Jumat 09 Desember 2022, 13:39 WIB

Kartu Prakerja Disebut sebagai Bantuan Sosial Generasi Ketiga

Mediaindonesia.com | Ekonomi
Kartu Prakerja Disebut sebagai Bantuan Sosial Generasi Ketiga

Antara/Muhammad Bagus Khoirunas.
Warga mengakses laman website PraKerja di Rangkasbitung, Lebak, Banten, Jumat (14/1/2022).

 

PROGRAM Kartu Prakerja menjadi salah satu program semibantuan sosial pemerintah pertama yang menggunakan sistem digital. Semua peserta program itu harus memiliki rekening bank atau dompet digital.

Artinya, Program Kartu Prakerja tidak hanya menawarkan pengembangan keterampilan sebagai fondasi untuk meraih kesempatan kerja atau berwirausaha, tetapi juga menjadi sarana untuk meningkatkan inklusi keuangan di Tanah Air. Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja Denni Puspa Purbasari mengatakan, selain menjadi program semibansos untuk membantu masyarakat yang terdampak penghidupannya akibat pandemi, Program Kartu Prakerja juga menjadi game changer mengakselerasi inklusi keuangan Indonesia.

Menurutnya, Program Kartu Prakerja menjadi bukti atas konsep (proof of concept) atas berbagai literatur soal pentingnya layanan keuangan formal bagi masyarakat kelompok ekonomi terbawah atau sering disebut inklusi keuangan. Ini termasuk keunggulan teknologi finansial (tekfin) daripada bank dalam menurunkan biaya, meningkatkan kecepatan, jangkauan, dan transparansi. Kartu Prakerja yang menggunakan sistem Government to Person (G2P) dalam penyaluran bantuan sosialnya itu pun disebut sebagai model generasi ketiga atau G2P 3.0. "Ini model paling maju saat ini," kata Denni. Generasi pertama atau G2P 1.0 ialah model penyaluran bantuan secara tunai. Generasi kedua atau G2P 2.0 sudah menggunakan penyaluran secara digital, tetapi tak ada pilihan bagi pengguna.

Dalam studi yang dilakukan Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja (MPPKP) dan Bank Dunia pada 2022 mengenai pengalaman peserta menerapkan sistem G2P menemukan bahwa 88% penerima manfaat lebih memilih menggunakan rekening dompet digital untuk menerima insentif pascapelatihan. Selebihnya memilih rekening bank. 

Lebih jauh, studi Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K)-Bank Dunia mengungkap 50% penerima Kartu Prakerja 2022 baru pertama kali membuka rekening dompet elektronik dan 8,7% baru pertama kali membuka rekening bank. Meski banyak pengguna baru, 96,4% penerima puas dengan metode nontunai di Program Kartu Prakerja karena banyak pilihan, praktis, transparan, dan tidak ada potongan.

Pengalaman pertama menggunakan dompet digital atau e-wallet dialami salah satu penerima Program Kartu Prakerja asal asal Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Ledia Agustina. Ia mengaku baru pertama kali menggunakan e-wallet saat dirinya diterima menjadi peserta Gelombang 12 pada 2021. "Untuk mendapatkan insentif kan bisa lewat bank dan e-wallet. Angkatan saya baru ada satu bank dan saya belum punya rekening banknya, akhirnya saya pilih e-wallet. Ini pertama kali pakai. Buka akunnya pun mudah," tuturnya.

Setelah menggunakan e-wallet, ia pun menemukan kesempatan untuk menambah penghasilan dengan berjualan pulsa dan token listrik. Hal itu dilakukan ketika dia melihat harga pulsa yang biasa dijual di daerahnya lebih mahal dibandingkan ketika membelinya menggunakan dompet digital. "Awalnya, e-wallet untuk beli pulsa dan token listrik untuk kebutuhan pribadi. Ke sininya ada orang lain juga yang beli pulsa dan token listrik ke saya. E-wallet juga ada cashback, lumayan untuk tambahan," ujarnya.

Pengalaman pertama menggunakan e-wallet juga dirasakan Putri Puspita Lokanazea. Peserta Kartu Prakerja gelombang 1 atau di awal ketika program itu diluncurkan pada April 2020 itu mengaku belajar secara otodidak untuk menggunakan berbagai fitur yang ada di dompet digital untuk memanfaatkan insentif yang diterimanya. 

Dulu, dia tidak melihat kegunaan dari e-wallet mengingat masih sedikit tempat jualan dan pedagang yang menggunakannya. Kini, perempuan berusia 29 tahun itu menjadi salah satu pengguna setia dompet digital mengingat kemudahan penggunaan, terutama dalam bertransaksi. "Apalagi, di Banda Aceh juga sudah semakin banyak masyarakat yang menggunakan dompet digital," katanya.

Pengalaman pertama kenal dengan dompet digital pun turut dialami peserta lain, Nawardus Faot. Dompet digital memudahkannya untuk mengikuti setiap pelatihan yang disediakan dalam Program Kartu Prakerja. Pria berusia 24 tahun asal Kalimantan Barat itu telah aktif menggunakan dompet digital sejak dirinya ikut program Kartu Prakerja untuk mengambil pelatihan guna mendapatkan pekerjaan seperti penggunaan Microsoft Excel dan Word serta bagaimana menghadapi wawancara kerja.

Seiring berjalannya waktu, Nawardus melihat peluang yang bisa dimanfaatkannya untuk menambah penghasilan dari penggunaan dompet digital, seperti berusaha jual beli pulsa dan berdagang baju. "Dari situlah saya buat bisnis pakai e-wallet itu, jual-jual pulsa dengan harga yang lebih murah dibandingkan yang lain," jelasnya.

Pemanfaatan itu membuatnya mampu mengembangkan dana insentif yang diterimanya, yang dia gunakan untuk bertahan hidup sambil mencari pekerjaan. Dari insentif dan penghasilan yang didapat dari berjualan, dia mampu menghidupi diri sendiri sebelum akhirnya mendapatkan gaji pertama setelah mendapatkan kerja. "Lumayan ada pendapatan. Jadi ketika baru dapat kerja masih belum dapat gaji, masih ada sisa dana Kartu Prakerja dan jualan itu pakai untuk hidup buat satu bulan," kata Nawardus.

Konsep digitalisasi yang diterapkan dalam pelaksanaan program Kartu Prakerja menjadi cerita sukses pemerintah untuk meningkatkan inklusi keuangan. Memanfaatkan platform digital, masyarakat tidak perlu melalui birokrasi yang panjang untuk mendapatkan insentif. Sejak digulir pada 2020, Kartu Prakerja merupakan wujud mendorong pemulihan sosial ekonomi, inklusivitas keuangan, penguatan transformasi digital dan keberlanjutan.

Hasil riset Presisi Indonesia pada November 2021, Kartu Prakerja turut membantu penerimanya dalam meningkatkan pengetahuan soal keuangan. Presisi Indonesia yang melakukan survei kepada 2.156 responden yang terdiri atas 50% penerima Kartu Prakerja dan 50% nonpenerima melalui platform e-survei yang digelar pada 24 September-11 November 2021 menemukan program Kartu Prakerja turut membantu penerimanya dalam meningkatkan pengetahuan soal keuangan. Sebanyak 80% dari peserta Kartu Prakerja baru pertama kali membuka rekening bank dan e-wallet. "Sekitar 72% dari penerima Kartu Prakerja ini menggunakan e-wallet sebagai akun untuk menerima insentif untuk Kartu Prakerja," kata Periset Senior Presisi Indonesia Widdi Mugijayani.

Secara keseluruhan, Widdi juga menyebut program Kartu Prakerja berkorelasi dengan peningkatan inklusi keuangan terutama atas kepemilikan e-wallet dan rekening sekitar 22%. Per November 2022, Program Kartu Prakerja telah memberi manfaat bagi 16,4 juta warga di 514 kabupaten/kota seluruh Tanah Air. Pendaftar itu mengikuti kursus pelatihan, menerima sertifikat, mencari lowongan pekerjaan, dan melamar pekerjaan, yang semuanya dilakukan 100% secara online, tanpa batasan ruang dan waktu. (Ant/OL-14)

Baca Juga

Ist

Musim Dingin Tidak Ekstrem Seperti yang Dikhawatirkan, Harga Komoditas Energi Stabil

👤Fetry Wuryasti 🕔Senin 06 Februari 2023, 22:31 WIB
BPS mengingatkan bahwa sumber pertumbuhan ekonomi tahun 2022 ditopang oleh tingginya harga komoditas. Namun tahun 2023, harga...
Antara

Pembangunan Smelter Freeport Sudah 54%, Ditargetkan Beroperasi 2024

👤Ficky Ramadhan 🕔Senin 06 Februari 2023, 22:29 WIB
Diketahui, biaya yang telah dikeluarkan PT Freeport Indonesia dalam pembangunan smelter mencapai US$1,78 miliar atau sekitar Rp27 triliun,...
Antara

Presiden Perintahkan OJK Awasi Penggoreng Saham

👤Andhika Prasetyo 🕔Senin 06 Februari 2023, 21:56 WIB
Langkah tersebut harus dilakukan agar Indonesia terhindar dari tragedi keuangan besar yang baru saja terjadi di India, yang melibatkan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya