Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
GELOMBANG pemutusan hubungan kerja (PHK) diperkirakan akan terus berlanjut hingga akhir tahun. Hal ini dikarenakan deindustrialisasi yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan.
Direktur Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Danang Girindrawardana menginginkan bahwa PHK besar-besaran pasti terjadi di Indonesia. Saat ini saja, di beberapa sektor industri sudah mulai melakukan PHK dengan jumlah yang tidak sedikit.
"PHK besar-besaran pasti terjadi, menyusul fenomena deindustrialisasi ini," ujarnya kepada Media Indonesia, Minggu (4/8).
Baca juga : Kemenperin: 11 Ribu Buruh Tekstil Kena PHK akibat Aturan Kemendag
Menurutnya, deindustrialisasi yang terjadi sudah memasuki level darurat. Harus ada upaya serius pemerintah untuk mengatasi hal ini dengan dukungan kebijakan yang tepat bagi dunia industri.
"Sebenarnya, Indonesia sudah mengalami deindustrialisasi 10 tahun terakhir ini. 2024 level lebih berbahaya, dan menuju pada tahap status darurat manufaktur," imbuhnya.
Lebih lanjut, Danang mengatakan saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tertolong oleh produk komoditas, CPO atau hasil tambang mineral. Pertumbuhan ekonomi memang relatif baik tapi kontribusi dari sektor manufaktur masih minum.
Baca juga : Apindo Sebut PHK di Industri TPT Belum Berakhir
"Jadi, meskipun pertumbuhan ekonomi relatif baik, namun kontribusi sektor manufaktur kita menurun, terutama di industri padat karya, seperti tekstil, garment dan sepatu. Angka PMI kita juga menurun, menunjukkan geliat industri merendah," jelasnya.
Danang menyebut, kenaikan harga-harga konsumen juga menunjukkan gagalnya pemerintah mempertahankan swasembada produksi dengan ekosistem domestiknya. Komponen-komponen impor yang mengandung transaksi berbasis nilai tukar USD juga semakin melemahkan sektor manufaktur, terutama di industri farmasi dan bahan baku industri olahan.
(Z-9)
Gelar perayaan 70 tahun, Konfederasi Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) menyuarakan tiga isu strategis, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam rilisnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kontribusi manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) periode tersebut sebesar 17,50%.
Indonesia, saat inni sektor industri menghadapi tantangan yang cukup besar yakni deindustrialisasi. Target pertumbuhan ekonomi 8% pun dinilai sebagai hal yang mustahil dicapai.
EKONOM Senior Indef Didik J. Rachbini menilai pengelolaan ekonomi Indonesia dianggap gagal mengatasi deindustrialisasi dini dan membiarkan utang membengkak tanpa kendali.
DEINDUSTRIALISASI sektor manufaktur yang terjadi saat ini di Tanah Air dinilai tak lepas dari lemahnya koordinasi dan eksekusi kebijakan kementerian di bidang ekonomi.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengapresiasi langkah ekspansi yang dilakukan PT Citra Terus Makmur sebagai langkah strategis dalam memperkuat industri tekstil nasional.
Daya saing produk TPT Indonesia terlihat di salah satu pasar tujuan ekspor terpenting, yaitu Amerika Serikat.
Lonjakan impor, baik legal maupun ilegal, disebut menjadi faktor utama yang membuat industri tekstil nasional semakin terpuruk.
Pemerintah memandang pentingnya pembenahan menyeluruh terhadap industri TPT agar mampu bertahan dan berkembang dalam lanskap persaingan yang berubah cepat.
POY dan DTY merupakan bahan baku penting bagi industri tekstil berbasis poliester dan diwacanakan akan dikenakan tarif tertinggi bea masuk antidumping sebesar 42,30%.
Kebijakan resiprokal tarif yang diberikan AS telah memberikan dampak nyata terhadap industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved