Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
MENGACU data Badan Pusat Statistik (BPS), Presiden Joko Widodo menyatakan terjadi deflasi bahan pangan sebesar 0,13% pada April 2020.
Hal tersebut mengindikasikan adanya penurunan daya beli masyarakat pada periode tersebut.
Baca juga: Inflasi April Tercatat Melambat
“Ini ada indikasi penurunan permintaan bahan pangan. Artinya daya beli masyarakat menurun,” ujar Jokowi, sapaan akrabnya, saat memimpin rapat terbatas, Rabu (13/5).
Penurunan daya beli, lanjut dia, akibat pandemi covid-19 yang mengguncang perekonomian. Banyak masyarakat kehilangan pekerjaan dan pendapatan. Sehingga, kemampuan belanja rumah tangga terganggu.
Pemerintah berupaya mengantisipasi penurunan daya beli dengan menyalurkan bantuan sosial kepada masyarakat miskin dan terdampak pandemi.
Baca juga: Covid-19 Guncang Ekonomi, KSPI Khawatirkan PHK Massal
Sebanyak 9 juta kepala keluarga (KK) mendapat Bantuan Sosial Tunai (BST). Bantuan Langsung Tunai (BLT) Desa juga disediakan untuk 11 juta KK. Di luar itu, ada beberapa bantuan sosial existing yang terus disalurkan. Seperti, Bantuan Pangan Nontunai dan Program Keluarga Harapan (PKH).
"Kita harapkan ini dapat meningkatkan daya beli masyarakat," pungkas Kepala Negara.(OL-11)
Berdasarkan data 10 komoditas dengan andil inflasi dan deflasi terbesar secara bulanan, cabai merah mencatat andil deflasi terbesar sebesar -0,31 persen, disusul cabai rawit -0,07 persen.
Kota Padang mengalami deflasi (penurunan harga barang) pada bulan Januari 2026.
Di Purwokerto, penurunan harga terjadi pada daging ayam ras, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan telur ayam ras.
Komoditas yang memberikan andil deflasi yaitu cabai merah sebesar 0,10 persen, cabai rawit, daging ayam ras, dan bawang merah masing-masing sebesar 0,06 persen.
BADAN Pusat Statistik Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat pada Januari 2026 ini, inflasi bulan ke bulan di provinsi ini sebesar -0,16% atau mengalami deflasi 0,16%.
PROVINSI DKI Jakarta mengalami deflasi sebesar 0,23% (mtm) pada Januari 2026, setelah pada bulan sebelumnya mengalami inflasi sebesar 0,33% (mtm).
INDONESIA tidak kekurangan uang. Yang kurang adalah arah. Ini bukan gejala siklikal atau persoalan sentimen pasar, melainkan kegagalan struktural.
Tanpa dorongan fiskal awal, ekonomi akan selalu menunggu.
Alih-alih memicu inflasi pangan, program prioritas pemerintah MBG dinilai justru akan menjadi stimulus bagi peningkatan produktivitas nasional dan penguatan ekonomi kerakyatan.
Berdasarkan data selama bulan Januari hingga Desember 2024, tercatat 38juta kunjungan wisatawan datang ke DIY.
berdasarkan hasil rapat DK OJK yang dilaksanakan pada 1 Oktober lalu menilai sektor jasa keuangan terjaga stabil.
INDONESIA dan Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) telah melaksanakan Putaran Ketiga Perundingan Perjanjian Perdagangan Bebas antara kedua pihak (Indonesia-GCC FTA).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved