Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
ANALIS Intelligence & National Security Studies (INSS), Rijal Wahid menyebut Indonesia harus memperkuat strategi jangka panjang dalam menanggapi perkembangan terbaru terkait kebijakan tarif resiprokal atau kebijakan tarif AS yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump.
Rijal menilai bahwa langkah cepat pemerintah Indonesia untuk merespons pengenaan tarif sebesar 32% melalui negosiasi aktif dengan United States Trade Representative (USTR), Departemen Perdagangan, dan Departemen Keuangan AS merupakan keputusan yang tepat. Respons cepat ini, katanya, tidak hanya berfungsi mengurangi tekanan jangka pendek, tetapi juga menjaga kredibilitas posisi Indonesia di mata internasional.
“Negosiasi yang diiringi dengan proposal konkret seperti penyesuaian tarif selektif, peningkatan impor energi dan pertanian dari AS, reformasi perpajakan, hingga revisi langkah-langkah non-tarif, menunjukkan pendekatan komprehensif yang patut diapresiasi. Indonesia tidak sekadar menjadi penerima kebijakan global, melainkan aktor aktif yang membentuk arsitektur kerja sama baru,” ujar Rijal, melalui keterangannya, Kamis (1/5).
Menyoroti keputusan Presiden Trump pada 9 April 2025 yang menunda penerapan tarif selama 90 hari, Rijal menilai momentum ini harus dimanfaatkan optimal. Penundaan ini, kata ia, memberikan jendela strategis bagi Indonesia untuk memperdalam negosiasi, mengamankan konsesi yang saling menguntungkan, dan memperkuat posisi daya saing nasional sebelum rezim tarif diberlakukan penuh.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa tantangan utama tetap ada, yakni memastikan agar negosiasi tidak mengorbankan prinsip kedaulatan ekonomi nasional. Rijal menekankan pentingnya memperkuat industri dalam negeri, mempercepat hilirisasi di sektor tekstil, alas kaki, elektronik, dan perikanan, serta menjaga keberlanjutan reformasi struktural di tengah tekanan global.
Dalam perspektif jangka menengah, Rijal memandang bahwa Indonesia justru memiliki peluang strategis. Dengan tarif AS terhadap produk Vietnam (46%), Bangladesh (37%), hingga Tiongkok (145%) yang lebih tinggi dibanding Indonesia, terdapat ruang bagi ekspor Indonesia untuk tumbuh.
Ia juga mendorong percepatan diversifikasi pasar ekspor, penyelesaian perjanjian perdagangan IEU-CEPA dengan Uni Eropa, serta ekspansi ke negara-negara BRICS, Afrika, dan Timur Tengah untuk mengurangi ketergantungan pada pasar tradisional.
"Diversifikasi ini tidak hanya memperluas pasar, tetapi juga meningkatkan resiliensi perdagangan nasional terhadap gejolak geopolitik," katanya.
Dalam konteks domestik, Rijal memperingatkan potensi tekanan terhadap daya beli masyarakat akibat inflasi impor dan volatilitas nilai tukar. Ia menyarankan pemerintah memperkuat cadangan devisa, menjaga stabilitas makroekonomi, dan mengintensifkan dukungan terhadap sektor usaha kecil dan menengah yang paling rentan terdampak.
Sebagai bagian dari pendekatan yang lebih holistik, Rijal menggarisbawahi pentingnya mengintegrasikan pendekatan intelijen ekonomi dalam pengelolaan isu ini. Ia menilai pemerintah perlu meningkatkan kemampuan deteksi dini terhadap risiko pasar global, pemetaan peluang ekspor baru, serta analisis sistematis terhadap kekuatan dan kelemahan kompetitor global.
“Tarif Trump adalah bagian dari medan kompetisi ekonomi global. Indonesia harus menggunakan pendekatan intelijen ekonomi untuk memahami perubahan medan persaingan, memetakan kekuatan negara pesaing, serta memanfaatkan celah strategis secara cepat dan terukur,” tegasnya.
Lebih lanjut, Rijal menekankan bahwa stabilitas ekonomi adalah elemen fundamental dari ketahanan nasional. Respons terhadap tarif ini bukan sekadar soal perdagangan, melainkan soal membangun daya tahan strategis bangsa.
"Ekonomi adalah medan baru pertarungan antarnegara. Kita perlu membangun sistem deteksi dini, proyeksi skenario, dan respons strategis berbasis intelijen ekonomi untuk memastikan Indonesia tetap berdiri kokoh dalam percaturan global,” pungkasnya. (H-3)
PEMERINTAH memilih melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sejak tahap perumusan kebijakan menyusul kesepakatan dagang Indonesia-Amerika Serikat yang berdampak langsung pada sektor strategis.
WAKIL Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengungkapkan bahwa kementeriannya mendapat permintaan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menetapkan standar produk impor.
PEMERINTAH membuka ruang konsultasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kebijakan strategis pascakesepakatan dagang dengan Amerika Serikat.
Pertemuan tersebut secara khusus dilakukan untuk melaksanakan penugasan dari Presiden RI Prabowo Subianto kepada Menko Airlangga
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengumumkan bahwa Indonesia dan Amerika Serikat telah mencapai kesepakatan atas seluruh substansi tarif resiprokal.
perjanjian dagang antara Indonesia dengan Amerika Serikat (AS) dinilai sangat merugikan Indonesia.
USKUP Agung Katolik untuk dinas militer AS mengatakan bahwa secara moral dapat diterima untuk tidak mematuhi perintah jika pasukan menganggap perintah bertentangan dengan hati nurani mereka.
Lonjakan harga emas dunia yang menembus level psikologis USD 4.700 per troy ons dipicu oleh pernyataan kontroversial Presiden AS Donald Trump.
USULAN Dewan Perdamaian Presiden AS Donald Trump dimulai dengan kurang baik. Presiden Prancis Emmanuel Macron segera menolak undangan menjadi anggota dewan tersebut.
PRESIDEN Donald Trump memperjelas selama berbulan-bulan bahkan mungkin bertahun-tahun bahwa ia termotivasi secara unik oleh keinginan untuk memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian.
Sambil memuji Denmark dan para pemimpinnya, Trump mengatakan, bahwa Denmark adalah negara yang luar biasa dan saya tahu para pemimpinnya juga baik
Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mengungkap alasan di balik sikap agresifnya terhadap Greenland.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved