Rabu 09 Juni 2021, 16:34 WIB

Pemerintah Gulirkan 5 Kebijakan untuk Dongkrak Penerimaan Migas

M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
Pemerintah Gulirkan 5 Kebijakan untuk Dongkrak Penerimaan Migas

Antara
Ilustrasi pekerja melintas di kawasan kilang pengolahan minyak milik Pertamina.

 

PEMERINTAH memiliki lima kebijakan strategis untuk meningkatkan penerimaan sektor migas pada 2022. Hal itu diutarakan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu dalam rapat kerja dengan Banggar DPR RI.

Adapun kebijakan strategis pertama ialah meningkatkan lifting migas. "Ini tetap merupakan prioritas pertama melalui penyederhanaan, kemudahan perizinan untuk meningkatkan investasi dan peningkatan perluasan kebijakan satu pintu," jelas Febrio, Rabu (9/6).

"Kami juga harus melakukan transformasi sumber daya ke cadangan. Mempertahankan tingkat produksi eksisting yang tinggi dan juga percepat penggunaan chemical Enchaned Oil Recovery (EOR) dan eksplorasi penemuan cadangan besar," imbuhnya.

Baca juga: Ada Temuan Cadangan Migas di Kalimatan, SKK Migas: Segera Dibor

Dalam 10 tahun terakhir, kata Febrio, lifting migas menghadapi tren penurunan. Kondisi itu utamanya disebabkan terlalu mengandalkan sumur tua yang secara alami mengalami penurunan volume.

Lalu kebijakan kedua, yakni mendorong pelaksanaan kontrak bagi hasil dan pengendalian biaya operasional kegiatan hulu migas. Pemerintah mendorong skema bagi hasil di sektor hulu migas agar lebih efisien dan efektif.

Adapun kebijakan ketiga ialah menyempurnakan regulasi, baik berupa peraturan maupun perjanjian kontrak. Keempat, meningkatkan monitoring dan evaluasi, pengawasan dan transparansi pemanfaatan, serta penggalian potensi melalui teknologi.

Baca juga: Tahun Depan, Subsidi Listrik dan Kuota Premium Jamali Dikurangi

Kelima, yaitu menerapkan kebijakan penetapan harga gas bumi tertentu. Hal tersebut dilakukan melalui paket kebijakan stimulus ekonomi untuk mendorong industri dalam negeri, yang seusai Perpres Nomor 121 Tahun 2020. Sejak 2016 hingga 2019, penerimaan migas cenderung fluktuatif, dengan rerata pertumbuhan penerimaan sebesar 16,9%.

"Pada 2020, penerimaan migas turun 44,9% sebagai dampak pandemi covid-19, yang menyebabkan permintaan dunia anjlok. Sehingga, menekan harga minyak mentah," jelas Febrio.

Sedangkan realiasi penerimaan migas hingga April 2021 mencapai Rp38,8 triliun, atau 32% terhadap postur APBN. Penerimaan migas berasal dari Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) migas dengan kontribusinya 65% dan Pajak Penghasilan (PPh) migas sebesar 35%.(OL-11)

 

Baca Juga

Dok. Pribadi

BI-Fast Perkuat Ekosistem Pembayaran Digital di Indonesia 

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Jumat 28 Januari 2022, 19:00 WIB
BI Fast juga dibangun untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan layanan transfer dana yang lebih efisien, cepat (real-time), dan tersedia...
Antara/Hafidz MUbarak A

Kemendag Tertibkan Robot Trading Tak Berizin 

👤Fetry Wuryasti 🕔Jumat 28 Januari 2022, 18:37 WIB
Ini merupakan hasil temuan pengawasan terhadap PT DNA Pro Akademi, yang telah menjalankan kegiatan usaha penjualan expert advisor/robot...
ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya

Inilah Alasan Mengapa Platform E-Commmerce Semakin Jadi Pilihan Belanja

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 28 Januari 2022, 18:17 WIB
Promo menjadi faktor terbesar bagi seseorang saat memilih platform e-commerce untuk berbelanja online, yakni sebesar 49...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya