Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
Foto bisa menjadi perekam zaman. Fotografi, dari dekade-dekade lampau telah melalui evolusinya. Karya fotografi menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah. Di era kolonial misalnya, karya fotografi menjadi sumber terbaik untuk melihat ke belakang perjuangan menuju kemerdekaan, hingga sebagai wujud ekspresi seni era modern.
Perjalanan fotografi dari masa ke masa di Asia Tenggara salah satunya dapat dilihat di pameran berjudul Living Pictures Photography in Southeast Asia. Pameran tersebut berlangsung pada 2 Desember 2022 hingga 20 Agustus 2023 di Galeri Nasional Singapura. Di sana pengunjung dapat melihat lebih dari 300 karya fotografi yang membentang selama kurun periode 150 tahun.
Pameran dibuka dengan karya-karya periode awal kemunculan fotografi sekitar abad ke-19, ketika teknologi fotografi dibawa oleh para kolonis Eropa. Bab awal fotografi ini menghasilkan karya-karya foto etnografi dan lanskap Asia Tenggara.
Baca juga : Candi Borobudur dan Merapi Jadi Objek Fotografer Dunia Ikut Pameran
Di bagian ini, potret-potret warga Asia Tenggara seperti seri potret warga Vietnam dari berbagai kelas dan profesi yang direkam Emile Gsell pada medio 1800-an muncul. Juga foto warga Eropa di depan rumah Attap di suatu hutan oleh Rudolf Jagerspacher.
“Bagian ini secara kritis mengkaji hubungan keterlibatan fotografi dengan imperialisme. Banyak dari foto-foto ini dibuat oleh fotografer Eropa untuk pasar Eropa. Mereka menyajikan sudut pandang yang berbeda dan memuaskan keingintahuan pemirsa yang ingin melihat koloni kekuatan dunia yang sangat jauh. Di luar perannya sebagai suvenir perjalanan, foto-foto ini juga digunakan untuk mempromosikan pariwisata dan investasi, dan terkadang sebagai bahan penelitian dan pendidikan,” bunyi kuratorial yang dihadirkan dalam pameran, ketika Media Indonesia berkunjung ke pameran tersebut, Jumat, (2/12).
Pada era ini, potret Indonesia yang masih di bawah penjajahan Belanda banyak terekam lewat karya bertema lanskap Bali. Mulai dari para perempuan dan laki-laki beserta pakaian adat mereka, hingga kegiatan memanen padi.
Baca juga : Pameran Seni Erlangga Art Awards 2022 Telah Dibuka
Foto-foto tersebut merupakan karya Margaret Mathilde ‘Thilly’ Weissenborn yang menampilkan citra mooi indie atau aliran seni Hindia Belanda di abad ke-19. Foto mooi indie bukan saja dihasilkan Thilly. Arsip lain, juga kental dengan nuansa mooi indie, di antaranya foto yang menunjukkan lanskap Kawah Manoek, Jawa Barat, hingga foto kereta api yang melaju di atas rel di Sumatera Barat. Selain itu, eksotisme dan keindahan Hindia Belanda masa itu juga muncul di banyak karya lukis.
Di sebuah dinding berlatar warna ungu, dua foto dengan bingkai emas terpampang. Potret lelaki yang duduk tegak dengan perhiasan emas di tubuhnya. Foto tersebut adalah potret Sri Sultan Hamengkubuwono VI dan permaisuri Ratu Kencana. Dua potret ini masih masuk dalam periode arsip kolonial, dengan Woodbury & Page tercatat sebagai fotografer. Mereka ditunjuk oleh Sultan dan mendapat imbalan komersial atas karyanya.
Di bagian selanjutnya, In Real Life, momentum yang terekam tentang Indonesia adalah pada periode kemerdekaan dan setelahnya, 1945–1949. Mulai dari peristiwa monumental saat Soekarno dan Hatta membacakan proklamasi, hingga peristiwa kecil ketika Hatta berhenti di Stasiun Manggarai untuk memberikan pidato singkat dalam perjalanannya menuju Sumatera dari Yogyakarta.
Baca juga : Alicia Keys dan Swizz Beatz Selenggarakan Pameran 'Giants' di Brooklyn Museum
Foto-foto pada periode ini direkam oleh agensi berita foto independen pertama Indonesia, Indonesia Press Photo Service (IPPHOS). IPPHOS didirikan oleh kakak-beradik Alexius Impurung Mendur dan Frans Soemarto Mendur serta kakak-beradik Justus dan Frans Umbas, Alex Mamusung, dan Oscar Ganda. Kebanyakan foto yang dipajang juga merupakan hasil jepretan mereka.
Sementara itu, di belahan Asia Tenggara lain, juga terekam karya foto yang lebih bersifat dokumenter berita. Seperti foto ikonik di peristiwa perang Indochina di Vietnam ketika tentara menodongkan senjata di kepala seseorang, hingga foto anak-anak kecil yang berlarian di antara tentara.
Subyek Baru
Baca juga : Pameran 'Jalur Rempah' Telusuri Jejak Komoditas Utama Nusantara
Pada era modern, atau bisa disebut sejak 1970-an, fotografi dipandang bukan lagi sebatas cara untuk merekam momentum penting. Namun, fotografi dieksplorasi yang disilangkan dengan disiplin seperti senirupa hingga seni performans. Banyak kemudian para seniman bereksperimen dengan medium fotografi untuk mencipta karya seni, termasuk bagaimana mereka merekam diri. ciri tersebut yang dimunculkan pada bagian akhir pameran tersebut.
“Fotografer menjadi lebih reflektif, sering mengarahkan kamera mereka ke dalam. Fotografi tidak lagi dikhususkan untuk acara atau orang penting; sebaliknya, itu adalah tempat untuk refleksi dan eksperimen, ruang untuk memahami berbagai hal. Proses menjadi sama pentingnya dengan hasilnya.”
Potret seniman seni pertunjukkan Indonesia Melati Suryodarmo juga menjadi salah satu yang masuk dalam bagian ini. Foto dengan ukuran gigantik itu menunjukkan salah satu bagian pertunjukkan Mel saat dirinya menampilkan Exergie Butter Dance Revisited. Isabel Mathaeus, sebagai fotografer, diarahkan Mel untuk menangkap ekspresi dan gerak saat ia tampil dan menghasilkan karya foto yang ekspresif lewat mimik muka, gerak tubuh, dan mentega yang menjadi pijakan kaki Mel.
Baca juga : Startup Indonesia Tembus Emerging Enterprise Award di Singapura
(M-4)
KEBIJAKAN kenaikan harga tiket masuk Museum Nasional Indonesia mendapat kritikan tajam Sejarawan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR), Edy Budi Santoso.
Ketiga destinasi wisata sejarah tersebut adalah Museum Seni Rupa dan Keramik, Museum Wayang, serta Museum Tekstil.
Selama pengelola museum masih menerima dana dari APBN, masyarakat tidak seharusnya dibebani biaya tinggi untuk mengakses fasilitas negara.
Kenaikan tarif Museum Nasional dari sebelumnya yang sebesar Rp25.000 merupakan langkah krusial untuk memenuhi standar pemeliharaan internasional.
Sebagai lembaga yang dikelola pemerintah, Museum Nasional mengemban tanggung jawab moral untuk mempermudah akses pendidikan bagi warga negara.
Fosil legendaris Homo erectus atau yang dikenal luas sebagai Java Man kini telah resmi dipamerkan untuk publik di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.
Perhelatan Inacraft 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC) bukan sekadar ajang pameran kriya tahunan.
Bendera inovasi industri manufaktur Indonesia berkibar di panggung global setelah TRK Valves tampil sebagai satu-satunya perwakilan industri manufaktur nasional dalam ajang LNG 2026.
MegaProperty Expo, Megabuild Indonesia, dan Keramika Indonesia 2026 ditargetkan menjaring sekitar 50 ribu pengunjung.
Salah satunya yang paling diminati pengunjung adalah AR Treasure Hunt, sebuah pengalaman eksplorasi ruang berbasis augmented reality.
IMMF CONNECT 2026 ditargetkan menghadirkan sekitar 800 eksibitor dan 15.000 pengunjung dari 20 negara, termasuk Jerman, Italia, Korea Selatan, hingga Amerika Serikat.
Konsumen dan korporasi kini tidak hanya mencari vendor atau destinasi, tetapi mitra strategis yang memahami konteks dan memberikan pengalaman berdampak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved