Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
Para peneliti menemukan bahwa orang-orang tertentu dapat menarik perhatian nyamuk karena aroma kulit mereka, yaitu jenis orang yang menghasilkan banyak bahan kimia tertentu pada kulit mereka dan mengeluarkan bau. Selain itu, nyamuk juga bisa dikatakan 'setia' dengan darah manusia yang menjadi favorit mereka dari waktu ke waktu.
"Jika Anda memiliki kadar zat ini yang cukup tinggi di kulit, akan menjadi orang yang paling sering terkena gigitan nyamuk pada saat piknik di luar ruangan," kata Leslie Vosshall, penulis studi dan ahli saraf di Rockefeller University, New York, seperti dilansir dari New York Post pada Kamis (20/10/).
"Ada banyak kemungkinan jawaban tentang siapa yang akan lebih sering digigit, tetapi banyak klaim yang tidak didukung dengan bukti kuat," lanjut Vosshall.
Penelitian yang diterbitkan pada Selasa (18/10) di Jurnal Cell ini menguji daya tarik bagi nyamuk, seorang penulis studi ini, Maria Elena De Obaldia merancang eksperimen dan menjadikan bau orang satu sama lain sebagai sampel uji dan peserta penelitian.
Mereka mengundang 64 sukarelawan dari universitas dan daerah sekitarnya untuk mengenakan stoking nilon di sekitar lengan bawah untuk mendeteksi bau kulit mereka. Stoking dimasukkan ke dalam perangkap terpisah di ujung tabung panjang, kemudian puluhan nyamuk dilepaskan.
“Nyamuk-nyamuk itu pada dasarnya akan menyerang dan mengerumuni objek yang paling menarik perhatian mereka, itu langsung terlihat jelas,” kata De Obaldia.
Sementara itu untuk memperkuat penelitian, para ilmuwan mengadakan turnamen round-robin dan berakhir dengan kesenjangan yang mencolok, daya tarik nyamuk terbesar tercatat mencapai 100 kali lebih menarik bagi nyamuk daripada alasan lainnya.
Percobaan tersebut menggunakan nyamuk jenis Aedes aegypti yang menyebarkan penyakit seperti demam kuning, Zika, dan demam berdarah. Vosshall mengharapkan hasil serupa bisa terjadi pada nyamuk jenis lain. Akan tetapi untuk mengonfirmasi validitas hasilnya, akan membutuhkan lebih banyak penelitian.
Para peneliti juga menemukan faktor umum terkait daya tarik bagi nyamuk adalah orang yang memiliki kadar asam tinggi pada kulit mereka. Vosshall berganggapan bahwa molekul berminyak ini adalah bagian dari lapisan pelembab alami kulit manusia dan orang-orang memproduksinya dalam jumlah yang berbeda. Sedangkan bakteri sehat yang hidup di kulit akan memakan kadsr asam tersebut dan menghasilkan bagian dari profil bau kulit seseorang.
Seorang ahli saraf yang berasal dari University of Washington, Jeff Riffell mengungkapkan penelitian ini dapat membantu ilmu pengetahuan menemukan metode baru untuk mengusir nyamuk
"Mungkin ada cara untuk mengutak-atik bakteri kulit dan mengubah bau menggoda manusia tersebut. Namun, mencari cara untuk melawan nyamuk tidaklah mudah, karena makhluk itu telah berevolusi menjadi "mesin penggigit yang ramping dan kejam," kata Riffell.
“Nyamuk itu tangguh. Mereka memiliki banyak rencana cadangan untuk dapat menemukan kita dan menggigit kita.” kata Vosshall. (M-2)
BACA JUGA: Tips Hadapi Nyamuk Bandel saat Musim Hujan
KASUS demam berdarah dengue (DBD) di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, sejak Januari hingga Februari 2026 tercatat sebanyak 30 orang positif.
Kasus DBD pada Januari 2026 yakni dua kasus dari wilayah kerja Puskesmas Selatpanjang, satu kasus dari Puskesmas Alai dan Puskesmas Kedabu Rapat.
Chikungunya merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus.
"Nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus menjadi vektor utama. Keberadaan dan penyebarannya yang meluas menjadikan arbovirus sebagai ancaman serius,”
DOKTER spesialis penyakit dalam dr. Dirga Sakti Rambe menyebut terdapat penjelasan mengapa kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia sulit sekali dihentikan.
Virus ini dapat masuk ke tubuh manusia lewat perantara nyamuk Aedes aegypti maupun Aedes albopictus.
Kementerian Kesehatan menerapkan teknologi Wolbachia untuk menekan penyebaran demam berdarah dengue (DBD).
Data menunjukkan bahwa kelompok umur 15-44 tahun menyumbang 42% dari total kasus dengue, sementara 41% kematian justru ditemukan pada anak-anak usia 5-14 tahun.
Case fatality rate (CFR) atau jumlah angka kematian karena demam berdarah dengue (DBD) menurun signifikan dari 2021 di kisaran 0,9%, menjadi 0,4% pada 2025.
Kawasan Asia Tenggara telah lama menjadi episentrum global penularan dengue. Berdasarkan data terbaru, hampir 400.000 kasus dilaporkan di wilayah ini sepanjang 2025.
Indonesia mencatatkan capaian signifikan dalam upaya pencegahan angka kematian dari kasus demam berdarah (DBD).
Selain DBD, Rano juga menyoroti masih tingginya kasus tuberkulosis (TBC) di Jakarta. DKI Jakarta masih berada di peringkat delapan nasional untuk kasus TBC.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved