Headline
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGAMAT pertanian dari Center of Reform on Economic (Core) Eliza Mardian berpendapat ada yang tidak wajar dari langkah pemerintah yang mengimpor jutaan ton beras di awal tahun. Menurutnya, jika tujuan impor beras untuk menutupi kebutuhan dari kekurangan produksi dalam negeri, mestinya pembelian beras dari luar negeri dilakukan setelah panen raya yang diperkirakan terjadi pada akhir Maret hingga awal April mendatang.
"Betul, tidak wajar. Untuk apa impor jika sebentar lagi kita akan panen? Maret itu akan mulai panen. Distribusi berasnya kemana selama ini? Ini kan yang mesti ditelusuri," tegasnya saat dihubungi Media Indonesia, Selasa (20/2).
Eliza menuding ada yang tidak beres dengan tata kelola perberasan nasional di tahun politik. Berdasarkan catatannya, stok beras nasional di awal tahun 2024 mencapai 6,71 juta ton. Dengan rata-rata kebutuhan konsumsi beras nasional sebesar 2,5 juta ton per bulan, stok awal beras nasional tersebut seharusnya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat hingga panen raya di bulan depan.
Baca juga : Awal 2024, RI Impor Beras 1 Juta Ton dari Thailand-Pakistan
Namun, akibat kebijakan pemerintah yang masif mengucurkan bantuan sosial (bansos) pangan menjelang pencoblosan Pemilu 2024, membuat stok cadangan beras pemerintah (CBP) kian menipis. Eliza mengendus ada permasalahan pada distribusi beras.
"Stok beras yang ada seharusnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga masa panen raya. Namun, narasi yang beredar adalah kelangkaan, defisit," ungkapnya.
"Padahal kalau mengacu kepada data awal stok beras itu tidak demikian. Berarti, ada masalah dalam hal penyaluran. Tata kelola pangan kita karut marut, kian kronis, tapi belum juga dibenahi," tegas pengamat Core.
Baca juga : Pemerintah bakal Impor 2 Juta Ton Beras Tahun Ini
Eliza pun meminta kepada pemerintah untuk melakukan importasi beras dengan terukur. Pasalnya, dengan penambahan stok beras menjelang panen raya, dikhawatirkan menyebabkan harga gabah anjlok.
Dihubungi terpisah, Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa menyampaikan per Jumat (16/2), realisasi volume impor beras sebesar 326 ribu ton. Kemudian, sebanyak 670 ribuan ton lebih beras masih dalam pengiriman atau berada di kapal.
"Yang 670 ribuan ton beras itu akan sampai pada 23 Maret 2024. Jadi, ini masih bergerak terus," katanya saat dikonfirmasi Media Indonesia.
Baca juga : Harga Beras Melambung, Gagal Panen dan Pemilu jadi Pemicunya
Ketut menerangkan pemerintah telah memutuskan akan mengimpor 3,6 juta ton beras di tahun ini. Ia menyebut tujuan dibukanya keran impor beras di awal tahun untuk menekan harga beras, karena pasokan dalam negeri yang terbatas. Produksi beras pada Januari dan Februari diperkirakan menipis lantaran masa tanam padi yang mundur dari Oktober dan November 2023 ke Desember akibat El Nino.
Selain itu, keputusan importasi beras sebagai antisipasi untuk gagal panen di sejumlah wilayah Indonesia.
"Kita sulit memprediksi cuaca sekarang, kalau hujan deras dan angin kencang bisa gagal panen. Impor jalan terus, tapi ketika panen raya kita tahan dulu (impornya)," pungkasnya.
Baca juga : Kepala Bapanas Bantah Politisasi Bantuan Pangan
(Z-9)
INDONESIA berhasil menorehkan pencapaian swasembada beras dengan memutuskan tidak melakukan importasi yang dimulai sejak 2025.
Pemerintah terus mengeklaim bahwa Indonesia telah mencapai swasembada pangan. Namun, disaat yang sama, harga beras di tingkat konsumen masih tinggi.
PRESIDEN Prabowo Subianto menyebut bahwa Indonesia telah mencapai swasembada beras pada tahun 2025.
Presiden Prabowo menegaskan bahwa sepanjang 2025 Indonesia tidak melakukan impor beras sama sekali. Menurutnya, hal itu menandai tonggak sejarah baru dalam ketahanan pangan nasional.
HARGA beras di pasar dunia dilaporkan mengalami penurunan drastis hingga lebih dari 40% dibandingkan tahun lalu.
KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) menegaskan bahwa tidak ada impor beras medium yang masuk ke Indonesia.
TREN harga dua komoditas pangan strategis, yakni cabai rawit merah dan daging ayam ras, menunjukkan penurunan signifikan secara nasional di awal Maret 2026.
Harga cabai rawit merah mulai melandai di kisaran Rp60.000 per kg seiring membaiknya cuaca dan panen raya di sentra produksi. Cek update harga terbaru di sini.
APCI memprediksi setelah periode Imlek, harga cabai rawit merah akan bergerak turun secara bertahap.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, mengatakan hasil sidak menunjukkan kondisi harga relatif stabil dan pasokan tersedia.
Tradisi mudik yang memacu mobilitas masyarakat juga perlu disiapkan sejak dini.
Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional per 6 Januari 2026, komoditas seperti beras, daging ayam, telur ayam, gula, dan daging sapi masih mencukupi untuk tiga bulan ke depan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved