Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
DiIREKTUR Anugrah Mega Investama Hans Kwee memprakirakan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan besok akan tertekan di tengah berbagai sentimen baik dalam dan luar negeri.
"Pekan ini IHSG berpeluang konsolidasi cenderung tertekan. Pelaku pasar akan menantikan keputusan the Fed terkait suku bunga acuan. Inflasi yang masih tetap tinggi membuat banyak bank sentral akan memperketat kebijakan moneternya. Harga saham akan cukup berfluktuasi di kuartal III 2022 dengan arah tertekan," ungkapnya kepada Media Indonesia, Minggu (24/7).
Menurutnya, IHSG berpeluang konsolidasi melemah dengan support di level 6,757 sampai level 6,559 dan resistance di level 6,940 sampai level 7,070.
Baca juga: Tutup AOE 2022, Mendag Siap Bantu Pasarkan Produk UMKM ke Pasar Internasional
Baca juga: Pendaftar Program Subsidi Tepat Sasaran Tembus 220 Ribu Kendaraan
Hans juga menambahkan, laju inflasi di Amerika Serikat masih terus meningkat meski bank sentral telah tiga kali menaikkan suku bunga dengan total 150 basis poin menjadi 1,5% sampau 1,75%.
Survei awal konsumen Universitas Michigan untuk periode Juli menunjukkan konsumen melihat inflasi berada di posisi 2,8%, terendah dalam satu tahun dan menyusut dari 3,1% pada bulan sebelumnya.
The Fed mungkin mundur dari rencana semula menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin dengan pertemuan minggu depan. The Fed diprediksi tetap dengan kenaikan suku bunga acuan 75 basis poin.
"Menjelang pertemuan The Fed minggu depan, pelaku pasar memperkirakan ada peluang 23,2% The Fed bisa melakukan kenaikan suku bunga 100 basis poin. Kenaikan 0,75 poin mungkin tidak akan menimbulkan tekanan berarti pada pasar keuangan karena sudah diperkirakan pelaku pasar," kata Hans.
Selain itu, Bank Sentral Eropa atau ECB juga telah menaikkan suku bunga acuan hingga 50 basis poin. Kebijakan terbaru ECB ini merupakan kenaikan yang pertama kalinya dalam 11 tahun terakhir untuk meredam gejolak inflasi di Eropa.
ECB yang merupakan bank sentral dari 19 negara blok mata uang tunggal ini, mengejutkan pasar dengan keputusan mendorong suku bunga acuannya naik 50 bps, membawa suku bunga deposito nol. Padahal konsensus sebelumnya menyebut, kenaikan suku bunga ECB hanya 25 bps.
"Dewan Gubernur ECB menilai bahwa adalah tepat untuk mengambil langkah pertama yang lebih besar pada jalur normalisasi tingkat kebijakan daripada yang ditunjukkan pada pertemuan sebelumnya," ujar Hans.
ECB juga mengatakan bahwa langkah suku bunga ini akan mendukung kembalinya inflasi ke target jangka menengah. Bank sentral juga akan memperkuat penahan ekspektasi inflasi dan dengan memastikan bahwa kondisi permintaan menyesuaikan untuk mencapai target inflasi dalam jangka menengah. Target inflasi ECB adalah 2%.
Sementara dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) masih mempertahankan suku bunga BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7- DRRR) di level 3,50%. Suku bunga deposit facility juga tetap level 2,75%, dan suku bunga lending facility sebesar 4,25%.
Keputusan menahan suku bunga acuan konsisten dengan perkiraan inflasi inti yang tetap terjaga. Inflasi inti juga masih dalam koridor yang aman menurut BI yakni 2,5% sampai 4%.
Angka inflasi inti kemungkinan akan meningkat pada paruh kedua tahun ini. Indeks harga produsen meningkat dengan kecepatan yang lebih tinggi, menunjukkan bahwa efek putaran kedua dapat meningkat karena lebih banyak biaya yang dibebankan kepada konsumen.
Hans merasa bahwa BI akan menaikkan suku bunga acuan pada bulan September 2022. BI juga telah menurunkan angka proyeksi pertumbuhan ekonomi global, dari sebelumnya 3,5% menjadi 2,5% untuk tahun 2022.
"Penurunan proyeksi tersebut sejalan dengan meningkatnya risiko stagflasi dan ketidakpastian pasar keuangan global. BImemperkirakan pertumbuhan kredit tahun ini di kisaran 9% sampai 11% secara tahunan (yoy) seiring tetap terjaganya kecukupan likuiditas perbankan yang tetap terjaga," pungkasnya. (H-3)
Nilai tukar rupiah ditutup melemah 42 poin ke Rp16.828 per dolar AS. Penguatan dolar dan naiknya probabilitas The Fed menahan suku bunga pada Maret 2026 menekan pergerakan rupiah.
Presiden Donald Trump kembali menyuarakan dukungan atas penyelidikan terhadap Jerome Powell terkait proyek renovasi kantor Fed. Trump juga mendesak penurunan suku bunga.
Federal Reserve (The Fed) hampir dipastikan akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam keputusan kebijakan terbaru yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu (28/1) sore waktu setempat
Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist, Asean Economist HSBC Pranjul Bhandari menyebut masih ada kemungkinan Bank Indonesia terus memangkas suku bunga.
Update pasar saham properti 9 Januari 2026. Saham DILD dan ASRI catatkan kenaikan signifikan di tengah sentimen IKN dan suku bunga, sementara APLN bergerak moderat.
Bank Indonesia (BI) menyebut penurunan suku bunga kredit perbankan cenderung lebih lambat. Karena itu, BI memandang penurunan suku bunga kredit perbankan perlu terus didorong.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan Indonesia berkomitmen membeli BBM dari Amerika Serikat senilai USD15 miliar sebagai bagian negosiasi dagang.
BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat penyerapan tenaga kerja nasional menunjukkan tren membaik pada November 2025.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan terakhir tahun 2025 dengan kinerja positif, menguat tipis sebesar 2,68 poin.
Anjloknya harga emas pada perdagangan hari ini memberikan tekanan langsung terhadap sentimen saham-saham tambang emas di Bursa Efek Indonesia (BEI).
IHSG mengakhiri perdagangan Selasa sore di zona merah. Tekanan jual muncul seiring investor melakukan aksi ambil untung (profit taking) menjelang libur dan cuti bersama Natal.
Sektor non-migas menjadi pendorong utama surplus perdagangan Batam pada September 2025, dengan mesin dan peralatan listrik (HS 85) mendominasi ekspor dengan nilai US$831,02 juta.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved