Rabu 28 April 2021, 21:47 WIB

Terapkan Ekonomi Inklusif untuk Lawan Kemiskinan

M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
Terapkan Ekonomi Inklusif untuk Lawan Kemiskinan

Antara
Warga antre mendapatkan paket sembako gratis di Desa Kaum, Karang Asem, Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (9/4).

 

INDONESIA harus mulai menerapkan ekonomi inklusif agar bisa meminimalisasi tingkat kemiskinan, utamanya pascapandemi covid-19. Dalam penerapan ekonomi inklusif tersebut, pemerintah akan mendorong rumah tangga untuk naik kelas dan terlibat dalam proses ekonomi pembangunan yang lebih luas.

Demikian disampaikan Staf Ahli Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bidang Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Vivi Yulaswati dalam Forum Diskusi Denpasar 12 bertajuk Antisipasi Kemiskinan Pasca Pandemi secara virtual, Rabu (28/4).

“Salah satu syarat atau faktor kuncinya adalah berbagai program-program pemerintah bagi masyarakat itu harus bertumpuk di dalam rumah tangga, komunitas, termasuk wilayah miskin,” tuturnya.

Dia bilang, penumpukan program-program perlindungan sosial itu dapat meningkatkan ekonomi penerima manfaat. Misal, penerima manfaat akan memperoleh penguatan pendapatan, aset, konsumsi meningkat, dan kemampuan untuk menabung juga meningkat.

Hal itu, kata Vivi, diberikan dengan pendampingan dari pemerintah. Sebab, masyarakat prasejahtera dan rentan perlu untuk diarahkan dalam pengelolaan keuangan. “Kalau itu sudah menumpuk dan berhasil, maka dalam waktu 36 bulan atau 3 tahun, mereka yang berada di posisi extreme poverty itu bisa dientaskan,” jelasnya.

Pararel dengan langkah itu, pemerintah juga harus mendorong penguatan kelompok masyarakat menengah, atau yang disebut Bank Dunia sebagai expired middle class. Golongan ini berada tipis di atas garis kemiskinan dan perlu untuk ditingkatkan dan dijaga perekonomiannya agar tidak masuk ke dalam jurang kemiskinan.

Hal itu dapat diimplementasikan melalui pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pemanfaatan dan optimalisasi dana desa, pembangunan infrastruktur skala kecil, pemberian nutrisi, pengendalian konsumsi rokok, pengembangan kawasan ekonomi produktif, dan tak kalah penting pengembangan teknologi informasi.

Di kesempatan yang sama, ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Lilik Sugiharti menuturkan, peta kemiskinan rumah tangga memiliki sirkulasi lingkaran. Itu berarti tanpa adanya intervensi pemerintah, masyarakat miskin akan tetap terjebak dalam lingkaran kemiskinan tersebut.

Lingkaran kemiskinan itu tecermin dari adanya keterbelakangan, ketidakseimbangan pasar, dan kurangnya modal yang berpotensi mengurangi produktivitas. Berkurangnya produktivitas akan menghasilkan pendapatan yang rendah. Pendapatan rendah itu membuat tabungan rumah tangga sangat kecil, atau bahkan sama sekali tidak ada. Minmnya tabungan akan berdampak pada sedikit, atau sama sekali tidak adanya investasi maupun modal.

“Itu akan kembali lagi ke awal dan ini tidak akan ada habisnya,” kata Vivi. (E-3)

Baca Juga

DOK BANK BRI

Dampingi Presiden Salurkan BPUM, Dirut BRI Ungkap Strategi Optimalkan Penyaluran BPUM 2021

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 02 Agustus 2021, 09:28 WIB
Sampai dengan saat ini, tercatat jumlah penerima BPUM 2021 melalui BRI berjumlah 8,2 juta penerima dengan total jumlah bantuan yang...
XL Axiata

XL Axiata bakal Akuisisi 66% Saham Link Net

👤Insi Nantika Jelita 🕔Minggu 01 Agustus 2021, 23:58 WIB
Hal ini ditandai lewat penandatanganan kesepakatan tidak mengikat XL Axiata dengan pemegang saham mayoritas Link...
Dok MI

Serapan Anggaran Daerah Rendah karena Pemda Incar Bunga Bank

👤M Ilham Ramadhan Avisena 🕔Minggu 01 Agustus 2021, 23:12 WIB
Imbal hasil, atau bunga yang diterima pemerintah daerah dari perbankan, kata Amir, masuk ke dalam...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Pembangunan Berkelanjutan demi Keselamatan Bersama

 Sektor keuangan memiliki peran besar dalam mengarahkan perubahan menuju penerapan green economy

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya