Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
Sejarah mencatat bahwa bumi telah mengalami kepunahan massal sebanyak lima kali yang dimulai sejak ratusan juta tahun lalu. Para peneliti dari University of California-Riverside (UCR) dan Virginia Tech, Amerika Serikat mengungkapkan kepunahan massal pertama bumi terjadi sekitar 550 juta tahun lalu selama periode Ediakars atau sebelum era dinosaurus.
Penelitian yang didokumentasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) itu dengan tegas mengatakan jika perubahan iklim yang menyebabkan hilangnya ribuan spesies endemik setiap tahun terus meningkat, Bumi akan mengalami kepunahan massal yang keenam
Sebelum penemuan ini, kepunahan massal yang menyebabkan dinosaurus menghilang tercatat terjadi 66 juta tahun lalu pada akhir periode kapur (cretaceous). Kepunahan massal lainnya yang memusnahkan makhluk Bumi juga terjadi antara periode Permian dan Trias sekitar 252 juta tahun lalu.
Meski terdapat kejadian besar, seperti hilangnya kehidupan pada periode Ediakara, peneliti belum mengetahui dengan jelas penyebab dari kepunahan massal tersebut. Sebab, hilangnya persentase organisme yang hilang pada masa tersebut mirip dengan peristiwa yang tengah terjadi sekarang.
Para peneliti percaya, perubahan lingkungan merupakan penyebab utama hilangnya sekitar 80% dari semua makhluk pada periode Ediakara. Peneliti juga percaya bahwa makhluk Ediakara tersebut merupakan bentuk kehidupan multisel kompleks pertama di Bumi.
"Catatan geologi menunjukkan lautan dunia kehilangan banyak oksigen selama waktu kepunahan tersebut. Beberapa spesies yang bertahan hidup juga memiliki tubuh yang beradaptasi untuk lingkungan oksigen rendah," kata Chenyi Tu, ahli paleoekologi UCR dan salah satu penulis studi tersebut, dikutip dari situs resmi UCR.
Berbeda seperti kepunahan massal yang terjadi ratusan juta tahun lebih awal, peristiwa pada periode Ediakara lebih sulit untuk didokumentasikan karena mayoritas makhluk yang musnah bertubuh lunak dan tidak terawetkan dengan baik dalam catatan fosil.
"Kami mencurigai peristiwa semacam itu, tetapi untuk membuktikannya kami harus mengumpulkan basis data bukti yang sangat besar," kata Rachel Surprenant, ahli paleoekologi UCR dan rekan penulis studi.
Catatan geologi menunjukkan lautan dunia kehilangan banyak oksigen selama waktu kepunahan tersebut. Tim peneliti kemudian mendokumentasikan hampir semua lingkungan, ukuran tubuh, pola makan, kemampuan bergerak, dan kebiasaan hewan Ediakara yang diketahui. Akan tetapi mereka masih perlu membuktikannya lebih lanjut dengan mengumpulkan berbagai data.
Melalui studi ini, para peneliti juga berusaha untuk menyanggah pihak yang menganggap bahwa kehilangan besar seluruh kehidupan pada akhir periode Ediakara bukan kepunahan massal. Beberapa pihak percaya bahwa peristiwa tersebut berkaitan dengan seperti kedatangan predator dan terdapat perubahan perilaku hewan.
Kami dapat melihat distribusi spasial hewan dari waktu ke waktu, jadi kami tahu mereka tidak hanya pindah ke tempat lain atau dimakan, mereka mati. Kami telah menunjukkan penurunan nyata dalam kelimpahan organisme," kata Chenyi.
Asal-usul hewan
Banyak pihak menganggap berbagai makhluk yang hidup pada periode Ediakara memiliki bentuk yang aneh dan sangat berbeda dengan hewan saat ini. Salah satu makhluk yang hidup pada periode Ediakara adalah Obamus coronatus.
Makhluk ini berbentuk cakram yang dinamai sesuai nama mantan Presiden AS Barack Obama. Selain itu, terdapat Attenborites janeae. Makhluk ini berbentuk bulat telur kecil menyerupai kismis dengan mengambil nama naturalis Inggris, Sir David Attenborough.
"Hewan-hewan ini adalah percobaan evolusi pertama di Bumi, tetapi mereka hanya bertahan sekitar 10 juta tahun. Ini merupakan waktu yang sangat singkat dalam istilah evolusi," kata Mary Droser, ahli paleoekologi UCR dan mantan mahasiswa pascasarjana yang sekarang di Virginia Tech, Scott Evans.
Para peneliti pun percaya bahwa perubahan lingkungan dapat menghancurkan kehidupan di Bumi meskipun belum diketahui penyebab kadar oksigen menurun begitu drastis pada akhir zaman seperti periode Ediakara. Perubahan tersebut juga telah mendorong semua kepunahan massal, termasuk yang tengah terjadi saat ini.
”Tidak ada satu pun kehidupan yang kebal terhadap kepunahan. Kita dapat melihat dampak perubahan iklim terhadap ekosistem dan harus mencatat dampak yang merusak saat kita merencanakan masa depan," kata Boan ahli geologi UCR, Phillip Boan.(M-3)
Lautan dunia menyerap panas ekstrem tahun 2025, memecahkan rekor selama sembilan tahun berturut-turut. Simak dampak mengerikannya bagi iklim global.
Peneliti Oxford mengungkap bagaimana bentuk garis pantai dapat menjebak spesies laut saat suhu memanas. Garis pantai Timur-Barat tingkatkan risiko kepunahan.
PERINGATAN mengenai ancaman perubahan kiamat iklim kembali menguat seiring dengan ditemukannya fenomena geologi yang tidak biasa di Greenland.
Industri minyak dan gas (migas) global kini berada di bawah mikroskop regulasi lingkungan yang semakin ketat, terutama terkait emisi gas rumah kaca.
Studi terbaru mengungkap bagaimana pemanasan global di zaman Paleogen mengubah pola hujan menjadi tidak menentu. Apakah ini gambaran masa depan Bumi?
Penelitian terbaru mengungkap bagaimana retakan es Arktik dan polusi ladang minyak memicu reaksi kimia berbahaya yang mempercepat pencairan es kutub.
Bonnie Triyana meresmikan pameran revolusi di Jakarta yang menghadirkan narasi baru sejarah kemerdekaan lewat karya seni dan perspektif kemanusiaan.
DI tengah pesatnya transformasi digital saat ini, pergeseran juga terjadi di ruang narasi sejarah. Kondisi tersebut membuat narasi sejarah bertransformasi di ruang digital.
Sutradara Aldo Swastia menyebut tidak ada patokan pasti dalam menentukan batas antara fakta dan fiksi yang harus dikembangkan terutama dalam film bertema sejarah atau kepahlawanan.
Penilaian terhadap Pak Harto harus dilakukan dengan pendekatan akademik yang berimbang,
Di 2020, Sumardiansyah menolak keras kebijakan Kemendikbudristek yang ingin menjadikan sejarah sebagai mata pelajaran pilihan di SMA dan menghapuskannya di SMK.
Koleksi bersejarah ini terdiri dari sekitar 28.000 artefak fosil yang ditemukan Eugène Dubois di Trinil pada 1891–1892.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved