Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis penyakit dalam dr. Dirga Sakti Rambe menyebut terdapat penjelasan mengapa kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia sulit sekali dihentikan.
Ada 5 alasan yang menyebabkan dengue masih sulit dihapuskan dari Tanah Air. Pertama, iklim tropis sepanjang tahun ideal bagi nyamuk Aedes. Kedua yakni urbanisasi cepat dan sanitasi buruk banyak tempat nyamuk berkembang biak.
"Kemudian ketiga ada juga mobilitas tinggi antarkota atau pulau yang menyebabkan virus cepat menyebar. Keempat, pemerintah juga mengakui masih lemahnya deteksi dini dan pelaporan penanganan terlambat," kata Dirga dalam acara pertemuan Nasional program dengue 2025, Kamis (19/6).
Terakhir yakni 4 serotipe dengue bersirkulasi risiko infeksi sekunder dan dengue berat meningkat dan bersirkulasi di Indonesia.
Sayangnya persepsi di masyarakat melihat dengue bukan sebagai penyakit yang tidak parah karena sebagian besar masyarakat berpersepsi dengue ada obatnya. Bahkan bila terjadi wabah pun persepsi masyarakat bisa meningkat dan turun kembali jika wabah telah mereda.
"Di Indonesia ini ada hyper awareness phenomenon atau penyakit yang dianggap biasa saja. Padahal kita sudah punya semuanya untuk penanggulangan dengue," ungkapnya.
Adanya beban penyakit yang tinggi, pengetahuan tentang dengue sudah dipahami oleh lapisan masyarakat. Keterlibatan media juga sudah sangat luas dan mendalam mulai dari pencegahan, antisipasi, pengobatan, dan sebagainya.
"Pemberitaan di media massa TV, majalah, hingga koran juga sering dan aksi atau pemerintahnya itu kerja kok pemerintah pusat pemerintah daerah semuanya kan terus ada upaya-upaya," ujar dia.
"Jadi semua orang tahu tapi di lapangan itu terjadi paradoks, dengue dianggap penyakit yang biasa saja sehingga tadi ujung-ujungnya semuanya serba terlambat," pungkasnya.
Diketahui bahwa Indonesia menjadi salah satu episentrum dengue dunia karena sekitar 70% beban dengue global berada di Asia Tenggara dan jumlah kematian dengue tertinggi di Asia Tenggara secara absolut hampir selalu berasal dari Indonesia. Sehingga Indonesia merupakan salah satu negara dengan kematian dengue tertinggi di dunia. (H-3)
Selain DBD, Rano juga menyoroti masih tingginya kasus tuberkulosis (TBC) di Jakarta. DKI Jakarta masih berada di peringkat delapan nasional untuk kasus TBC.
Kasus leptospirosis di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, meningkat tajam sepanjang 2025. Sebaliknya, kasus demam berdarah dengue (DBD) justru mengalami penurunan.
ECDC mencatat lebih dari 5 juta kasus demam berdarah dengue (DBD) secara global sepanjang Januari hingga Desember 2025.
Vaksin yang sedang diuji adalah V181-005, sebuah formulasi baru yang berpotensi memberikan perlindungan yang lebih cepat dan efisien.
Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), selama Januari hingg 30 Oktober 2025 angka demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia mencapai 131.393 kasus.
Kementerian Kesehatan memperkuat kewaspadaan terhadap peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) di musim hujan.
DINAS Kesehatan Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, bersama Puskesmas Lewoleba melakukan tindakan pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kelurahan Lewoleba Barat, Selasa (18/11).
RUMAH Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah Kota Batam mencatat 79 pasien terdiagnosis Demam Berdarah Dengue (DBD) sepanjang 2025.
KASUS demam berdarah dengue (DBD) di Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, masih terus mengalami peningkatan.
Meski kasus DBD dan kematian di Klaten tahun ini menunjukkan tren penurunan yang siginifikan, warga masyarakat diimbau untuk tetap waspada.
"Kasus DBD yang terjadi pada awal bulan Januari hingga September 2025 selama ini mengalami peningkatan, karena masyarakat masih abai membersihkan lingkungan sekitar."
Pada 2025 Januari hingga Juni terdapat 268 kasus DBD. Warga diminta waspada dan melakukan. gerakan kebersihan lingkungan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved