Headline

Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.

Industri Pameran Sarat Dampak Lingkungan dari Emisi hingga Penggunaan Karpet, Ini Antisipasi IEE Series 2026

Iis Zatnika
06/3/2026 15:02
Industri Pameran Sarat Dampak Lingkungan dari Emisi hingga Penggunaan Karpet, Ini Antisipasi IEE Series 2026
Karya Repair Project yang mengubah sampah plastik Sungai Citarum menjadi aneka jenis material dipamerkan di Sustainability Corner IEE Series 2025.(Dok Sustability Corner)

Para pelaku industri meeting, incentive, convention, exhibition (MICE), terutama pameran wajib mengantisipasi dampak yang dihasilkannya terhadap lingkungan. Dalam kegiatan pameran, kegiatan, pengisi dan pengunjung dipastikan menyumbang emisi karbon dan menghasilkan sampah.  

Demikian terungkap dalam situs Kementerian Pariwisata. Disebutkan, kini terdapat peningkatan kesadaran dan komitmen untuk meminimalisir dampak kerusakan yang dihasilkan industri pameran. Sejumlah antisipasi dilakukan, dari hal paling sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, menggunakan produk daur ulang, hingga transformasi menggunakan energi ramah lingkungan. 

"Apabila harus terbang menggunakan pesawat, diusahakan memilih penerbangan langsung yang penggunaan bahan bakarnya lebih efisien. Namun jika hal itu tidak bisa dilakukan, maka dapat mengambil opsi carbon offset, yaitu menetralisir karbon yang dihasilkan dengan membayarnya," demikian dikutip dalam tulisan itu. 

Terkait sampah, ternyata produksi sampah sebuah pameran itu terbilang tak sedikit. Dilansir dari Atlantis Press, data International Exhibition Alliance di Inggris pada 2001 menunjukkan data, produksi sampah rerata sebuah pameran mencapai 2.900 ton. Biaya pengelolaan sampah dari 823 pameran di UK selama tahun itu mencapai Rp10,9 triliun. 

"Untuk mengurangi produksi sampah di sebuah pameran, beberapa organizer, exhibitor dan stand contractor mulai menggunakan material lokal dan dapat didaur ulang, mengurangi penggunaan plastik serta menggunakan modular sistem ketika membangun stan pameran." 

Selain itu, pemanfaatan teknologi juga berkontribusi dalam mewujudkan konsep pameran yang ramah lingkungan. Seperti penggunaan LED sehingga latar di arena pameran tak lagi perlu dicetak, serta menggunakan lampu hemat energi untuk penerangan.

Pasalnya, konsumsi energi dalam sebuah pameran ini juga tak murah. Hasil riset tersebut juga menjelaskan bahwa biaya konsumsi energi di sebuah pameran mencapai kurang lebih 10% dari operation income yang diterima oleh organizer. Tak ayal beberapa gedung pameran yang dibangun beberapa tahun belakangan telah mempertimbangkan aspek konsumsi energi dalam rancang bangun. Mulai dari memaksimalkan sirkulasi udara sampai penggunaan pencahayaan alami. 

Selain itu, selayaknya lokasi di sekitar gedung pameran juga dibekali dengan fasilitas pendukung seperti ketersediaan akomodasi, area makanan dan minuman, juga konektivitas dari dan ke transportasi publik. Pada beberapa venue favorit para organizer, semua fasilitas tersebut dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Fasilitas-fasilitas itu membantu organizer dalam mengemas acara, melainkan juga mengurangi emisi karbon dalam sebuah perhelatan pameran.

Upaya serupa diimplementasikan dalam rangkaian pameran Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series 2026 yang akan diawali dengan penyelenggaraan IEE Series Balikpapan 2026 di BSCC Dome pada 10–12 Juni 2026 mendatang.  

Senior Event Manager PT Pamerindo Indonesia Hanung Hanindito,  penyelenggara pameran itu,  di Jakarta, Kamis (6/3) menyatakan pihaknya memprioritaskan pengurangan emisi karbon, limbah, serta penggunaan sumber daya secara berlebihan. 

"Karena pameran ini merupakan ekspansi regional dari pameran di Jakarta yang berhasil memenuhi target 17 SDGs, maka konsep-konsep itu dibawa ke Balikpapan. Konsep keberlanjutan dan transisi menuju industri berkelanjutan, menjadi tema acara pameran, forum diskusi dan kolaborasi. Selain itu, pameran juga menampilkan berbagai teknologi hijau dan rendah emisi, seperti solusi efisiensi energi dan inovasi teknologi yang mendukung pengurangan dampak lingkungan," kata Hanung. 

Selain dalam teknis penyelenggaraan pameran, lanjut Hanung, juga diterapkan praktik ramah lingkungan dan prinsip ekonomi sirkular, misalnya melalui penggunaan kembali material dan upaya pengurangan limbah. "IEE Series juga menghadirkan program edukasi dan forum diskusi yang meningkatkan pemahaman para pelaku industri mengenai pentingnya keberlanjutan. Perlu dipahami juga, penerapan prinsip keberlanjutan juga akan memperkuat daya saing perusahaan di tingkat global." 

Di arena pameran IEE Series 2025, praktik keberlanjutan terlihat dari tempat sampah yang terbagi atas kategori organik, nonorganik, serta sampah B3 yang disediakan di seluruh area serta pengolahan limbah-limbah pascaacara bekerjasama dengan Repair Project serta Rappo. 

Repair Project telah dikenal dengan kiprahnya mengubah sampah plastik Sungai Citarum menjadi papan tahan lama yang kemudian menjadi bahan plakat, podium panggung, hingga furnitur. Berbagai produk yang dihasilkan itu digunakan di area pameran. Sementara, Rappo akan mengolah sisa materi pameran seperti banner, menjadi merchandise dan decking-tiles. Sementara, sambaph organik dari sisa makanan akan menjadi bahan bako maggot yang nantinya bisa menjadi pakan ternak dan pupuk.  dalam pengelolaan aneka jenis sampah yang dihasilkan. 

Selain itu, dilakukan pula penghematan pengggunaan karpet. Sejak 2023, ketika konsep hijau mulai diterapkan, Pamerindo berusaha mengedukasi perusahaan pameran untuk mengurangi sebisa mungkin karpet. "Lebih dari sepertiga kebutuhan karpet bisa kami kurangi, untuk pameran yang meyasar pelaku bisnis seperti kali ini mungkin lebih mudah, namun untuk yang bersifat gaya hidup masih perlu edukasi yang lebih intensif."

Pasalnya, kata Hanung, karpet yang menjadi alas area pameran, bersifat sekali pakai. Jika disumbangkan pun dinilai kurang pantas, sehingga menghasilkan limbah yang sangat banyak. 

Pada pameran di Balikpapan juga akan dilakukan lokakarya dan pelatihan teknis pada tenaga profesional lokak, termasuk kaitannya dengan penerapan standar keselamatan dan keberlanjutan di sektor pertambangan, konstruksi dan migas. Pameran terdiri dari tiga topik yaitu Mining Indonesia, Construction Indonesia, dan Oil & Gas Indonesia. Pameran akan menempati area seluas 8,500 meter persegi,  dengan partisipasi sekitar 60 pelaku sektor pertambangan, konstruksi, serta minyak dan gas. 

Berkantor pusat di London, Inggris, pihak Informa Markets yang menaungi Pamerindo telah menerbitkan standar prosedur penyelenggaraan pameran berkelanjutan yang kini menjadi panduan pameran di Indonesia. Komitmen itu menghasilkan penggunaan besek bambu untuk wadah makan siang, penyediaan dispenser air minum, hingga kalkulasi dampak yang dihasilkan. (X-8)

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Iis Zatnika
Berita Lainnya