Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
PETANI adalah individu yang bekerja mengolah lahan untuk menanam berbagai tanaman pangan, perkebunan, atau hortikultura, serta merawat ternak. Peran petani sangat vital dalam menyediakan kebutuhan pangan bagi masyarakat, serta menjaga keberlangsungan ekosistem dan ketahanan pangan nasional.
Pada 2023, jumlah petani di Indonesia mengalami penurunan pada setiap generasi. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah unit usaha pertanian perorangan di Indonesia mencapai 29,36 juta yang didominasi generasi x (usia 43-58 tahun), yaitu sebanyak 42,39% dari total petani yang terdata.
Melalui data tersebut, terbukti sektor pertanian dikuasai kalangan lanjut usia. Perlahan sektor ini menjadi kurang efektif, karena minimnya regenerasi petani dari kalangan muda sangat minim. Ini menjadi salah satu masalah utama yang mengancam keberlanjutan pertanian di Indonesia.
Baca juga : Pertanian di Tengah Pandemi di Mata Petani Milenial
Generasi muda Indonesia semakin jarang melihat pertanian sebagai pilihan karir yang menarik. Beberapa faktor yang menyebabkan minimnya minat anak muda untuk bertani antara lain:
Terhitung sebanyak 12,6% generasi muda menganggap bertani adalah pekerjaan yang berat secara fisik dan tidak memberikan penghasilan yang cukup memadai. Mereka melihat profesi lain, terutama di sektor perkotaan, lebih menjanjikan dari segi pendapatan dan gaya hidup. Data ini diambil dari survei JakPat tahun 2022, pada 139 responden usia 15-26 tahun.
Meskipun teknologi pertanian modern mulai berkembang, banyak petani di pedesaan masih menggunakan metode tradisional. Hal ini membuat pertanian tampak tidak menarik dan kurang berkembang di mata anak muda yang lebih tertarik pada teknologi canggih dan inovasi digital.
Baca juga : Tantangan Utama Sektor Pertanian Indonesia: Alih Fungsi Lahan hingga Kurangnya Regenerasi Petani
Gen Z menilai sektor pertanian penuh resiko karena beberapa faktor tantangan seperti, kebutuhan modal besar, ketidakpastian hasil panen, dan minimnya pengetahuan teknologi pertanian modern. Mereka juga merasa sektor ini tidak menjanjikan secara finansial dan lebih memilih karir di bidang lain yang dianggap lebih stabil dan menguntungkan. Sebanyak 33,3% generasi Z tidak melirik sektor pertanian karena alasan ini.
Ketiadaan dukungan yang memadai dalam bentuk kebijakan, akses permodalan, serta pelatihan yang mendukung inovasi pertanian juga menjadi salah satu alasan anak muda enggan terjun ke pertanian. Mereka melihat sedikit peluang untuk berkembang dalam sektor ini tanpa dukungan yang memadai.
Beberapa langkah dapat diambil untuk menarik minat generasi muda dalam sektor pertanian, di antaranya:
Baca juga : Ucapan dan Twibbon Hari Tani Nasional 2024: Merayakan Pahlawan Pangan Indonesia
Mengintegrasikan teknologi seperti Internet of Things (IoT), pertanian presisi, serta penggunaan drone dan sensor di bidang pertanian dapat membuat sektor ini lebih menarik bagi generasi muda. Inovasi digital yang mempercepat proses produksi dan meningkatkan hasil panen bisa menjadi daya tarik tersendiri.
Pemerintah dan institusi pendidikan, harus lebih fokus pada pengembangan program pelatihan dan pendidikan pertanian modern. Melalui pelatihan yang komprehensif, anak muda dapat belajar cara memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi di lahan pertanian.
Penting untuk mengubah pandangan anak muda terhadap pertanian. Dengan menunjukkan bahwa pertanian adalah sektor yang tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga berpotensi mendatangkan keuntungan finansial dan memanfaatkan teknologi, citra pertanian dapat berubah menjadi lebih modern dan relevan dengan kehidupan masa kini.
Membangun komunitas pertanian di kalangan anak muda bisa menjadi salah satu cara untuk meningkatkan minat mereka. Melalui komunitas, mereka bisa berbagi pengetahuan, pengalaman, serta akses ke berbagai sumber daya, sehingga pertanian terlihat lebih dinamis dan menguntungkan.
(Z-3)
Petani di berbagai wilayah Provinsi Aceh tengah dilanda keresahan besar pada musim tanam padi rendengan, musim tanam utama yang sangat menentukan produksi pangan tahunan
CUACA ekstrem akhir-akhir ini memicu curah hujan tinggi yang meningkatkan potensi gagal panen. Pemerintah setempat mulai ancang-ancang mengantisipasi potensi tersebut.
SERANGAN organisme pengganggu tanaman (OPT) atau hama tikus yang semakin masif di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, memaksa para petani mengambil langkah ekstrem.
Mak Comblang Project, sebuah inisiatif yang bertujuan mempertemukan langsung petani dengan dapur MBG.
Kehadiran personel TNI dan dukungan pemerintah provinsi memberikan suntikan semangat baru bagi petani serta pemerintah daerah, terutama di tengah tantangan keterbatasan fiskal.
Kementan memulai tahap rehabilitasi lahan sawah pascabencana di sejumlah wilayah Sumatra.
PETANI milenial tergabung dalam kelompok tani Pasirangin, Kota Tasikmalaya, memanen cabai merah di lahan seluas 250 bata dengan jumlah 7.000 pohon.
SEORANG petani milenial sekaligus pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mampu mengolah kopi arabika hingga menyebar ke penjuru Tanah Air, bahkan ke mancanegara seperti Jepang.
Sebagai seorang milenial, Brili Agung Zaky Pradika, 35, tidak jengah disebut sebagai petani. Pemuda asal Banyumas, Jawa Tengah itu membuktikan usahanya yang moncer di sektor pertanian.
PETANI milenial Rustan Abu Bakar selama ini mengolah ubi jalar menjadi keripik. Seiring berjalannya waktu, Rustan merasa harus ada perkembangan terhadap usahanya.
Petani milenial dicari! Daftar sekarang & raih sukses di bidang pertanian modern. Panduan lengkap cara daftar, syarat, & peluangnya di sini!
Kementan menerima kunjungan delegasi forum kerja sama Selatan-Selatan dan Triangular (SSTC) untuk berdialog mengenai pelaksanaan program pemberdayaan generasi muda di pertanian
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved