Headline

Prabowo kembali gelar rapat terbatas bahas dampak perang di wilayah Timur Tengah.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Klaim Iran Gunakan Tameng Sipil

Thalatie K Yani
11/3/2026 05:56
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Klaim Iran Gunakan Tameng Sipil
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menuduh Iran menembakkan rudal dari sekolah dan rumah sakit. Ia menegaskan AS tidak akan terjebak dalam perang tanpa akhir.(Media Sosial X)

MENTERI Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, memberikan peringatan keras bahwa hari Selasa ini akan menjadi hari serangan "paling intens" bagi militer AS terhadap Iran. Dalam konferensi pers bersama Jenderal Dan Caine, Hegseth menuduh pemimpin Iran sebagai "pengecut" karena diduga menggunakan fasilitas publik sebagai tameng militer.

Hegseth mengklaim pasukan Iran sengaja meluncurkan rudal dari gedung sekolah dan rumah sakit untuk menghalangi serangan balasan AS. "Iran berdiri sendirian, dan mereka kalah telak," tegas Hegseth, sembari menambahkan proksi Iran seperti Hizbullah, Houthi, dan Hamas kini dalam kondisi hancur atau tidak efektif.

Pencapaian Operasi Militer AS

Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, merinci sejauh ini Komando Pusat AS telah menghantam lebih dari 5.000 target. Operasi tersebut berhasil menghancurkan lebih dari 50 kapal angkatan laut Iran dan melumpuhkan beberapa pabrik drone.

Caine mengungkapkan pasukan AS telah menjatuhkan puluhan bom penembus seberat 2.000 pon berpandu GPS untuk menghancurkan peluncur rudal yang terkubur jauh di bawah tanah. "Serangan rudal balistik terus berkurang," kata Caine, seraya menambahkan AS dan sekutunya berhasil mencegat drone penyerang menggunakan jet tempur dan helikopter serang.

Polemik Korban Sipil di Sekolah Dasar

Saat ditekan mengenai jatuhnya korban sipil, termasuk serangan di sekolah dasar perempuan Shajareh Tayyebeh yang menewaskan lebih dari 165 orang, Hegseth berkilah dengan menuduh Teheran memindahkan peluncur roket ke lingkungan sipil.

"Begitulah cara rezim teroris bertarung. Mereka menargetkan warga sipil. Kami tidak," klaim Hegseth. Ia bersikeras bahwa AS telah mengambil tindakan pencegahan maksimal untuk menghindari kematian warga sipil, meskipun ia mengakui bahwa investigasi membutuhkan waktu.

Sekolah Shajareh Tayyebeh dihantam pada pagi pertama kampanye militer 10 hari lalu saat sekitar 170 siswi berusia 7 hingga 12 tahun berada di kelas. Penilaian awal AS menyebutkan Washington "kemungkinan" bertanggung jawab, yang diduga akibat penggunaan intelijen usang yang masih mengidentifikasi lokasi tersebut sebagai bagian dari pangkalan angkatan laut IRGC, padahal situs tersebut telah dipisahkan sejak 2016.

Masa Depan Konflik dan Sikap Trump

Hegseth menegaskan bahwa konflik ini tidak akan menjadi "perang tanpa akhir" atau upaya pembangunan negara seperti yang terjadi tahun 2003. "Generasi prajurit kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi," ujarnya. Menurutnya, hasil akhir konflik ini akan ditentukan oleh Presiden Donald Trump untuk memastikan AS tidak hidup di bawah ancaman nuklir atau rudal konvensional Iran.

Terkait arah diplomasi, Presiden Trump memberikan pernyataan yang kontradiktif. Kepada Fox News, Trump menyebut ada kemungkinan untuk bernegosiasi jika Iran bersedia bicara. Namun, dalam unggahan sebelumnya di Truth Social, Trump sempat menegaskan, "tidak akan ada kesepakatan dengan Iran kecuali PENYERAHAN DIRI TANPA SYARAT." (The Guardian/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya