Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
PT Gunung Raja Paksi Tbk (GRP) kembali menunjukkan inisiatif untuk mengurangi emisi karbon dengan mengukuhkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap (PLTS Atap) tahap II yang terpasang di area operasional perusahaan.
Tahap II dari PLTS atap ini diresmikan Direktur Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Mohamad Priharto Dwinugroho, beserta jajaran manajemen GRP, TotalEnergies ENEOS, PLN UPT Bekasi, dan PLN UP3 Cikarang, di Cikarang, Jabar, Kamis (22/2).
Pemasangan PLTS Atap ini menegaskan komitmen GRP sebagai bagian dari strategi net zero emission (NZE) yang diumumkan sebelumnya.
Baca juga : CKB Logistics Raih Dua Penghargaan Ajang ILA 2023
Dengan peresmian ini, total kapasitas listrik terpasang dari energi surya dari GRP mencapai 9,3 MWp (megawatt peak) sehingga menjadikannya salah satu PLTS Atap terbesar di Jawa Barat.
Tahap I memiliki kapasitas 0,9 MWp, sedangkan tahap kedua memiliki kapasitas 8,4 MWp. GRP menargetkan kapasitas PLTS Atap terpasang sebesar 33 MWp, yang direncanakan selesai pada 2025 serta diharapkan dapat mengurangi emisi karbon sekitar 47.400 ton per tahun.
Direktur Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Mohamad Priharto Dwinugroho mengapresiasi inisiatif GRP tersebut.
Baca juga : Dukung Industri Tenaga Surya, UOB Indonesia Luncurkan U-Solar 2.0
"Kementerian ESDM terus mendorong partisipasi aktif pelaku usaha dalam mendukung pencapaian target NZE pada 2060 atau lebih cepat dan pencapaian target bauran energi nasional sebesar 23% dari energi baru dan terbarukan (EBT) pada 2025."
"Salah satu program strategis dalam upaya ini adalah pengembangan PLTS Atap secara luas. Tindakan GRP adalah contoh nyata dari kepedulian lingkungan dan sebagai kontribusi swasta dalam mendukung tujuan pemerintah," ungkapnya, dalam siaran pers, Jumat (23/2).
Industri baja berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurut data Kementerian Perindustrian, konsumsi baja dalam negeri selama lima tahun terakhir mencapai rata-rata 15,62 juta ton per tahun.
Baca juga : Instalasi PLTS Atap Kian Diminati Sektor Komersial dan Industri
Namun, tantangan baru muncul bagi industri baja akibat komitmen global untuk mencapai target NZE karbon pada pertengahan abad ini. Produksi baja secara global menyumbang sekitar 7% dari total emisi karbon.
Dengan permintaan baja yang diperkirakan meningkat sekitar 15%-20% antara 2030 dan 2050, produsen baja harus lebih proaktif mengelola risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) pada semua rantai nilai.
Presiden Direktur GRP Fedaus menyampaikan PLTS Atap yang terpasang di area operasinal tersebut sejalan dengan lima pilar ESG GRP, terutama pilar nomor tiga tentang transisi energi dan solusi rendah karbon.
Baca juga : Dirjen Migas ESDM Tanggapi Menperin Ingin HGBT untuk Semua Industri
"Perusahaan merespons serta mengelola risiko dan peluang terkait iklim sepanjang rantai nilai. Dengan terpasangnya PLTS Atap tahap II ini, secara total GRP mengurangi emisi karbon hingga sekitar 1.500 ton Co2e,” ujar Fedaus.
GRP bekerja sama dengan TotalEnergies ENEOS, yang bertanggung jawab dalam desain dan pemilihan mitra EPC (engineering, procurement, construction) terpercaya untuk pelaksanaan konstruksi setiap tahapan proyek PLTS Atap.
Dalam pengoperasian dan pemeliharaannya, PLTS Atap ini dilengkapi sejumlah sensor untuk memantau radiasi, temperatur, kecepatan angin dan suhu sekitar.
Sistem juga akan bekerja dengan pemantauan jarak jauh yang mengirim data analisis performa dengan menampilkan jejak karbon. (S-2)
PERTAMINA NRE saat ini membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) offgrid berkapasitas 400 kilowatt (kWp) dan baterai 1 megawatt per jam (MWh) sebagai proyek percontohan di Pulau Sembur.
Sejumlah proyek percontohan microgrid terintegrasi berbasis PLTS disiapkan untuk area yang membutuhkan pasokan listrik besar tetapi masih terkendala akses jaringan listrik.
PT Pertamina menghadirkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di sejumlah titik posko pengungsi di wilayah Aceh Tamiang.
Pembangkit Energi Terpadu Ausem ini menjadi contoh implementasi EBT berbasis komunitas dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat sejak tahap perencanaan hingga operasional.
Melalui solusi terintegrasi berbasis energi surya, SUN Energy menghadirkan sistem yang memungkinkan perusahaan tambang beralih ke operasi yang lebih hijau, efisien, dan berkelanjutan.
PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) sebagai special mission vehicle (SMV) Kementerian Keuangan terus berkomitmen terhadap pembiayaan proyek-proyek hijau dan berkelanjutan.
Sektor bangunan gedung memegang peranan krusial dalam mitigasi perubahan iklim di Indonesia.
Selain melakukan edukasi langsung di sekolah, sebelumnya para relawan juga telah melakukan kampanye melalui media sosial untuk melakukan mindful consumption.
Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemimpin pasar karbon global berkat hutan tropis terluas ketiga di dunia.
PT Pertamina Gas (Pertagas), yang merupakan bagian dari Subholding Gas Pertamina, berhasil meraih Gold Rank dalam ajang Asia Sustainability Reporting Rating (Assrat) 2025.
Mengusung tema "Decarbonizing for Our Sustainable Tomorrow", simposium ini menjadi wadah kolaboratif untuk mendorong pertumbuhan hijau, dekarbonisasi, dan ekonomi sirkular.
Kita harus jujur mengakui, selama lima dekade perjalanan Indonesia dalam isu nuklir, selalu tersandung pada simpul yang sama: komitmen yang mudah diucapkan, tapi rapuh ketika diuji.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved