Jumat 18 Februari 2022, 14:13 WIB

IMF Wanti-Wanti Ancaman Inflasi Negara Maju ke Bank Sentral Negara Berkembang

Fetry Wuryasti | Ekonomi
IMF Wanti-Wanti Ancaman Inflasi Negara Maju ke Bank Sentral Negara Berkembang

AFP/SAUL LOEB
IMF memperingatkan lonjakan inflasi yang terjadi di sebagian besar negara kelompok G20 dapat memicu risiko yang signifikan perekonomian

 

DANA Moneter Internasional (IMF) memperingatkan lonjakan inflasi yang terjadi di sebagian besar negara kelompok G20 dapat memicu risiko yang signifikan terhadap perekonomian. Meski demikian, IMF memperkirakan kenaikan harga di sebagian besar negara akan secara bertahap melandai pada tahun ini.

"Mengutip Reuters, IMF menilai data inflasi terus mengejutkan. Lonjakan inflasi terutama terjadi karena kenaikan harga komoditas, gangguan pengiriman barang, berlanjutnya ketidaksesuaian dalam penawaran dan permintaan, dan pergeseran permintaan lebih banyak barang," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Jumat (18/2).

Dalam catatan yang disiapkan untuk pertemuan G20 dalam dua hari ini di Jakarta, IMF menilai ekspektasi inflasi jangka panjang secara umum tetap akan terkendali dengan kerangka kebijakan yang kuat. Namun, risiko penurunan pertumbuhan ekonomi global terus membayangi yang ditunjukkan dengan indikator ekonomi.

IMF pada bulan lalu telah memangkas pertumbuhan ekonomi global menjadi 4,4%. Pembatasan mobilitas yang diterapkan di Eropa, Jepang dan Inggris telah melemahkan aktivitas sektor jasa dalam beberapa bulan terakhir, sementara penyebaran virus corona telah merusak sentimen konsumen di Amerika Serikat.

Baca juga: OJK Ungkap Kendala Penerbitan Green Bond

IMF memperkirakan bahwa gangguan pasokan kemungkinan telah mengurangi antara 0,5% hingga 1% dari pertumbuhan produk domestik bruto global pada tahun 2021 dan mengangkat inflasi inti sebesar 1%.

Potensi munculnya varian baru dan berbahaya dari virus Covid-19 dapat menyeret turunnya aktivitas ekonomi. Menurut IMF, ketidaksesuaian penawaran-permintaan juga bisa memakan waktu lebih lama untuk diselesaikan dari yang diharapkan.

Kondisi ini dapat membebani output dan memicu inflasi upah, yang dalam jangka waktu dapat mendorong pengetatan kebijakan moneter yang lebih awal dari perkiraan di negara-negara maju utama, terutama di Amerika Serikat, negara terbesar di dunia.

Ekonomi Tiongkok, terbesar kedua di dunia berpotensi lebih lambat dibandingkan prediksi semula jika mengalami masalah lebih lanjut di pasar real estat, konsumsi swasta tidak pulih, dan wabah Covid-19 meluas.

"IMF menekankan, bank-bank sentral di ekonomi pasar berkembang harus siap menghadapi guncangan jika inflasi terus meningkat di negara-negara ekonomi utama. Bank-bank sentral negara maju berpotensi menaikkan suku bunga lebih tinggi dari perkiraan," kata Nico. (A-2)

Baca Juga

Dok. Petrolimia  Gresik

Program Makmur Tingkatkan Produksi dan Pendapatan Petani Tebu

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 03 Juli 2022, 22:41 WIB
Hasil panen tebu para petani naik 37% yakni dari sebelumnya 116,5 ton per hektare menjadi 159,7 ton per...
Antara/Maulana Surya

Investasi Berkelanjutan Jadi Topik Pertemuan TIIWG G20 Kedua di Surakarta

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 03 Juli 2022, 21:05 WIB
Pertemuan TIIWG ini diharapkan dapat mempercepat terwujudnya transformasi...
Dok.Ist

Program Jawara Telah Bukukan Penjualan Rp2,5 M

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 03 Juli 2022, 20:41 WIB
Setiap Jawara yang saat ini sudah aktif memulai usahanya bisa mengantongi keuntungan perbulan hingga 2 juta...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya