Kamis 17 November 2022, 14:57 WIB

BI Naikkan Suku Bunga Acuan 50 bps Menjadi 5,25%

Mediaindonesia | Ekonomi
BI Naikkan Suku Bunga Acuan 50 bps Menjadi 5,25%

Brendan Smialowski / AFP
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

 

RAPAT Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada November 2022 memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) dari 4,75 persen menjadi 5,25 persen.

Selain bunga acuan, bank sentral turut menaikkan suku bunga deposit facility dan lending facility masing-masing sebesar 50 bps menjadi 4,5 persen dan 6 persen.

"Keputusan ini sebagai langkah lanjutan secara front loaded, pre-emptive, dan forward looking untuk menurunkan ekspektasi inflasi yang saat ini masih tinggi," kata  Gubernur BI Perry Warjiyo dalam Pengumuman Hasil RDG Bulan November 2022 yang dipantau secara daring di Jakarta, hari ini.

Ia mengatakan keputusan tersebut juga untuk memastikan inflasi inti ke depan kembali ke dalam sasaran 2-4 persen lebih awal yaitu ke paruh pertama tahun 2023, serta memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Dengan demikian diharapkan rupiah bisa sejalan dengan nilai fundamentalnya akibat kuatnya mata uang dolar AS dan tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, di tengah peningkatan permintaan ekonomi domestik yang tetap kuat.

BI juga terus memperkuat respons bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan momentum pemulihan ekonomi melalui tujuh langkah. Pertama, memperkuat operasi moneter melalui kenaikan struktur suku bunga di pasar uang sesuai dengan kenaikan suku bunga acuan tersebut untuk menurunkan ekspektasi inflasi dan memastikan inflasi inti kembali ke sasarannya lebih awal.

Baca juga: Menkeu: Dukungan Rp4,2 T untuk Perkuat Pelayanan Kesehatan di Indonesia

Langkah kedua yakni memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dengan tetap berada di pasar sebagai bagian dari upaya pengendalian inflasi, terutama imported inflation, melalui intervensi di pasar valas. Ketiga, melanjutkan penjualan/pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.

Perry melanjutkan, langkah keempat yakni dengan menerbitkan instrumen sukuk BI (SukBI) yang menggunakan underlying berupa surat berharga pembiayaan inklusif (SukBI inklusif) dan diakui sebagai Surat Berharga Pembiayaan Inklusif (SBPI). Kelima, melanjutkan kebijakan transparansi Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) dengan melakukan pendalaman asesmen terkait respons suku bunga perbankan terhadap suku bunga kebijakan.

Kemudian langkah keenam adalah terus mendorong penggunaan Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) dan melanjutkan pengembangan fitur serta layanan QRIS termasuk perluasan QRIS antarnegara seiring dengan telah tercapainya target 15 juta pengguna baru QRIS pada Oktober 2022.

Terakhir, langkah ketujuh yaitu mendorong inovasi sistem pembayaran termasuk melanjutkan akseptasi BI-FAST kepada masyarakat melalui perluasan kepesertaan dan kanal layanan serta terus melanjutkan komunikasi publik secara berkala. (OL-4)

Baca Juga

Dok. Pribadi

Hadapi Resesi, Ekonom Islam Sebut Indonesia Bisa Belajar dari Kisah Nabi Yusuf AS di Mesir

👤Putra Ananda 🕔Minggu 27 November 2022, 02:07 WIB
"Pada zaman Nabi Yusuf itu pun telah terjadi resesi ekonomi dan jauh sebelum terjadinya resesi ekonomi, Nabi Yusuf dan kaumnya telah...
ANTARA

Perbedaan Ekonomi Makro dan Mikro serta Contoh

👤Meilani Teniwut 🕔Sabtu 26 November 2022, 19:54 WIB
Ada banyak banyak istilah yang harus dipahami agar bisa tahu perbedaan juga maknanya, apakah kalian tahu perbedaan ekonomi mikro dan makro...
Dok. Krakatau Posco

PT Krakatau Posco Raih Level Tertinggi dalam Penghargaan Industri Hijau Tahun 2022

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 26 November 2022, 19:28 WIB
Penilaian Penghargaan Industri Hijau didasarkan pada tiga aspek utama penilaian yakni efisiensi proses produksi, kinerja pengelolaan limbah...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya