Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
INDUSTRI perbankan di Indonesia memiliki tingkat margin bunga bersih atau selisih suku bunga deposito dengan suku bunga kredit (net interest margin) yang cukup tinggi di antara negara-negara ASEAN. Saat ini posisi NIM bulanan perbankan komersial 2023 Indonesia berada di level 4,96 persen.
Direktur Riset Core Indonesia Akhmad Akbar Susamto mengatakan salah satu penyebabnya adalah secara historis NIM memang sudah terlanjur tinggi, sejak sebelum Reformasi.
Alasan pertama, di masa lalu perbankan punya semacam 'privilege' ketika jumlah perbankan masih sedikit dan didorong untuk memperbanyak jumlah bank.
Baca juga : Pemerintah Tarik Utang Rp21,75 Triliun dari Lelang Tujuh SUN
Kedua, struktur perbankan di Indonesia meski banknya banyak, tetapi tidak sepenuhnya mendekati persaingan sempurna. Jumlahnya banyak, tapi pelakunya meski mungkin bukan oligopoli, tapi cenderung untuk punya perilaku yang sama.
Baca juga : Kenaikan Suku Bunga BI Lebih Berdampak pada Bunga Deposito
"Mungkin tidak kartel, tetapi juga tidak benar-benar bersaing secara bebas," kata Akbar, pada diskusi Denpasar 12 Edisi 176 Mengenai Prospek Ekonomi Indonesia 2024, Rabu (10/1).
Ketiga, bahwa struktur hubungan antara perbankan dengan Bank Indonesia agak beda dengan kasusnya dengan di Amerika Serikat, misalnya.
Di Amerika, perbankan punya dua cara untuk mendapatkan dana, dari masyarakat atau pinjam di Bank Sentral, kemudian mereka harus bersaing mendapatkan untung dengan cara bersaing menyalurkan dana kepada masyarakat.
Sedangkan di Indonesia, struktur hubungannya, perbankan menerima dana dari masyarakat sebagai sumber pendanaan. Lalu perbankan punya dua cara untuk menyalurkan dana.
Pertama, menyalurkan dana ke masyarakat. Kedua, ditabung di Bank Indonesia.
"Jadi hubungannya beda," kata Akbar.
Maka perbankan di Indonesia punya dua pilihan. Kalau kira-kira aman dan menguntungkan, maka bank akan menyalurkan pinjaman ke masyarakat. Kalau tidak aman, bank memilih menempatkan dana di Bank Indonesia.
"Istilahnya tidur pun, sudah mendapat untung," kata Akbar.
Maka di Amerika Serikat ada istilah 7 Days Repo Rate, atau The Fed Rate, tingkat suku bunga acuan di Amerika, yaitu berupa tingkat suku bunga bagi utang yang dilakukan oleh perbankan kepada Bank Sentral, yang janji akan dibayar lagi dalam waktu 7 hari.
Sedangkan di Indonesia, tingkat suku bunga acuan BI Rate bernama 7 Days Reverse Repo Rate, di mana yang berutang adalah Bank Sentral kepada perbankan.
Bank Indonesia sebagai salah satu instrumen kebijakan moneternya, mengeluarkan surat utang, dengan janji bahwa tujuh hari kemudian akan dilunasi dengan bunga tertentu.
"Jadi hubungannya adalah Bank Indonesia yang berutang kepada perbankan. Sebenarnya BI tidak butuh. Itu hanya dilakukan sebagai mekanisme salah satu instrumen kebijakan moneter," kata Akbar.
Konsekuensinya perbankan di Indonesia menjadi punya pilihan mau memberikan pinjaman kepada masyarakat atau ke BI yang sudah pasti mendapatkan bunga tanpa melakukan usaha apapun.
"Jadi pilihan konsumen sempit. Kemampuan nasabah bank-bank di Indonesia untuk mempengaruhi bank menjadi kecil. Sebab bank yang punya banyak pilihan, mau memberi pinjaman ke nasabah atau menabung di bank sentral," kata Akbar.
Sehingga apabila mau melakukan perubahan, apakah bisa. Mungkin secara teknis dan ekonomis bisa. Tetapi secara politis apakah Bank Indonesia mau atau tidak.
"Sebab itu perubahan kebijakan yang lumayan drastis," kata Akbar.
Lebih lanjut dia mengatakan hal tersebut yang menjadi salah satu alasan sektor perbankan di Indonesia tidak benar-benar berperan untuk menggerakkan perekonomian, karena perbankan tidak mendapat paksaan untuk berjuang menyalurkan dana kepada masyarakat.
"Gambaran istilah ekstremnya, bila Anda menjadi bankir, beri macam-macam program berhadiah agar nasabah menabung banyak, lalu tempatkan uang di Bank Indonesia, lalu tidur. Itu sudah akan untung banknya," kata Akbar.
Sehingga beberapa alasan bank yang masih mau menyalurkan pembiayaan. Pertama, mereka masih ingin mengejar untung lebih tinggi dengan risiko tertentu. Kedua, karena kalau tidak giat menyalurkan kredit, akan dimarahi Bank Indonesia.
"Tapi semarah-marahnya itu tidak bisa maksimal juga. Struktur hubungan yang istilahnya tidak sehat, tetapi secara historis sudah terlanjur begitu. Kalau mau diubah, mungkin butuh sebuah keputusan politik yang luar biasa," kata Akbar. (Z-8)
Laporan Kaspersky mengungkap lonjakan tajam serangan Trojan perbankan Android sebesar 56% pada 2025. Simak tren ancaman dan cara melindungi data keuangan Anda.
OJK mencatat ketahanan permodalan berada pada level yang sangat kuat, memberikan ruang ekspansi sekaligus bantalan risiko yang memadai
Pentingnya penerapan prinsip pengenalan nasabah yang mendalam.
KEPALA Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae menegaskan kinerja intermediasi perbankan tetap tumbuh positif dengan profil risiko yang terjaga.
Bank Mandiri menilai perpanjangan penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) oleh Kementerian Keuangan dapat memperkuat likuiditas perbankan.
Di tengah persaingan industri perbankan yang semakin kompetitif, program loyalitas menjadi salah satu strategi utama untuk mempertahankan dana pihak ketiga.
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatatkan penurunan volume penjualan sepanjang 2025, namun membukukan pertumbuhan laba bersih pada periode tersebut.
PT Penjaminan Jamkrindo Syariah mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang 2025, dengan pertumbuhan laba bersih yang signifikan di tengah dinamika industri penjaminan.
Solusi Bangun Indonesia membukukan volume penjualan semen dan terak sebesar 12,1 juta ton dan pendapatan tercatat Rp10,7 triliun.
PT Pertamina Gas (Pertagas) mencatatkan kinerja operasional yang solid sepanjang 2025.
PT Bank SMBC Indonesia mencatatkan pertumbuhan positif sepanjang tahun 2025.
PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) mencatat kinerja keuangan positif sepanjang 2025 dengan pendapatan sebesar Rp9,03 triliun di tengah tantangan kondisi makro ekonomi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved