Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
Secara perdana, Departemen Pertanian Amerika Serikat (AS) menyetujui penjualan daging ayam hasil rekayasa genetika yang dikembangkan di laboratorium. Upside Foods dan Good Meat asal negara bagian California merupakan dua perusahaan pertama di AS yang sudah menuntaskan proses peraturan baru tersebut untuk disalurkan ke berbagai pasar.
Dilansir dari New York Post pada Kamis (22/6), Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) pada November 2022 telah menyatakan bahwa daging hasil rekayasa genetika produksi dua perusahaan tersebut aman untuk dikonsumsi.
Daging yang dikembangkan di laboratorium itu sebenarnya mengandung protein hewani. Akan tetapi, tidak seperti daging tradisional, sehingga daging buatan ini tidak melewati proses penyembelihan hewan.
Peraturan baru ini seketika mendapat respons dari para pendukung hak asasi hewan. Mereka mengklaim bahwa daging genetika ini merupakan alternatif daging konsumsi yang lebih etis atau beretika karena dianggap tidak menyiksa hewan.
CEO dan pendiri Upside Foods, Uma Valeti mengatakan bahwa langka baru ini meluncurkan era baru produksi daging yang bertujuan menghilangkan bahaya bagi hewan dan secara drastis mengurangi dampak lingkungan dari penggembalaan, penanaman pakan ternak, dan limbah hewan.
“Persetujuan ini secara fundamental akan mengubah bagaimana daging sampai ke meja kita. Ini adalah langkah besar menuju era baru di masa depan yang lebih berkelanjutan untuk mempertahankan pilihan dan kehidupan,” ujar Valeti.
Proses pembuatan daging ini, kata dia, lebih mudah dengan melibatkan pengumpulan sel dari hewan hidup atau sel yang telah dibuahi, untuk selanjutnya dihimpun di bank sel. Sel-sel tersebut kemudian dibudidayakan di dalam tangki baja dan diberi nutrisi yang serupa dengan yang dikonsumsi hewan.
Daging buatan itu kemudian dibentuk menjadi potongan yang serupa dengan daging tradisional, seperti filet, nugget, hingga sate. Pada 2020, Good Meat juga telah diberikan izin untuk memproduksi daging buatan serupa di pasar Singapura.
“Tapi jangan mencari daging baru ini di toko kelontong AS dalam waktu dekat karena ayam yang dibudidayakan jauh lebih mahal daripada daging dari unggas utuh yang dibudidayakan dan belum dapat diproduksi seperti dalam skala daging tradisional,” kata Ricardo San Martin selaku direktur Alt Meat Lab di University of California Berkeley.
Menghilangkan Skeptis
Chief Operating Officer Upside Upside, Amy Chen mengatakan produk ayam mereka sudah melalui proses masak sehingga konsumen yang ingin mengonsumsi daging tersebut hanya perlu dipanaskan.
“Meskipun kami mengakui bahwa saat ini masih banyak konsumen skeptis dan akan merasa mual jika harus mengonsumsi ayam yang dibudidayakan dengan rekayasa lab,” ungkapnya.
Sentimen itu bergema dalam jajak pendapat baru-baru ini yang dilakukan oleh The Associated Press-NORC Center for Public Affairs Research. Separuh dari orang dewasa AS mengatakan mereka tidak mungkin mencoba daging yang ditanam menggunakan sel dari hewan.
“Ketika diminta untuk memilih dari daftar alasan keengganan mereka, sebagian besar dari yang tidak mungkin mencobanya mengatakan bahwa daging itu terdengar aneh dan sebagian lainnya mengatakan daging itu tidak aman dikonsumsi,” jelasnya.
Menurut Chen, skeptis itu bisa dihilangkan dengan edukasi dan sosialisasi lebih lanjut. Dia mengatakan saat orang mengerti bagaimana daging tersebut dibuat, mereka lebih bisa menerima. “Begitu mereka mencicipinya, akan merasa yakin akan daging budidaya ini,” katanya.
Tak hanya itu, kendala pengembangan daging itu adalah soal harga. Ketersediaan daging hasil rekayasa genetika itu diperkirakan Chen tidak akan terjadi dalam waktu dekat karena sebagian besar disebabkan oleh tingginya biaya produksi. Namun, restoran-restoran ternama di AS telah membuat kesepakatan untuk menggunakan daging hasil rekayasa tersebut di restoran mereka.
Perusahaan Upside Foods menyebutkan, pesanan pertama yang diproses pihak mereka merupakan pesanan daging untuk restoran bintang tiga Michelin milik Chef Dominique Crenn di San Francisco, Bar Crenn. Sementara pesanan pertama perusahaan Good Meat akan dijual kepada koki selebriti Jose Andrés.
Secara global, saat ini sudah ada lebih dari 150 perusahaan yang berfokus pada daging rekayasa. Tidak hanya ayam tapi juga babi, domba, ikan dan sapi, yang menurut para ilmuwan memiliki dampak terbesar terhadap lingkungan. (M-3)
Dengan rentang harga yang terjangkau, yakni mulai dari Rp20.000 hingga Rp65.000, Gedong Heritage menyasar berbagai lapisan masyarakat, mulai dari anak muda hingga kalangan keluarga.
Hikiniku to Come secara literal berarti daging giling dan nasi, merefleksikan konsep freshly grilled hamburg yang dinikmati dengan nasi hangat yang mengepul.
Secara historis, sate bulayak merupakan makanan khas dari Kecamatan Narmada, Lombok Barat.
Bagi masyarakat Maluku Utara, Lalampa bukan sekadar makanan, melainkan tradisi yang tak terpisahkan dari momen kebersamaan.
Rumah Makan Padang Nan Lamak resmi dibuka di Jakarta Selatan. Sajikan rendang dan ayam goreng khas Solok dengan resep autentik Minang dan konsep made-to-order.
Bukan sekadar nasi kari biasa, menu ini dikenal dengan porsi melimpah, rasa kuah kari yang khas, dan harga yang ramah di kantong.
Penemuan batu granit merah muda di Antartika mengungkap massa raksasa tersembunyi di bawah es. Temuan ini memberi petunjuk penting tentang pergerakan gletser dan kenaikan permukaan laut.
Amerika Serikat bagian barat daya dilanda gelombang panas prematur yang memecahkan rekor. Phoenix hingga California siaga suhu ekstrem di pertengahan Maret.
Studi terbaru mengungkap suhu panas ekstrem kini membatasi aktivitas fisik manusia, terutama lansia. Simak wilayah yang paling terdampak dan risiko kesehatan yang mengintai.
Penelitian terbaru menunjukkan jamur patogen seperti Aspergillus berpotensi menyebar lebih luas akibat perubahan iklim dan resistensi obat, meningkatkan risiko infeksi pada manusia.
Ekspedisi CEFAS mengungkap rahasia laut dalam Karibia. Ditemukan gunung bawah laut, "blue hole" raksasa, hingga terumbu karang purba yang tak tersentuh perubahan iklim.
Penelitian terbaru di jurnal Nature mengungkap fakta mengejutkan. Serangga di wilayah tropis, termasuk Amazon, terancam punah karena tidak mampu beradaptasi dengan kenaikan suhu ekstrem.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved