Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
KISRUH minyak goreng belum sepenuhnya usai. Kelangkaan dan harga tinggi, khususnya untuk jenis minyak curah, masih terjadi di sejumlah daerah. Di lain sisi, gejolak harga minyak dunia yang memunculkan risiko penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pun masih menjadi isu yang tampaknya bakal berlarut.
Kini, kita dihadapkan lagi dengan datangnya Bulan Suci Ramadan 1443. Dari pengalaman yang sudah-sudah, kedatangan Ramadan kerap menjadi kisah horor karena terjadinya kelangkaan dan melonjaknya harga bahan-bahan pokok.
Apa pun alasannya, ketersediaan dan stabilitas harga kebutuhan pokok menjelang Ramadan dan Lebaran semestinya menjadi harga mati. Tugas pemerintah memilih langkah antisipasi yang tepat demi menjaga pasokan dan kestabilan harga. Dengan begitu, warga dapat berpuasa dengan tenang. Di sisi lain, angka inflasi pun dapat terjaga.
Meskipun mungkin kondisi dan situasinya berbeda, bolehlah kita menjadikan Ramadan dan Lebaran pada 2017 hingga 2020 sebagai benchmark langkah antisipatifnya. Mengapa? Karena pada periode itu kolaborasi antarinstansi pemerintah relatif berhasil menjaga stok dan stabilitas harga kebutuhan pokok.
Hal itu terbukti dari indikatornya. Di lapangan, saat itu hampir tidak ada gejolak masyarakat yang diakibatkan oleh kurangnya pasokan pangan. Aksi spekulan juga bisa diredam sehingga harga tak meroket. Indikator di atas kertas pun sama bagusnya. Inflasi volatile food pada saat momen Ramadan dan Lebaran, terutama pada periode 2019-2020, juga tercatat kurang dari 1%.
Untuk mencapai benchmark itu, mau tidak mau pemerintah mesti bekerja lebih keras dan cermat menyiapkan langkah-langkahnya. Kita tahu, saat ini ekosistem global untuk distribusi dan harga sejumlah komoditas sedang tidak sehat karena faktorfaktor di luar hukum ekonomi, seperti perang.
Volatilitas harga CPO dan minyak dunia yang kemudian menyebabkan gejolak harga minyak goreng dan BBM ialah contoh paling nyata dari ketidakseimbangan ekosistem komoditas tersebut. Pada saat seperti itu, praktik-praktik mafia, spekulasi, dan kartelisasi seperti menemukan habitatnya. Hal-hal itulah yang kini sedang dihadapi dunia, termasuk Indonesia.
Belum lagi, situasi pandemi covid-19 juga sebetulnya belum sepenuhnya berakhir. Dampaknya terhadap perekonomian dan daya beli rumah tangga pun masih terasa. Dari sisi kesehatan, masyarakat mungkin sudah menjalani kehidupan mendekati normal. Akan tetapi, dari sisi ekonomi sejatinya masih banyak yang belum ‘sembuh’.
Artinya, tantangan pemerintah saat ini sangatlah tidak mudah. Akan lebih sulit dari tahun-tahun sebelumnya. Semua faktor yang disebutkan di atas akan menjadi variabel yang tidak bisa dilepaskan ketika pemerintah menyiapkan strategi pengamanan ketersediaan dan stabilisasi harga bahan pokok selama Ramadan dan menjelang Idul Fitri 1443.
Sampai hari ini, momok kenaikan harga itu bukan sekadar gurauan. Jika mengutip laman Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), sejumlah komoditas sudah mengalami kenaikan harga mulai sebulan terakhir. Komoditas yang sebagian besar pemenuhannya masih tergantung pada impor, seperti kedelai, gula, dan daging sapi, bersama minyak goreng tercatat sebagai item bahan pokok yang harganya terus menaik.
Ini yang mesti segera diantisipasi dengan cepat dan terukur oleh pemerintah. Kalaupun terjadi ke naikan harga karena faktor hukum ekonomi, pasokan-permintaan, pemerintah harus menjaga kenaikan itu tetap di level yang wajar. Selain operasi pasar, Kementerian Perdagangan, Satgas Pangan Polri, kejaksaan, bila perlu dibantu intelijen, mesti lebih tegas menindak penjahat-penjahat yang terbukti mengacaukan tata niaga sekaligus merusak harga komoditas bahan pokok.
Ingat, dalam isu harga pangan dan kebutuhan pokok ini, kewibawaan pemerintah dipertaruhkan. Tak perlu berbusa-busa memberikan pernyataan dan alasan karena sejatinya yang dituntut publik hanya satu, keberhasilan menstabilkan harga secara nyata.
KITA mafhum bahwa saat ini ruang fiskal negara tengah menghadapi ujian berat.
KEPASTIAN kerap menjadi barang langka di tengah gejolak global.
GUGURNYA tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam misi perdamaian di Libanon menjadi pukulan keras bagi Indonesia.
RUANG publik kembali disuguhi dinamika penegakan hukum yang menimbulkan kegelisahan.
SABTU (28/3) lalu, genap satu bulan prahara di Timur Tengah berlangsung.
MULAI hari ini, 28 Maret 2026, jagat digital Indonesia memasuki babak baru yang krusial.
SETIAP musim mudik Lebaran tiba, pemerintah seolah kembali memasuki arena uji publik yang tak pernah benar-benar usai
DI tengah langkah penghematan energi sebagai antisipasi terhadap gejolak global, pemerintah memastikan untuk tidak memberlakukan pembelajaran daring bagi para siswa.
BERHEMAT adalah hal mutlak dalam menghadapi krisis global saat ini. Berhemat, khususnya BBM, merupakan adaptasi pertama dan minimal ketika Selat Hormuz belum juga aman.
PEMBERANTASAN korupsi di Indonesia kembali diuji. Di tengah persepsi publik bahwa praktik korupsi kian mengakar, langkah penegakan hukum justru dinilai melemah.
Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau yang akrab disapa Gus Yaqut, dilaporkan mendapatkan status tahanan rumah.
RAMADAN telah berlalu dan kini seluruh umat Islam di dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri.
PENGUNGKAPAN identitas terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Andrie Yunus menjadi angin segar.
Ramadan dengan puasanya dan Nyepi dengan catur brata penyepiannya adalah dua jalan berbeda yang sama-sama menuju pada penguatan sikap pengendalian diri.
DALAM minggu ini, ada dua momentum besar ujian kematangan toleransi bangsa kita, yaitu Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 1447 Hijriah.
TAK salah kiranya jika Transparency International menempatkan Indonesia di level rendah dalam pemberantasan korupsi sepanjang 2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved