Senin 01 Maret 2021, 14:15 WIB

Inflasi Februari 2021 0,10%, BPS: Dampak Pandemi Belum Reda

M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
Inflasi Februari 2021 0,10%, BPS: Dampak Pandemi Belum Reda

MI/Andri Widiyanto
Aktivitas pedagang di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta.

 

BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 0,10% pada Februari 2021. Angka itu menunjukkan pertumbuhan yang melambat dari bulan sebelumnya (mtm) sebesar 0,26%. 

Pun, demikian jika dibandingkan dengan tingkat inflasi Februari 2020 (yoy) sebesar 0,28%. Dengan angka inflasi periode Februari 2021, maka inflasi tahun kalender tercatat 0,36%, sementara inflasi tahunan sebesar 1,38%.

"Pergerakan inflasi secara bulanan, pada Februari 2021 sebesar 0,10%. Ini jauh lebih lambat kalau dibandingkan dengan inflasi Januari 2021 sebesar 0,26%. Juga lebih lambat dibandingkan Februari 2020 sebesar 0,28%," ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Senin (1/3).

Angka inflasi Februari 2021 didapat dari hasil pemantauan di 90 kota Indeks Harga Konsumen (IHK). Lalu, 54 kota yang dipantau tercatat mengalami inflasi, sedangkan 36 kota lainnya mengalami deflasi.

Baca juga: Jokowi: KRL Lebih Ramah Lingkungan, Cepat dan Murah

Inflasi tertinggi terjadi di Mamuju, Sulawesi Barat, yang tercatat sebesar 1,12%. Tingginya tingkat inflasi akibat musibah gempa bumi beberapa waktu lalu dan menyebabkan beberapa harga komoditas naik.

Ikan segar menjadi komoditas yang mengalami peningkatan harga signifikan. Selain itu, tarif angkutan udara yang naik pada Februari 2021 juga menyebabkan inflasi di Mamuju.

"Inflasi ini terjadi karena peningkatan harga untuk beberapa komoditas ikan, yang memang banyak dikonsumsi masyarakat setempat. Juga adanya kenaikan tarif angkutan udara yang memberi andil kepada inflasi di Mamuju sebesar 0,20%," terang Suhariyanto.

Sedangkan kota yang mengalami deflasi tertinggi ialah Gunung Sitoli, Sumatera Utara. Deflasi di wilayah itu tercatat sebesar 1,55%, karena penurunan harga dari beberapa komoditas. Seperti, cabai merah, ikan, cabai raiwt dan daging ayam ras.

Baca juga: Pemerintah Sebut Prospek Ekonomi RI Menjanjikan

Berdasarkan kelompok pengeluaran, imbuh Suhariyanto, terdapat lima kelompok yang tidak memberikan andil terhadap inflasi dan deflasi. Kelima kelompok pengeluaran tersebut, yakni pakaian dan alas kaki, kesehatan, informasi, komunikasi dan jasa keuangan, rekreasi, olahraga dan budaya, serta pendidikan.

Adapun kelompok pengeluaran yang memberikan andil pada deflasi tercatat hanya perawatan pribadi dan jasa lainnya. Komoditas yang paling dominan menyumbang deflasi di kelompok tersebut ialah emas perhiasan sebesar 0,22%.

"Harga emas batangan, logam mulia di pasaran internasional mengalami penurunan. Tentunya ini akan berpengaruh pada turunnya harga emas perhiasan dibandingkan Januari 2021. Penurunan harga emas perhiasan ini terjadi di 78 kota IHK," pungkasnya.

Berdasarkan komponen, harga bergejolak (volatile price) menjadi komponen yang mengalami deflasi sebesar 0,01%. Sedangkan inflasi inti dan harga yang diatur pemerintah (administered price) mengalami inflasi masing-masing sebesar 0,11% dan 0,21%.

Baca juga: Investor Masih Mewaspadai Imbal Hasil Obligasi AS

Komponen inflasi inti memberikan andil pada tingkat inflasi sebesar 0,07%. Itu disebabkan kenaikan harga ikan segar dan kenaikan upah asisten rumah tangga.

Kendati demikian, inflasi inti pada Februari 2021 lebih lambat bila dibandingkan Januari 2021 yang tercatat 0,14%. Pun demikian bila dibandingkan dengan tingkat inflasi Februari 2020 sebesar 0,14%.

Suhariyanto menilai angka inflasi Februari 2021 secara menyeluruh menunjukkan pelambatan. Itu menunjukkan bahwa dampak pandemi covid-19 belum mereda.

"Laju inflasi ini lebih lambat dibandingkan bulan sebelumnya, juga lebih lambat dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya. Bisa dilihat dampak pandemi masih belum reda. Terlihat permintaan domestik juga masih lemah," tutup dia.(OL-11)

 

Baca Juga

Dok. Kementerian ATR/BPN

Kementerian ATR/BPN Gelar Sosialiasi PP Turunan UU Cipta Kerja Bidang Pengendalian Fungsi Tanah dan Ruang 

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Sabtu 16 Oktober 2021, 00:11 WIB
Direktorat Jenderal Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang (Ditjen PPTR) membawahi beberapa PP, yaitu PP Nomor 18 Tahun 2021 tentang...
Dok. Kemendag

UKM Binaan ECP Kemendag Sukses Perluas Pasar Ekspor Furniture ke UEA 

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Jumat 15 Oktober 2021, 23:52 WIB
CV Mebel Internasional merupakan peserta ECP untuk wilayah Jawa Tengah yang berhasil mendapatkan permintaan dari UEA dengan memanfaatkan...
Dok. Diamondland

Ikut Bantu Pencapaian Herd Immunity dan Pemulihan Ekonomi, Diamonland Gelar Vaksinasi Massal 

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Jumat 15 Oktober 2021, 23:06 WIB
Kegiatan itu merupakan bentuk tanggung jawab sosial dalam menyukseskan pencapaian herd immunity melalui vaksinasi...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Risma Marah dan Gaya Kepemimpinan Lokal

ika melihat cara Risma marah di Gorontalo, hal itu tidak terlalu pas dengan norma, etika, dan kebiasaan di masyarakat.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya