Headline

Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.

Solusi PLTS Terintegrasi Dorong Transformasi Kawasan Industri Hijau

Media Indonesia
05/2/2026 11:57
Solusi PLTS Terintegrasi Dorong Transformasi Kawasan Industri Hijau
Proyek PLTS Atap SUN Energy di Kawasan Industri Jababeka(Sun Energy)

SEKTOR industri masih menjadi pengguna energi terbesar di Indonesia. Data Kementerian ESDM menunjukkan bahwa sektor ini menyerap sekitar 45,94% dari total kebutuhan energi nasional. Tingginya ketergantungan pada energi berbasis fosil membuat efisiensi dan transisi energi bersih menjadi kebutuhan strategis agar kawasan industri tetap kompetitif di tengah tuntutan keberlanjutan global.

Dalam konteks tersebut, pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) semakin relevan sebagai solusi untuk menekan emisi sekaligus mengendalikan biaya operasional. SUN Energy hadir sebagai salah satu penyedia solusi energi surya yang aktif mendukung transformasi kawasan industri menuju operasional yang lebih efisien dan rendah karbon.

Hingga Desember 2025, SUN Energy telah merealisasikan pemasangan lebih dari 240 megawatt-peak (MWp) PLTS di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di kawasan industri strategis seperti Karawang International Industrial City (KIIC) dan Kawasan Industri Jababeka. Rekam jejak ini memperkuat peran perusahaan sebagai mitra strategis dalam pengembangan kawasan industri berkelanjutan.

Transformasi kawasan industri menuju model hijau juga menjadi tren regional. Di Asia Tenggara, Thailand mendorong konsep Eco-Industrial Town (EIT) yang mengintegrasikan pengelolaan air, energi, dan limbah dalam kerangka Smart Eco. Sementara itu, Vietnam menargetkan 50% kawasan industrinya menjadi kawasan hijau pada 2030, menandakan meningkatnya urgensi dekarbonisasi industri di kawasan.

PLTS sebagai Penggerak Dekarbonisasi Kawasan Industri

Energi surya kini menjadi fondasi penting dalam pengembangan kawasan industri hijau. Laporan International Renewable Energy Agency (IRENA) mencatat biaya pembangkitan listrik tenaga surya global berada di kisaran US$0,043 per kWh, atau sekitar 41% lebih murah dibandingkan pembangkit fosil paling efisien. Penurunan biaya ini menjadikan PLTS semakin rasional secara ekonomi, selain memberikan manfaat lingkungan.

Di Indonesia, kebutuhan listrik kawasan industri terus meningkat seiring pertumbuhan sektor manufaktur dan logistik. Dengan rata-rata tingkat radiasi matahari sekitar 4,8 kWh/m² per hari, potensi energi surya relatif merata di berbagai wilayah. PLTS dapat diterapkan secara fleksibel, baik di atap pabrik dan gudang maupun di lahan terbuka, menyesuaikan kebutuhan dan kapasitas listrik para tenant.

Lebih dari sekadar efisiensi biaya, penggunaan PLTS juga membantu kawasan industri meningkatkan reputasi keberlanjutan. Pemanfaatan energi terbarukan kini menjadi indikator penting dalam penilaian Environmental, Social, and Governance (ESG), yang semakin diperhatikan oleh investor global dan mitra bisnis internasional.

Kolaborasi Jadi Kunci Percepatan Kawasan Industri Hijau

Transformasi menuju kawasan industri hijau tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan kolaborasi antara pengelola kawasan, tenant, dan penyedia solusi energi agar transisi energi bersih dapat berjalan optimal. Kolaborasi ini mencakup perencanaan investasi, integrasi infrastruktur, hingga pengelolaan energi secara kolektif di tingkat kawasan.

Laporan Center for Global Sustainability mencatat bahwa 21 kawasan industri di Indonesia telah menggunakan atau merencanakan pemanfaatan PLTS sebagai bagian dari strategi energi bersih. Salah satu contohnya adalah Kawasan Industri Jababeka, di mana SUN Energy mengembangkan proyek PLTS berkapasitas 1,8 MWp yang dimanfaatkan oleh berbagai tenant, mulai dari manufaktur material bangunan, komponen otomotif, farmasi, hingga industri kemasan. Inisiatif ini berpotensi menjadi model percontohan kawasan industri rendah karbon di Indonesia.

Kolaborasi semacam ini memberikan dampak lebih luas dibanding sekadar penghematan biaya. Kawasan industri yang mengintegrasikan energi bersih menjadi lebih menarik bagi tenant baru dan investor yang memiliki fokus ESG. Selain itu, integrasi solusi keberlanjutan lain, seperti SUN Mobility untuk elektrifikasi armada operasional, dan SUN Terra untuk menyediakan solusi baterai pada sistem PLTS dapat membantu kawasan industri menekan jejak karbon sekaligus meningkatkan efisiensi operasional secara menyeluruh.

Meski masih terdapat tantangan, mulai dari kebutuhan investasi awal hingga pembatasan kuota kapasitas PLTS, tren kolaborasi lintas sektor ini menunjukkan arah yang positif. Dengan dukungan regulasi dan penurunan biaya teknologi surya, kerja sama di kawasan industri berpotensi menjadi pendorong penting menuju kemandirian energi nasional dan mempercepat pencapaian target Net Zero Emission 2060.

Sebagai penyedia solusi energi surya terintegrasi, SUN Energy terus memperkuat perannya dalam mendukung transformasi kawasan industri Indonesia menuju ekosistem yang lebih hijau, efisien, dan berdaya saing global.

Sumber: ESDM, iieta, Xinhua, pv-magazine, University of Maryland



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik