Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
Di bawah perairan Teluk Beppu, Jepang, terdapat lapisan sedimen dan lumpur. Sepintas lumpur itu biasa-biasa saja. Namun, dalam endapan itu, tersimpan kisah tentang bagaimana perilaku manusia telah mengubah lingkungan di sekitar mereka.
Para ahli menyebut zaman ini sebagai era antroposen. Istilah ini merujuk pada zaman dimana manusia telah menjamah hampir seluruh pelosok Bumi, termasuk di kutub utara. Hal ini telah mengundang perdebatan di kalangan ahli. Apakah zaman Holosen yang dimulai 11.700 tahun lalu benar-benar telah digantikan oleh periode baru yang ditentukan oleh dampak perilaku manusia di Bumi.
Topik utama diskusi mereka adalah bagaimana mendokumentasikan cara kita (manusia) mengubah lingkungan dan mencemarinya, mulai dari plutonium yang berasal dari uji coba nuklir, hingga mengotorinya dengan mikroplastik.
Dua belas lokasi di seluruh dunia telah diusulkan sebagai lokasi penelitian dimana lonjakan kerusakan begitu nyata, termasuk lahan gambut di Polandia, terumbu karang Australia, dan teluk Beppu yang mirip cekungan di Oita barat daya Jepang.
Michinobu Kuwae, seorang profesor di Pusat Studi Lingkungan Laut Ehime, telah mempelajari daerah tersebut selama hampir satu dekade.
Dia mulai dengan penyelidikan tentang bagaimana perubahan iklim memengaruhi populasi ikan. Ia meneliti bagaimana lapisan sisik ikan yang tersimpan di sedimen teluk, dapat memberi petunjuk tentang keadaan masa lalu.
Baru-baru ini dia mulai mempertimbangkan lokasi tersebut (Teluk Bewppu) sebagai lokasi utama penelitian mengingat banyaknya ‘sidik jari antropogenik’, termasuk bahan kimia dan radionuklida buatan manusia, yang bertumpuk menjadi sedimen di teluk itu.
“Lapisan sedimen tersebut memungkinkan para ilmuwan untuk menentukan tanggal dan tingkat yang tepat dari batas Antroposen-Holosen," katanya kepada AFP.
“Pengawetan yang sempurna dalam sedimen itu adalah hasil dari beberapa karakteristik unik,” jelas Yusuke Yokoyama, seorang profesor di Institut Riset Atmosfer dan Kelautan Universitas Tokyo, yang telah menganalisis sampel inti dari kawasan tersebut.
“Dasar teluk turun dengan cepat dari garis pantai, menciptakan cekungan yang memerangkap material di kolom air dan "semacam menciptakan sup miso," katanya kepada AFP.
“Air dapat mengalir masuk, tetapi hanya bergerak kembali ke permukaan. Karena minim oksigen berarti tidak ada organisme yang mengganggu sedimen atau mengganggu endapan.”
Lonceng peringatan
"Ini seperti Baumkuchen, kue, setumpuk panekuk, dan Anda dapat menghitung panekuk tersebut untuk mengukur usianya yang tepat," dia menambahkan.
Selama ini, karang dianggap oleh sebagian orang sebagai benda untuk melihat jejak-jejak perilaku manusia. Bentuknya yang tumbuh berlapis-lapis seperti batang pohon dan menyerap unsur-unsur yang terlarut dalam air, termasuk sisa-sia dari uji coba nuklir.
Tapi, karang tidak bisa menangkap bahan yang tidak larut dalam air, seperti mikroplastik. Sedimen Teluk Beppu, sebaliknya, dapat menangkap segala sesuatu, mulai dari limpasan pupuk pertanian hingga endapan dari banjir bersejarah yang tercatat dalam dokumentasi resmi, serta sisik ikan dan plastik.
Temuan yang paling menarik, menurut Kuwae dan Yokoyama, adalah jejak dari serangkaian uji coba bom nuklir yang dilakukan melintasi samudra Pasifik dari tahun 1946 hingga 1963.
"Kami bisa mendeteksi semuanya. Karena Teluk Beppu terletak di hilir, kami dapat mengidentifikasi tanda-tanda tertentu dari pengujian tertentu," kata Yokohama,
Sampel inti yang dikumpulkan dari Teluk Beppu menunjukkan puncak plutonium yang berkorelasi dengan uji coba nuklir dan cocok dengan temuan serupa di karang di dekat Ishigaki.
Lokasi mana pun yang dipilih sebagai bahan penelitian diharapkan tetap menjadi sumber penting untuk memahami dampak manusia terhadap Bumi. Dan Kuwae berharap sebutan ‘Antroposen’ akan menjadi "lonceng peringatan" bagi umat manusia.
"Kerusakan lingkungan global, termasuk pemanasan global, berlangsung cepat. Kita akan berada dalam keadaan di mana bumi yang semula aman, kini rusak. Jika sekali hilang, kondisi ini tidak dapat lagi dipulihkan," tegasnya. (AFP/M-3)
Peneliti terkejut menemukan Gletser Hektoria di Antartika kehilangan separuh wilayahnya dalam waktu singkat. Simak penyebab "gempa gletser" dan ancaman kenaikan permukaan laut.
Peneliti Cornell University merilis peta global yang mengungkap 70% emisi lahan pertanian berasal dari sawah padi dan pengeringan lahan gambut.
Peneliti menemukan penurunan kadar garam di Samudra Hindia bagian selatan. Fenomena ini mengancam sistem sirkulasi laut global dan iklim dunia.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Studi cincin pohon pinus di Spanyol mengungkap anomali cuaca paling ekstrem sejak 1500-an. Ketidakstabilan curah hujan kini mencapai titik kritis.
Analisis mendalam Avatar: Fire and Ash sebagai metafora krisis iklim. Menghubungkan 'Bangsa Abu' dengan data kebakaran hutan global 2025-2026.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengajak santri Hidayatullah mencintai hutan melalui gerakan menanam pohon dan menyerahkan 1.015 bibit produktif.
Sekjen PSI sekaligus Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan ajaran Islam memiliki landasan teologis kuat untuk menjaga lingkungan dan hutan dalam perspektif ekoteologi.
Mendiktisaintek Brian Yuliarto dan MenLH Hanif Faisol Nurofiq sepakat perkuat kolaborasi kampus dan pemerintah dalam pengelolaan sampah nasional.
Dalam satu tahun terakhir, Delonix Hotel Karawang menjalankan program keberlanjutan terstruktur yang mengacu pada kerangka kerja berbasis sains dari EarthCheck.
Di tengah tekanan deforestasi, perubahan iklim, dan tuntutan pasar terhadap komoditas berkelanjutan pemerintah dan pelaku usaha kehutanan mulai menggeser paradigma pengelolaan hutan.
Kemajuan ilmu pengetahuan modern telah membawa banyak progres dalam pengelolaan kehutanan dan lingkungan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved