Selasa 25 Januari 2022, 20:47 WIB

Perusahaan Turki Hentikan Produksi akibat Pasokan Gas Iran Terhambat

Mediaindonesia.com | Ekonomi
Perusahaan Turki Hentikan Produksi akibat Pasokan Gas Iran Terhambat

AFP/Adem Altan.
Anka Drone, kendaraan militer udara tak berawak yang dikembangkan oleh Turkish Aerospace Industries di Ankara.

 

BEBERAPA perusahaan manufaktur Turki sementara menghentikan produksi. Ini karena Iran pekan lalu menghentikan aliran gas hingga 10 hari karena suatu masalah teknis.

Sejumlah perusahaan Turki yang terkena dampak di antaranya pembuat suku cadang mobil Ege Endustri, produsen kardus Kartonsan, dan pembuat suku cadang pertahanan dan otomotif Katmerciler. Turki hampir sepenuhnya bergantung pada gas impor dari Rusia, Azerbaijan, dan Iran.

Iran menghentikan aliran gas ke Turki pada Kamis (20/1) dengan mengatakan ada kesalahan teknis di stasiun penambah tekanannya di Turki. Ege Endustri pada Senin (24/1) mengatakan akan menghentikan produksi di pabriknya hingga akhir pekan karena pemadaman listrik. Kartonsan akan menghentikan produksi sampai pemberitahuan lebih lanjut karena pasokan gas yang terbatas.

Katmerciler pada Minggu (23/1) mengatakan akan menghentikan sementara produksinya selama pemadaman listrik. Perusahaan tersebut berharap pemadaman listrik terencana itu tidak akan berdampak pada bisnis. Namun, Katmerciler tidak menjelaskan lebih lanjut. 

Iran mengatakan ekspor gasnya ke Turki telah dilanjutkan pada Jumat (21/1) tetapi seorang pejabat Turki mengatakan pasokan gas yang diberikan itu lebih rendah dari volume yang dibutuhkan. Turki sebelumnya membantah masalah itu disebabkan oleh kesalahan pada stasiun tekanan gas di negara itu.

Pihak berwenang Turki telah mengumumkan rencana penghentian pasokan listrik dan gas alam untuk konsumen besar di zona industri dan sejumlah pembangkit listrik karena terbatasnya pasokan gas dari Iran. Menteri Perindustrian Turki Mustafa Varank mengatakan bahwa sektor manufaktur harus mampu menghadapi penurunan produksi akibat pemadaman listrik. "Sektor industri cukup kuat untuk mengatasi periode ini yang akan berlangsung selama beberapa hari," kata Varank saat berpidato pada pembukaan pameran furnitur di Istanbul, Senin (24/1). 

Para produsen makanan di Turki mengatakan pemadaman listrik 72 jam di zona industri akan membahayakan keamanan pangan dan menimbulkan ancaman bagi barang-barang di unit penyimpanan. "Unit penyimpanan dingin membutuhkan listrik. Keterbatasan energi menimbulkan risiko serius terhadap keamanan pangan," kata Serikat Manufaktur dan Produsen Produk Organik Turki, yang meminta pengecualian dari pemadaman gas dan listrik. 

Baca juga: Tiongkok Pangkas Suku Bunga Lonjakkan Saham Perusahaan Properti

Iran memasok 16% dari kebutuhan gas alam Turki dalam 10 bulan pertama pada 2021, menurut data resmi terbaru. Harga energi telah meningkat tajam di Turki yang didorong oleh kenaikan harga energi global dan penurunan 44% nilai mata uang lira terhadap dolar AS pada 2021. Pada Januari 2022, tarif listrik di Turki dinaikkan sebanyak 125% untuk pengguna komersial dengan permintaan tinggi dan dinaikkan sekitar 50% untuk rumah tangga dengan permintaan rendah. (Ant/OL-14)

Baca Juga

dok.ist

Kementan dan DPR Tingkatkan Kapasitas SDM Pertanian Melawi

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 26 Mei 2022, 23:40 WIB
KEMENTAN RI melalui Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan Negeri Banjarbaru berkolaborasi dengan Komisi IV DPR RI terus berupaya...
Antara/Boyek Lela Martha

Kemendagri: Produk dalam Negeri Harus Jadi Tuan di Rumah Sendiri

👤Yakub Pryatama WIjayaatmaja 🕔Kamis 26 Mei 2022, 23:17 WIB
UMKM harus jadi perhatian  karena sektor ini paling luas serapan lapangan kerjanya,"...
Antara/HO BNBR

Realisasikan Investasi RI-Inggris, Bahlil bakal Bentuk Tim Khusus

👤Insi Nantika Jelita 🕔Kamis 26 Mei 2022, 22:25 WIB
“Saya pikir kita perlu membuat tim khusus untuk merealisasikan kerja sama ini yang akan kita teken saat Konferensi Tingkat Tinggi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya