rp91,63 triliun pada Agustus 2025, menjadi US$4,34 miliar pada September 2025, atau setara Rp72,43 triliun. Meski mengalami penurunan, Indonesia tetap mencatat surplus selama 65 bulan berturut-turut. 

Secara kumulatif, surplus perdagangan sepanjang Januari–September 2025 mencapai US$33,48 miliar, atau sekitar Rp558,78 triliun, meningkat jika dibanding dengan periode yang sama tahun 2024 yang sebesar US$22,18 miliar atau sekitar Rp370,18 triliun.

Permintaan global diperkirakan tetap lemah, khususnya akibat perlambatan ekonomi Tiongkok. 

"Namun, penurunan tarif resiprokal AS terhadap barang Indonesia dan membaiknya situasi perang dagang global dapat mengurangi tekanan terhadap ekspor," ramal Josua.

Dengan proyeksi bahwa pertumbuhan impor akan melampaui ekspor dalam jangka menengah, neraca transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) diperkirakan melebar moderat menjadi sekitar 0,81% produk domestik bruto (PDB) pada 2025, dari 0,62% pada 2024. 

"Meski melebar, CAD tetap dalam batas yang dinilai stabil sehingga masih memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan kebijakan pelonggaran moneter" jelas Josua.

Impor meningkat
Sebelumnya, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini memaparkan, nilai impor Indonesia pada periode Januari–September 2025 mencapai US$176,32 miliar atau sekitar Rp2.942,78 triliun, meningkat 2,62% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. 

"Peningkatan ini terutama didorong oleh impor sektor nonmigas yang mencapai US$152,58 miliar (Rp2.546,56 triliun), tumbuh 5,17%," katanya dalam konferensi pers Rilis BPS pada 3 November 2025, secara daring, Senin (3/11).  

Sementara itu, impor migas justru mengalami penurunan sebesar 11,21% menjadi US$23,75 miliar atau sekitar Rp396,39 triliun.

Dari sisi penggunaan, pertumbuhan impor terutama terlihat pada barang modal. Nilainya mencapai US$35,90 miliar atau senilai Rp599,17 triliun, naik 19,13% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Tiongkok masih menjadi negara pemasok utama impor nonmigas bagi Indonesia, dengan nilai mencapai US$62,07 miliar, sekitar Rp1.035,95 triliun dengan andil 40,68%. Posisi berikutnya diisi oleh Jepang sebesar US$11,01 miliar atau sebesar Rp183,76 triliun dengan andil 7,22%, dan AS sebesar US$7,33 miliar atau sekitar Rp122,34 triliun dengan andil 4,81%. 

"Impor dari Tiongkok didominasi oleh mesin dan peralatan mekanis, perlengkapan elektrik, serta kendaraan dan komponennya," terang Pudji.

Sementara itu, surplus perdagangan nonmigas sepanjang sembilan bulan pertama 2025 terutama ditopang oleh lima komoditas utama. Yakni, lemak dan minyak hewani/nabati sebesar US$25,14 miliar (Rp419,59 triliun), bahan bakar mineral sebesar US$20,15 miliar (Rp336,30 triliun). Lalu, besi dan baja sebesar US$14,11 miliar (Rp235,50 triliun), produk nikel sebesar US$6,50 miliar (Rp108,48 triliun), dan logam mulia dan perhiasan/permata sebesar US$5,41 miliar (Rp90,29 triliun). (Ins/E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Mirza
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik