Headline
Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH melalui Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 dan kinerja ekonomi sepanjang 2025. Salah satu sorotan utama ialah sektor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang menunjukkan pemulihan signifikan. Pada kuartal IV 2025, subsektor ini tercatat tumbuh 4,37 persen secara tahunan (year-on-year), di tengah tekanan global dan perlambatan permintaan di sejumlah negara tujuan ekspor.
Pertumbuhan itu dinilai sebagai sinyal kuat bahwa fondasi industri tekstil nasional masih kokoh dan memiliki daya tahan tinggi. Sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai tepat sasaran turut menjadi penopang, mulai dari penguatan pengawasan impor, penataan perizinan, dukungan pembiayaan, hingga insentif fiskal bagi industri padat karya.
Iqbal dari Aliansi Masyarakat Tekstil Indonesia (AMKI), Rabu (5/2), menyampaikan apresiasi kepada pemerintah, khususnya Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, serta Kementerian Keuangan yang dinilai konsisten berpihak pada keberlangsungan industri tekstil nasional. Menurutnya, kebijakan yang pro-industri telah membantu menjaga stabilitas produksi, mempertahankan tenaga kerja, dan meningkatkan utilisasi pabrik yang sempat tertekan pada periode sebelumnya.
"Langkah-langkah tersebut sejalan dengan arah kebijakan pembangunan industri nasional yang menempatkan sektor padat karya sebagai prioritas. Ini bukti nyata bahwa keberpihakan terhadap industri strategis benar-benar dijalankan, bukan sekadar wacana," ungkapanya.
Menurut Iqbal, selain faktor kebijakan, pelaku industri juga mencatat ada perbaikan pada sisi permintaan domestik, terutama menjelang akhir tahun yang biasanya didorong oleh musim belanja dan kebutuhan seragam, fesyen, serta perlengkapan tekstil rumah tangga. Beberapa pabrikan bahkan mulai meningkatkan kapasitas produksi secara bertahap untuk mengantisipasi potensi kenaikan permintaan pada semester pertama 2026.
"Meski demikian, AMKI mengingatkan bahwa tantangan global belum sepenuhnya reda. Persaingan dengan produk impor berharga murah, fluktuasi nilai tukar, serta ketidakpastian ekonomi global masih menjadi faktor risiko yang perlu diantisipasi bersama. Oleh karena itu, kesinambungan kebijakan proteksi yang terukur dan berbasis data dinilai penting agar momentum pertumbuhan tidak terhenti," paparnya.
Iqbal juga menyinggung ada pihak-pihak tertentu yang dinilai kerap menyampaikan narasi negatif terhadap capaian industri tekstil nasional. Tanpa menyebut nama, ia menyatakan bahwa kritik yang tidak berbasis data justru dapat mengganggu persepsi pasar dan iklim investasi.
"Kepentingan nasional harus diutamakan di atas kepentingan kelompok. Industri tekstil ini menyerap jutaan tenaga kerja dan sangat sensitif terhadap sentimen," tegasnya.
Ke depan, lanjut Iqbal, pelaku industri berharap pemerintah terus memperkuat ekosistem hulu hingga hilir, termasuk pengembangan bahan baku dalam negeri, modernisasi mesin produksi, serta peningkatan daya saing melalui efisiensi energi dan digitalisasi manufaktur. Dengan kolaborasi yang solid antara pemerintah dan dunia usaha, tren positif pada kuartal IV 2025 diharapkan menjadi pijakan kuat untuk pertumbuhan yang lebih berkelanjutan di 2026. (I-2)
Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengungkap praktik penghindaran pajak berskala besar di sektor perdagangan tekstil.
Penertiban produk impor ilegal oleh pemerintah menjadi mementum penting bagi kebangkitan industri UMKM bidang tekstil lokal di Indonesia.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Mohammad Faisal mengungkapkan lonjakan pemutusan hubungan kerja (PHK) pada 2025 banyak terjadi pada industri padat karya.
Pemerintah bersiap melakukan intervensi strategis di sektor tekstil nasional menyusul kolapsnya PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), salah satu pemain terbesar industri tekstil.
Ketua Umum Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI), Anne Patricia Sutanto, mengapresiasi fokus Presiden Prabowo Subianto terhadap penguatan dan hilirisasi industri tekstil dan garmen.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengapresiasi langkah ekspansi yang dilakukan PT Citra Terus Makmur sebagai langkah strategis dalam memperkuat industri tekstil nasional.
Daya saing produk TPT Indonesia terlihat di salah satu pasar tujuan ekspor terpenting, yaitu Amerika Serikat.
Lonjakan impor, baik legal maupun ilegal, disebut menjadi faktor utama yang membuat industri tekstil nasional semakin terpuruk.
Pemerintah memandang pentingnya pembenahan menyeluruh terhadap industri TPT agar mampu bertahan dan berkembang dalam lanskap persaingan yang berubah cepat.
POY dan DTY merupakan bahan baku penting bagi industri tekstil berbasis poliester dan diwacanakan akan dikenakan tarif tertinggi bea masuk antidumping sebesar 42,30%.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved