Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
POTENISI perputaran ekonomi dari penerapan teknologi artificial intelligence (AI) di Indonesia sangat besar. Hal itu menjadi magnet bagi raksasa teknologi asing untuk mau mengembangkan bisnis dan teknologinya di Tanah Air.
Salah satunya perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS) Rimini Street yang baru saja selesai menyelenggarakan Street Smart di Jakarta. Ini merupakan forum eksekutif regional untuk klien dan tamu undangan dengan menampilkan presentasi utama dari para ahli di bidang data, analisis, dan keamanan, serta interaksi dari jaringan rekan kerja.
“Street Smart adalah acara kepemimpinan pemikiran kami. Ini adalah pelanggan dan calon pelanggan yang kami undang, yang hanya ingin berbicara tentang bagaimana mereka menggunakan teknologi, proyek khusus mereka, apa yang mereka lakukan dalam AI, dan mereka berbagi dengan semua pelanggan lain, teknologi mereka, dan apa yang mereka lakukan dan bagaimana mereka berpikir tentang teknologi. Jadi ini adalah acara yang sangat penting. Dan kami melakukannya di seluruh dunia,” jelas CEO Rimini Street, Seth Ravin, saat kegiatan temu media beberapa waktu lalu di Jakarta.
Baca juga : Akankah AI Selamatkan Manusia? Festival Teknologi AS Menjawab
Seth mengatakan bahwa perusahaan di Indonesia sangat fokus pada teknologi baru karena mereka ingin bersaing secara global.
“Jika Anda ingin berkompetisi skala internasional, maka Anda harus menyamai apa yang dilakukan orang lain dalam hal teknologi, atau Anda akan tertinggal dalam peta persaingan. Itulah mengapa kami besar di Malaysia karena di sana ada pertumbuhan ekonomi yang membutuhkan teknologi,” tuturnya.
Menurut Seth Ravin, CEO Rimini Street, masalah bisnis yang dihadapi oleh perusahaan Indonesia hampir sama dengan apa yang dihadapi oleh setiap perusahaan di seluruh dunia. Karena itu perusahaan-perusahaan tersebut membutuhkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan juga analitik.
Baca juga : LG Siap Luncurkan 'Smart Home AI Agent' pada Ajang CES 2024 di Las Vegas, AS
“Asia Tenggara merupakan pasar potensial bagi perusahaan kami. Setelah membuka kantor pusat di Singapura empat tahun yang lalu, kami kemudian merambah ke Malaysia, Thailand dan kemudian Indonesia," tambahnya.
Perusahaan yang didirikan sejak 2005 tersebut melayani semua industri seperti keuangan, manufaktur, ritel, transportasi (maskapai penerbangan, kereta api, sistem kereta api) dan lainnya.
“Kami benar-benar sangat fokus pada bisnisnya, dan kami menggunakan teknologi untuk tujuan bisnis. Jadi kami banyak bekerjasama dengan CFO karena CFO ingin mendorong laba atas investasi maksimum dari pengeluaran IT. Kami bekerjasama juga dengan para CIO untuk merancang sebuah rencana, yang kami sebut dengan istilah Street Smart untuk mencapai titik yang mereka tujukan. Jadi kami hadir untuk mengurangi biaya tersebut secara signifikan, dan berapa banyak waktu dan uang yang dihabiskan.”
Rimini Street pun berkomitmen untuk membangun pasar Indonesia dengan menempatkan staf dan membuka kantor perwakilannya.
“Kami akan menandatangani kontrak lagi hari ini, dan itu terjadi dengan sangat cepat di sini. Karena orang-orang telah cukup melihat apa yang telah kami lakukan di Malaysia dan kawasan ini serta di seluruh dunia, sehingga mereka jauh lebih nyaman dengan komitmen kami. Jadi kami memastikan bahwa kami berkomitmen untuk meraih kesuksesan besar di Indonesia,” imbuhnya. (J-3)
MENAG Nasaruddin Umar, berbicara tentang ekotelogi serta peran agama dan kesadaran kemanusiaan di era Artificial Intelligence (AI) pada konferensi internasional yang berlangsung di Mesir.
FILM drama keluarga dengan sentuhan fiksi ilmiah (Sci-fi), Esok Tanpa Ibu segera tayang di bioskop, dibalut dengan pendekatan teknologi Artificial Intelligence (AI)
Pada 2025, jumlah pengguna PLN Mobile melonjak drastis hingga melampaui 50 juta pengunduh dan total transaksi tahunan lebih dari 30 juta transaksi.
Marhaenisme sebagai ideologi organisasi tidak boleh anti-teknologi. Sebaliknya, teknologi harus dikendalikan oleh nilai-nilai ideologis untuk kepentingan rakyat kecil.
Inilah paradoks utama media massa di era AI.
Perusahaan manajemen medis global, Medix, menilai pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi menjadi kunci penting untuk menutup kesenjangan layanan kesehatan di Indonesia.
Berlatar tahun 2029, MERCY mengisahkan Detektif Los Angeles bernama Chris Raven yang terbangun dalam sebuah kursi persidangan berteknologi tinggi bernama Mercy Chair.
Ashley St. Clair, ibu dari anak Elon Musk, menggugat xAI setelah chatbot Grok diduga menghasilkan citra seksual eksplisit dirinya tanpa izin.
Fitur AI Google Photos kini mampu menghapus objek, mengedit foto dengan teks, dan mengganti latar, menjadikannya alternatif Photoshop yang praktis.
Teknologi AI baru bernama CytoDiffusion mampu mendeteksi tanda halus leukemia pada sel darah dengan akurasi tinggi, bahkan melampaui kemampuan dokter spesialis.
Kesadaran akan pentingnya kesiapan data mulai muncul di seluruh spektrum perusahaan, baik skala besar maupun menengah.
Model tersebut berguna bagi investor sebagai alat bantu dalam investasi kuantitatif, dan akademisi dapat menggunakan hasilnya untuk menguji serta menyempurnakan teori.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved