Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Bank Tanah (BBT) semakin aktif menggandeng investor asing dan lokal untuk mengoptimalkan pemanfaatan aset lahan yang dikelolanya.
Kepala BBT Parman Nataatmadja, menyatakan bahwa sejumlah investor dari Jepang, Swiss, dan Tiongkok menunjukkan minat besar untuk mengembangkan lahan milik BBT.
Investor asal Tiongkok tertarik mengembangkan kawasan industri di Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur. Rencana tersebut mencakup pembangunan pabrik untuk mendukung sejumlah sektor industri.
Selain itu, BBT juga menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan JTrust, perusahaan asal Jepang, pada Juni 2024. Melalui kemitraan ini, JTrust berencana membangun kawasan Eco City di PPU.
Meski belum ada perkembangan signifikan, Parman optimistis bahwa proyek ini akan terwujud meski proses pengambilan keputusan investasi Jepang biasanya memakan waktu cukup lama.
"Investor asal Swiss juga menunjukkan minat dalam mengembangkan lahan perkebunan kopi di Lembah Ngapu, Poso, Sulawesi Tengah, dengan luas sekitar 6.648 hektare. Namun, proyek ini sempat terhambat akibat dinamika politik dalam negeri," jelas dia.
Selain menggandeng investor asing, BBT juga menjalin kemitraan dengan pengembang properti nasional untuk mengembangkan kawasan seluas 330 hektare di PPU.
Pengembangan ini akan disesuaikan dengan tata ruang wilayah (RTRW) yang mencakup pembangunan kawasan perkotaan, termasuk resor dan lapangan golf.
Hingga Oktober 2024, BBT mengelola aset lahan seluas 27.169 hektare, dengan target tambahan 35.000 hektare pada akhir tahun ini.
Pada 2025, BBT menargetkan ekspansi lahan baru sebesar 140.000 hektare, sehingga total penguasaan lahan mencapai 175.000 hektare.
Ekspansi ini sebagian besar berasal dari kawasan hutan yang dilepaskan atau tanah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan, seperti tanah terlantar, lahan bekas tambang, dan tanah reklamasi yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk PPU, Halmahera Selatan, Sulawesi Tengah, dan lainnya.
BBT juga mendukung program pembangunan tiga juta rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Pengembangan rumah MBR telah dimulai di Kendal dan Brebes.
Di Kendal, proyek ini dilaksanakan bersama Bumi Svarga Asri, yang merencanakan pembangunan 382 unit rumah di atas lahan 4,26 hektare.
Sementara itu, di Brebes, Perumnas menjadi mitra untuk membangun 43 unit rumah MBR.
Melalui sertifikat Hak Pengelolaan Lahan (HPL), Parman menjelaskan bahwa rumah MBR akan memiliki kepastian penggunaan sesuai peruntukannya, dengan opsi peningkatan menjadi hak milik setelah 10 tahun.
"Pendekatan ini memastikan rumah MBR dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat yang membutuhkan," ujar Parman.
Dengan langkah strategis ini, BBT optimistis dapat mempercepat pengembangan lahan untuk mendukung berbagai sektor ekonomi, termasuk perumahan, industri, dan perkebunan. (Z-10)
Momentum ini menjadi titik awal pembenahan internal yang lebih komprehensif, dengan fokus pada penguatan GCG agar operasional perusahaan semakin terstruktur dan akuntabel.
Bursa Efek Indonesia (BEI) merespons pengumuman Moody’s yang menurunkan outlook kredit Indonesia menjadi negatif sambil mempertahankan peringkat Baa2.
REFORMASI tata kelola dinilai menjadi kunci utama untuk memulihkan kepercayaan investor di tengah tekanan yang belakangan membayangi pasar keuangan domestik.
Banyaknya peraturan yang tumpang tindih, proses perizinan yang berlapis, serta perubahan kebijakan yang terlalu sering telah menjadi penghambat nyata bagi investasi di Indonesia.
Keterlibatan investor asing turut dipertimbangkan seiring keterbatasan teknologi nasional dan masih berlangsungnya penyusunan regulasi karbon biru di Indonesia.
Living Lab Ventures (LLV), unit corporate venture capital Sinar Mas Land, menyelenggarakan Inside LLV pada 27 Januari 2026 di Digital Experience Center (DXC), BSD City.
Pemprov Bengkulu meneken MoU pemanfaatan potensi pertanahan untuk pengembangan daerah. Identifikasi awal lahan eks-hak diperkirakan 20 ribu hektare.
ADA dilema kelembagaan bank tanah dalam mewujudkan keadilan sosial agraria di tengah gencarnya arus investasi.
Transformasi tanah bekas kebun di Sulawesi Tengah oleh Badan Bank Tanah jadi aset strategis: reforma agraria, investasi pangan, dan pertahanan IKN.
Hilirisasi industri kakao di Indonesia terus dipacu melalui strategi klasterisasi UMKM yang difokuskan pada penciptaan ekosistem agribisnis inklusif dari hulu ke hilir,
Pemanfaatan aset sitaan dari kasus korupsi dan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) masih terus dikaji oleh Badan Bank Tanah (BBT)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved