Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Januari 2026 DIY Mengalami Deflasi 0,16 Persen

Agus Utantoro
02/2/2026 21:23
Januari 2026 DIY Mengalami Deflasi 0,16 Persen
Ilustrasi(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

BADAN Pusat Statistik Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat pada Januari 2026 ini, inflasi bulan ke bulan di provinsi ini sebesar -0,16% atau mengalami deflasi 0,16%. Kondisi ini tercermin dari perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) DIY yang menunjukkan penurunan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran.

Sementara itu, inflasi tahunan (year-on-year) tercatat sebesar 3,30% dan inflasi tahun kalender (year-to-date) sebesar -0,16% atau mengalami deflasi sebesar 0,16%. 
Statistisi Ahli Utama BPS DIY Sentot Bangun Widoyono menjelaskan secara bulanan perkembangan IHK menunjukkan adanya variasi perubahan harga kelompok pengeluaran. 

"Beberapa kelompok mengalami deflasi namun beberapa kelompok lainnya mengalami inflasi," kata Sentot.

Menurut dia deflasi terdalam terjadi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,54%, diikuti oleh kelompok transportasi yang mengalami deflasi sebesar 0,31%. 

Sebaliknya, lanjutnya, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi tertinggi secara bulanan, yaitu sebesar 4,15%. Komoditas yang memberikan andil deflasi (month-to month) terbesar pada Januari 2026 antara lain cabai merah, daging ayam ras, cabai rawit, bawang merah, dan bensin. Adapun komoditas penyumbang andil inflasi terbesar meliputi emas perhiasan, sepeda motor, kacang tanah, bawang putih, dan bayam. Dikatakan, secara tahunan, seluruh kelompok pengeluaran di DIY mengalami inflasi. 

"Inflasi tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 18,4%, disusul oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 8,42%. Namun komoditas yang memberikan andil inflasi tahunan terbesar antara lain tarif listrik, emas perhiasan, beras, Sigaret Kretek Mesin (SKM), dan Sigaret Kretek Tangan -SKT," katanya. Sementara itu, komoditas yang memberikan andil deflasi tahunan terbesar yaitu cabai merah, cabai rawit, bawang putih, tomat, dan buncis. 
Berdasarkan wilayah penghitungan inflasi, Kabupaten Gunungkidul pada Januari 2026 mencatat inflasi tahunan sebesar 3,11% dengan deflasi bulanan sebesar 0,17%. Sementara itu, Kota Yogyakarta mengalami inflasi tahunan sebesar 3,55% dan deflasi bulanan sebesar 0,14%. 

Nilai Tukar Petani Turun 1,36%

Lebih lanjut Sentot menjelaskan pada Januari 2026, Nilai Tukar Petani (NTP) Daerah Istimewa Yogyakarta tercatat sebesar 108,53 atau turun 1,36% dibandingkan Desember 2025. Penurunan NTP tersebut dipengaruhi oleh turunnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) dan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) pada periode yang sama. 

Indeks Harga yang Diterima Petani (It) pada Januari 2026 tercatat sebesar 141,07 atau mengalami penurunan sebesar 3,05%. "Penurunan Indeks Harga yang Diterima Petani terutama disumbang oleh turunnya harga beberapa komoditas utama, antara lain ayam ras pedaging, cabai merah, bawang merah, dan telur ayam ras. Sementara itu, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) tercatat sebesar 129,99 atau turun 1,71%, dengan komoditas penyumbang penurunan antara lain bawang merah, cabai merah, cabai rawit, dan daging ayam ras," jelasnya.

Ia menambahkan berdasarkan subsektor, hanya dua subsektor yang mengalami peningkatan NTP, yaitu subsektor perikanan (Nilai Tukar Nelayan) yang naik sebesar 6,99% serta subsektor tanaman pangan yang meningkat sebesar 2,78. Sebaliknya, penurunan terdalam terjadi pada subsektor hortikultura, dengan NTP Hortikultura mengalami penurunan sebesar 12,89%. 

Pada periode yang sama, ujarnya, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) DIY pada Januari 2026 tercatat sebesar 112,45, atau mengalami penurunan sebesar 3,91% dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan NTUP, lanjutnya dipengaruhi oleh turunnya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 3,05%, dengan komoditas penyumbang utama meliputi ayam ras pedaging, cabai merah, bawang merah, dan telur ayam ras. Sementara itu, Indeks Biaya Produksi dan 

Menurut Sentot Penambahan Barang Modal (BPPBM) pada Januari 2026 tercatat sebesar 125,46 atau mengalami kenaikan sebesar 0,90%. Kenaikan BPPBM dipengaruhi oleh meningkatnya biaya beberapa komoditas dan komponen produksi, antara lain ayam petelur layer, upah pemanenan, sewa tanah sawah, dan broiler starter. Berdasarkan subsektor, hampir seluruh subsektor mengalami penurunan NTUP, kecuali subsektor perikanan nelayan yang mencatat kenaikan sebesar 5,18%. (AU/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya