Headline
Pemerintah utamakan menjaga kualitas pendidikan.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, memberikan peringatan keras bahwa hari Selasa ini akan menjadi hari serangan "paling intens" bagi militer AS terhadap Iran. Dalam konferensi pers bersama Jenderal Dan Caine, Hegseth menuduh pemimpin Iran sebagai "pengecut" karena diduga menggunakan fasilitas publik sebagai tameng militer.
Hegseth mengklaim pasukan Iran sengaja meluncurkan rudal dari gedung sekolah dan rumah sakit untuk menghalangi serangan balasan AS. "Iran berdiri sendirian, dan mereka kalah telak," tegas Hegseth, sembari menambahkan proksi Iran seperti Hizbullah, Houthi, dan Hamas kini dalam kondisi hancur atau tidak efektif.
Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, merinci sejauh ini Komando Pusat AS telah menghantam lebih dari 5.000 target. Operasi tersebut berhasil menghancurkan lebih dari 50 kapal angkatan laut Iran dan melumpuhkan beberapa pabrik drone.
Caine mengungkapkan pasukan AS telah menjatuhkan puluhan bom penembus seberat 2.000 pon berpandu GPS untuk menghancurkan peluncur rudal yang terkubur jauh di bawah tanah. "Serangan rudal balistik terus berkurang," kata Caine, seraya menambahkan AS dan sekutunya berhasil mencegat drone penyerang menggunakan jet tempur dan helikopter serang.
Saat ditekan mengenai jatuhnya korban sipil, termasuk serangan di sekolah dasar perempuan Shajareh Tayyebeh yang menewaskan lebih dari 165 orang, Hegseth berkilah dengan menuduh Teheran memindahkan peluncur roket ke lingkungan sipil.
"Begitulah cara rezim teroris bertarung. Mereka menargetkan warga sipil. Kami tidak," klaim Hegseth. Ia bersikeras bahwa AS telah mengambil tindakan pencegahan maksimal untuk menghindari kematian warga sipil, meskipun ia mengakui bahwa investigasi membutuhkan waktu.
Sekolah Shajareh Tayyebeh dihantam pada pagi pertama kampanye militer 10 hari lalu saat sekitar 170 siswi berusia 7 hingga 12 tahun berada di kelas. Penilaian awal AS menyebutkan Washington "kemungkinan" bertanggung jawab, yang diduga akibat penggunaan intelijen usang yang masih mengidentifikasi lokasi tersebut sebagai bagian dari pangkalan angkatan laut IRGC, padahal situs tersebut telah dipisahkan sejak 2016.
Hegseth menegaskan bahwa konflik ini tidak akan menjadi "perang tanpa akhir" atau upaya pembangunan negara seperti yang terjadi tahun 2003. "Generasi prajurit kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi," ujarnya. Menurutnya, hasil akhir konflik ini akan ditentukan oleh Presiden Donald Trump untuk memastikan AS tidak hidup di bawah ancaman nuklir atau rudal konvensional Iran.
Terkait arah diplomasi, Presiden Trump memberikan pernyataan yang kontradiktif. Kepada Fox News, Trump menyebut ada kemungkinan untuk bernegosiasi jika Iran bersedia bicara. Namun, dalam unggahan sebelumnya di Truth Social, Trump sempat menegaskan, "tidak akan ada kesepakatan dengan Iran kecuali PENYERAHAN DIRI TANPA SYARAT." (The Guardian/Z-2)
Pentagon ajukan dana Rp3.386 triliun untuk perang melawan Iran. Simak rincian biaya militer AS yang membengkak hingga dampak penutupan Selat Hormuz di sini.
Pentagon meminta persetujuan Gedung Putih untuk anggaran perang di Iran senilai lebih dari US$200 miliar. Akankah Kongres meloloskan dana raksasa ini?
Donald Trump sempat menuding Iran atas serangan maut di SD Minab. Padahal, investigasi mengungkap rudal tersebut adalah Tomahawk milik AS yang salah sasaran akibat data intelijen usang.
Enam tentara AS tewas setelah pesawat KC-135 jatuh di Irak. Pentagon tutup mulut soal detail korban KIA dan WIA di tengah eskalasi perang yang terus memakan korban.
Gedung Putih mengonfirmasi Pentagon akan merilis laporan terkait serangan rudal di sekolah perempuan Iran Selatan.
Mantan Duta Besar RI untuk Iran, Dian Wirengjurit, menilai serangan militer AS ke Iran merupakan upaya Presiden AS Donald Trump untuk mengalihkan perhatian dari skandal Epstein Files.
Wakil presiden tidak memberikan penjelasan lebih lanjut, dengan mengatakan bahwa ia tidak ingin mendahului Presiden Donald Trump
Militer AS mengerahkan bom raksasa 5.000 pon untuk hancurkan situs bawah tanah Iran.
Iran menanggapi serangan brutal itu dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Perang tersebut terlalu menguras anggaran negara. Padahal, menurut dia, situasi internal di Amerika Serikat tidak baik-baik saja dan membutuhkan sokongan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved