Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Tekanan Inflasi dan Kenaikan UMR Dorong Industri Cermat Kelola Biaya Operasional

Rahmatul Fajri
26/1/2026 18:12
Tekanan Inflasi dan Kenaikan UMR Dorong Industri Cermat Kelola Biaya Operasional
Ilustrasi(Dok Istimewa)

TEKANAN inflasi yang berlanjut serta kenaikan upah minimum regional (UMR) di berbagai daerah mendorong pelaku industri makin cermat dalam mengelola struktur biaya operasional.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia sepanjang 2025 mencapai 2,92%, lebih tinggi daripada tahun sebelumnya, yang berdampak langsung pada kenaikan biaya produksi dan distribusi.

Di sisi lain, pemerintah menetapkan kenaikan rata-rata upah minimum provinsi (UMP) nasional sebesar 6,5% untuk 2025 yang mulai berlaku sejak 1 Januari dan meningkatkan beban biaya tenaga kerja bagi sektor industri.

Dalam kondisi itu, efisiensi biaya menjadi prioritas utama bagi pelaku industri dan manufaktur untuk menjaga daya saing serta keberlanjutan bisnis.

Di tengah tekanan biaya tenaga kerja dan produksi, konsumsi energi listrik menjadi salah satu komponen pengeluaran paling signifikan, sehingga efisiensi energi semakin dipandang sebagai strategi penting dalam menjaga kinerja operasional perusahaan.

Menjawab tantangan itu, Suryanesia, perusahaan penyedia solusi solar-as-a-Service bagi pelaku bisnis dan industri, menawarkan efisiensi energi melalui pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap dengan skema sewa tanpa investasi awal.

Dengan skema ini, Suryanesia menanggung semua biaya instalasi sehingga pelanggan hanya membayar biaya sewa bulanan sambil langsung menikmati penghematan biaya listrik.

Skema itu memungkinkan pelaku industri menekan biaya listrik hingga tanpa mengganggu arus kas dan mengalokasikan belanja modal di awal. Founder & CEO Suryanesia Rheza Adhihusada mengatakan efisiensi energi saat ini menjadi kebutuhan strategis bagi dunia usaha.

“Berdasarkan pengalaman kami, lewat pemanfaatan PLTS Atap memungkinkan pelaku industri menghemat biaya listrik hingga sekitar Rp500 juta per tahun per hektare atap, tergantung pada luas atap dan tingkat konsumsi energi. Ini jadi solusi cost saving yang relevan bagi industri untuk menjaga profitabilitas,” ungkap Rheza, di Jakarta, Senin (26/1/2026).

Ia menambahkan Suryanesia memahami pelaku industri sangat berhati-hati terhadap setiap perubahan yang berpotensi berdampak pada kelangsungan operasional pabrik.

Karena itu, implementasi panel surya dirancang untuk berjalan selaras dengan sistem kelistrikan yang sudah ada dengan tingkat keandalan yang setara serta tanpa mengganggu proses produksi.

Selain itu, lanjut dia, pihaknya memastikan seluruh proses instalasi dilakukan terencana dan terkoordinasi guna menghindarkan gangguan atas aktivitas operasional harian.

“Bagi pelaku industri dan bisnis, efisiensi energi tak hanya berbicara soal penghematan biaya, tetapi juga kepastian operasional. Karena itu, tiap solusi energi harus mampu berjalan stabil dan terintegrasi dengan sistem yang sudah ada, tanpa mengganggu proses produksi,” tutup Rheza. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya