Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBAGAI perusahaan teknologi global dalam industri pembayaran, PT Mastercard Indonesia berkomitmen untuk menghubungkan dan memperkuat ekonomi digital yang inklusif dan menguntungkan semua orang, di mana saja. Caranya dengan membuat transaksi aman, sederhana, cerdas, dan mudah diakses.
Director and Head of Account Management of PT Mastercard Indonesia Arief Kusuma mengatakan bahwa dengan menggunakan data dan jaringan yang aman, kemitraan, semangat, inovasi-inovasi serta solusi-solusi dari Mastercard, telah membantu individu, lembaga keuangan, pemerintah, dan bisnis untuk mewujudkan potensi terbesar mereka.
"Hasil kepatutan kami, atau DQ, mendorong budaya perusahaan dan semua yang kami lakukan di dalam dan di luar perusahaan. Dengan jaringan di lebih dari 210 negara dan wilayah, kami tengah membangun sebuah dunia yang berkelanjutan, yang membuka peluang-peluang tak ternilai bagi semua orang," ungkapnya dalam video conference, Senin (10/8).
Lebih lanjut, Arief mengatakan bahwa Mastercard ingin mendorong terciptanya dunia di luar uang tunai. Sejak lama, Mastercard telah menyampaikan bahwa kesuksesan dunia digital bergantung pada integritas ekosistem pembayaran.
Menurutnya, pihak Mastercard secara aktif telah bekerja, menciptakan, berinovasi, dan melakukan kolaborasi untuk mengimplementasikan teknologi-teknologi pembayaran yang mudah, tersedia di mana-mana, dan aman untuk semua orang, di mana pun, dan kapan pun.
"Bersama dengan para mitra dan konsumen kami, kami berharap dapat menciptakan sebuah dunia yang lebih baik dengan sistem pembayaran yang aman, terjamin, dapat dioperasikan, dan cepat, untuk beradaptasi dengan perubahan kebutuhan dan permintaan," sambung Arief.
Baca juga: Mastercard Tunjuk Dua Eksekutif Senior Baru di Indonesia
Di tempat yang sama, Country Manager of PT Mastercard Indonesia Navin Jain menambahkan bahwa di era pandemi covid-19 ini, Mastercard berkomitmen untuk lebih menyoroti kebutuhan akan lingkungan dan pengalaman tanpa kontak, seperti kartu pembayaran tap-and-go1.
"Kami bekerja sama dengan para mitra strategis untuk mempercepat penerimaan non tunai, terutama kartu-kartu tanpa kontak atau contactless, dan mengadopsi pilihan pembayaran non tunai yang membantu orang-orang meminimalisir kontak fisik dan melanjutkan kegiatan rutin mereka tanpa gangguan apapun," kata Navin.
Dalam situasi pandemi, beberapa hal tengah dilakukan oleh Mastercard di antaranya ialah memperkuat perdagangan digital. Navin mengatakan bahwa pihaknya secara aktif telah memperjuangkan penggunaan teknologi pembayaran tanpa kontak dengan mendukung batasan transaksi yang cukup tinggi bagi transaksi tanpa kontak di seluruh wilayah Asia Pasifik.
Upaya ini diharapkan dapat memberdayakan konsumen untuk melakukan pembatasan sosial dengan mengurangi kontak orang ke orang dari transaksi melalui uang tunai, serta memberikan ketenangan pikiran yang lebih besar bagi mereka dalam melakukan transaksi.
"Kami juga memperluas digitalisasi pembayaran melalui kartu digital-first, kartu virtual, dan pembayaran secara real-time. Guna memungkinkan lebih banyak orang untuk dapat berbelanja dan melakukan pembayaran dengan aman dan nyaman dari rumah mereka, kami tengah memperkuat usaha kami dalam mempercepat digitalisasi transaksi, dengan cara mendorong penerbitan kartu digital-first, kartu virtual, dan Debit Mastercard," ujarnya.
Navin menuturkan bahwa pihaknya juga tengah menerapkan teknologi seperti Threat Scan, RiskRecon, dan Decision Intelligence untuk mencegah potensi penipuan dalam sistem pembayaran, dan membantu organisasi-organisasi kesehatan untuk melindungi lingkungan mereka melalui penilaian peringkat keamanan siber (RiskRecon) secara gratis.
Selain itu, Mastercard juga mendukung para para pelaku UKM dalam memulihkan bisnis mereka yang terdampak pandemi covid-19 dan membantu menjadikan mereka lebih tangguh di tengah era ekonomi digital baru.
"Sumber daya yang dimaksud meliputi produk dan teknologi, wawasan dari data transaksi, keahlian dalam keamanan siber, jaringan global untuk memindahkan uang dan informasi, serta kemitraan multi-sektor yang mendalam. Kami juga akan memanfaatkan modal filantropis dari Mastercard Impact Fund untuk memberdayakan dan memungkinkan para UKM ini untuk kembali online dengan cepat, aman, dan dengan cara yang dapat ditingkatkan," kata Navin.
Navin juga menyadari bahwa beberapa mitra Mastercard tengah menghadapi sejumlah masalah, termasuk chargeback yang lebih tinggi, kurangnya informasi dan wawasan, peningkatan penipuan dalam transaksi e-commerce, phishing, tunggakan kredit, dan ketergantungan digital.
Oleh karena itu, Navin mengatakan bahwa pihaknya akan memberi para mitra layanan tambahan untuk membantu mengelola tantangan-tantangan utama tersebut.
"Kami bekerja dengan berbagai organisasi dan komunitas dalam memberikan dukungan dan upaya-upaya pemulihan. Contoh terbaru dari komitmen kami ini adalah kemitraan dan investasi USD$25 juta dengan The Bill and Melinda Gates Foundation untuk mempercepat pengembangan dan akses pengobatan covid-19," lanjutnya.
Menurut Navin pihaknya juga memberikan akses terhadap layanan finansial dan digital yang merata bagi masyarakat Asia, serta membiasakan mereka dengan pembayaran digital dan layanan e-commerce kini menjadi hal yang semakin penting.
"Untuk itu, kami mengembangkan serangkaian fitur pendidikan digital bagi mereka yang kurang mampu, termasuk wanita, lansia, serta usaha kecil dan mikro. Kami juga membantu pemerintah dan LSM dalam mengatasi masalah ini dengan mengambil bagian di sejumlah program bantuan ekonomi melalui pemanfaatan layanan Prabayar dan Debit untuk mendistribusikan bantuan dan manfaat secara efisien," tegas Navin
"Selain itu, Pusat Pertumbuhan Inklusif kami juga memanfaatkan jaringannya ke para thought leaders untuk memahami lebih jauh mengenai dampak krisis ini pada beberapa kelompok yang paling terkena dampak," pungkasnya. (A-2)
Shopee 10 tahun dorong UMKM, brand lokal, dan kreator tumbuh digital
Menko Airlangga menegaskan bahwa sektor digital kini berkedudukan sebagai mesin ketiga (third engine) pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Meski pembayaran nontunai kian dominan, pelaku industri menilai ketersediaan uang tunai tetap menjadi elemen penting.
Di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang kerap diukur lewat valuasi dan pendanaan, MDI Ventures menghadirkan perspektif berbeda.
Pemerintah tengah bersiap melaksanakan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026), gelombang pendataan nasional yang menjadi fondasi penting dalam membaca denyut ekonomi Indonesia
Kebutuhan masyarakat terhadap akses internet kini setara dengan kebutuhan pokok, namun kenyataannya layanan tersebut masih belum dapat dinikmati secara merata.
PT Bank Negara Indonesia (BNI) dinilai berada pada posisi yang lebih siap memasuki 2026 dibandingkan bank-bank besar lainnya.
Menurut Pramono, pencatatan saham Bank Jakarta di BEI tidak hanya akan meningkatkan kepercayaan publik, tetapi juga mendorong profesionalisme perusahaan.
MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku telah menarik dana pemerintah sebesar Rp75 triliun dari total penempatan Rp276 triliun Saldo Anggaran Lebih (SAL) di sistem perbankan.
MANTAN Kepala PPATK Yunus Husein menilai pemajangan uang tunai hasil rampasan kasus korupsi dan sitaan negara oleh aparat penegak hukum tidak diperlukan dan cenderung tidak efisien.
PERUBAHAN status Bank Syariah Indonesia (BSI) menjadi persero dinilai memperkuat posisi bank tersebut, terutama dari sisi kredibilitas dan persepsi keamanan.
Bank Indonesia (BI) menyebut penurunan suku bunga kredit perbankan cenderung lebih lambat. Karena itu, BI memandang penurunan suku bunga kredit perbankan perlu terus didorong.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved