Kamis 27 Januari 2022, 20:29 WIB

Presiden Ajak B20 Ikut Ciptakan Dunia yang Lebih Baik Lewat Ekonomi Hijau 

Andhika Prasetyo | Ekonomi
Presiden Ajak B20 Ikut Ciptakan Dunia yang Lebih Baik Lewat Ekonomi Hijau 

Dok. Tangkapan layar Youtube Biro Pers Sekretariat Presiden
Presiden Joko Widodo saat membukja B20 Meeting

 

PANDEMI covid-19 memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada umat manusia di dunia. Kehadiran virus mematikan itu tidak hanya menjadi bencana, tetapi juga menjadi peluang bagi penduduk global untuk bisa hidup dan bertumbuh lebih baik lagi. 

Semangat itulah yang akan diusung Indonesia dalam presidensi G20 2022. Sebagai tuan rumah, Indonesia mengajak seluruh negara anggota untuk berkontribusi nyata dan lebih besar bagi pemulihan dunia, baik di sisi kesehatan maupun ekonomi. 

"Covid-19 mengajarkan kita bahwa pandemi bukan hanya menjadi masalah, namun juga peluang untuk bertumbuh lebih baik. Kita harus memanfaatkan peluang ini untuk mewujudkan tata kelola dunia yang lebih adil, yang memberi kesejahteraan dan kemakmuran serta menjamin pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif serta berkelanjutan," ujar Presiden Joko Widodo dalam pembukaan B20 Inception Meeting di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Kamis (27/1). 

Dalam pelaksanaannya, Presidensi G20 Indonesia akan mengusung tiga tema pokok yaitu transisi menuju ekonomi hijau, pengembangan ekonomi digital serta perbaikan arsitektur kesehatan global. 

Kepala negara menjelaskan bahwa peralihan menuju ekonomi hijau yang ramah lingkungan merupakan tanggung jawab besar seluruh negara di dunia. 

Pengembangan sektor energi baru terbarukan (EBT) sebagai motor penggeraknya harus dibekali skenario dan peta jalan yang matang dan jelas termasuk dari sisi pendanaan dan inevstasi. Di situlah, peran B20 menjadi sangat krusial. 

Indonesia sedianya memiliki potensi (EBT) sebesar 418 gigawatt, baik yang bersumber dari air, panas bumi, angin, maupun matahari. Indonesia juga menyimpan kekayaan sumber daya mineral logam yang merupakan bahan baku utama pengembangan komponen kendaraan listrik. 

Namun, Jokowi mengakui, dalam praktik di lapangan, dibutuhkan biaya yang sangat besar untuk bisa memanfaatkan semua sumber daya itu secara maksimal. 

"Saya harap B20 bisa mendukung program pembangunan ini. Pendanaan dan kemitraan global adalah agenda yang harus jadi perhatian utama kita. Kami mengundang investasi yang bisa memunculkan nilai tambah besar yang tentunya saling menguntungkan," jelas mantan gubernur DKI Jakarta itu. 

Sejumlah investasi yang dimaksud presiden bisa berupa pembangunan industri hilir nikel, bauksit, timah dan tembaga di dalam negeri. 

Ia ingin semua sumber daya mineral itu diolah terlebih dulu menjadi barang jadi atau setengah jadi sebelum dijual ke luar negeri. 

"Kami pastikan akan menyuplai bahan tersebut untuk kebutuhan dunia namun bukan dalam bentuk mentah. Kami kirim dalam bentuk jadi atau setengah jadi," tegasnya. 

Baca juga : Hadapi Era 4.0, Penyuluh Pertanian Wajib Lakukan Transformasi

Selanjutnya, tema pokok kedua adalah pengembangan teknologi digital untuk mendorong pemberdayaam UMKM dan pengembangan SDM. 

Dengan jumlah penduduk yang sangat besar, Jokowi menyebut Indonesia adalah negara yang sangat menarik untuk menjadi pusat investasi di sektor infrastruktur teknologi digital. 

Terlebih, saat ini, ekonomi digital di Tanah Air berkembang begitu pesat. Indonesia memiliki satu decacorn dan delapan unicorn yang terus bertumbuh. 

Pemerintah juga tengah membangun kabel bawah laut yang yang menghubungkan indonesia dengan pantai barat Amerika Serikat. Tujuannya tidak lain untuk meningkatkan kapasitas bandwith lebih dari 100%. 

"Oleh karena itu, kami ingin mengundang para investor yang bisa mewujudkan itu, membantu memberi kesempatan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk berpartisipasi dalam ekonomi digital," tuturnya. 

Adapun, tema besar terakhir ialah pembenahan arsitektur ekosistem kesehatan global. 

"Penataan kembali arsitekrltur kesehatan global menjadi keharusan agar dunia lebih tahan terhadap ancaman krisis kesehatan. Produksi vaksin harys ditingkatkan dengan distribusi yang merata. Investasi dan pendanaan alat kesehatan harus harus termobilisasi ke banyak negara sebagai upaya mengantisipasi jika ada krisis selanjutnya," terang presiden. 

Jokowi menjelaskan, pada 2021, Indonesia menghabiskan anggaran sebesar US$34,77 miliar untuk memenuhi kebutuhan medis, baik obat-obatan, alat kesehatan hingga vaksin covid-19. 

Ketimbang menghabiskan dana sebesar itu untuk membeli, kepala negara ingin uang tersebut digunakan untuk membangun pabrik yang bisa memproduksi semua alat-alat itu di dalam negeri. 

"Prinsipnya kalau kita bisa, anggaran pemerintah tidak akan lagi habis untuk membeli, mengimpor," ucapnya. 

Presiden pun berharap, melalui wadah B20, para pelaku usaha dunia bisa memberi tawaran konkret yang bisa menjadi bagian pencapaian nyata dari rangkaian KTT tahun ini. 

"Kemitraan antara pemerintah dan swasta global harus menjadi orkestrasi solusi persoalan global. Indonesia pun berkomitmen bekerja keras memberi kontribusi untuk dunia yang tumbuh inklusif dan berkelanjutan," tandasnya. (OL-7)

Baca Juga

DOK Sinar Mas Land.

Southgate Residence Beri Keringanan Pembelian Apartemen Bersama Jendela360

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 21 Mei 2022, 17:11 WIB
Kerja sama itu diluncurkan pada Southgate Expo pada 21-29 Mei 2022 di Main Atrium AEON Mall...
Ilustrasi

Transisi Menuju Endemi, Industri Pernikahan Perlahan Mulai Bangkit

👤Putra Ananda 🕔Sabtu 21 Mei 2022, 17:00 WIB
Kebangkitan industri pernikahan disebutkan oleh Peter mampu memberikan efek domino terhadap perbaikan ekonomi pasca pandemi...
MI/Permana Pandega

Teten : Kopi Jadi Komoditas Unggulan, 96% Perkebunan Dikuasai Petani

👤Insi Nantika Jelita 🕔Sabtu 21 Mei 2022, 16:45 WIB
"Kopi dan rempah adalah komoditas unggulan negara kita yang harus dikelola baik. Harus dikuasai inovasi teknologinya, punya nilai...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya